Love Story

Sendiri, Melajang di Antara yang Bukan Lagi Lajang

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 14/08/2020 17:39 WIB
'Menjadi satu-satunya yang masih melajang memang bukan perkara mudah. Kehilangan sudah pasti, tapi saya harus mengerti. Semakin tua, kita semakin sendiri.' 'Menjadi satu-satunya yang masih melajang memang bukan perkara mudah. Kehilangan sudah pasti, tapi saya harus mengerti. Semakin tua, kita semakin sendiri.'(Diolah dari iStock)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kau tahu rasanya sendiri melajang di antara mereka-mereka yang sudah berkeluarga? Rasanya seperti menjadi orang asing.

Nama saya Sarita. Di usia yang menginjak 32 tahun ini, saya masih saja asyik mencari sebongkah rupiah dan sok-sok an menggapai karier serta impian yang hanya setinggi pohon kelapa.

Hari itu, saya melangkah masuk ke salah satu kedai legendaris di bilangan Braga, Bandung. Tak sabar rasanya ingin menceritakan lika-liku kehidupan pada teman satu geng. Sebelum pintu masuk, lihat ke kanan, ya. Gue udah di situ. Tulis salah seorang kawan di grup WhatsApp kami.


Aha! Langsung saya temukan wajah-wajah yang sudah tak asing lagi. Izinkan saya untuk memperkenalkan mereka terlebih dahulu.

Lannia, seorang ibu satu anak yang dulunya manja dan menyebalkan. Apa saja yang diinginkannya harus selalu diikuti. Tapi, tanpa ibu rumah tangga yang satu ini, kerumunan kami mungkin akan terasa begitu sepi.

Di depan saya ada Ara. Ibu satu anak yang paling tomboi dan galak di antara kami. Setiap bicara, suaranya selalu lantang.

Saya menyayangi Ara. Saya juga menyayangi bayi laki-laki kecil yang sedang digendongnya. Bayi itu menjadi hadiah di hari ulang tahun kami-yang kebetulan berbarengan-pada 2019 lalu.

Di kursi paling ujung ada Mangi. Oh, dia adalah yang paling senior di dunia 'peribu-ibuan' kami. Memutuskan menikah sejak masih duduk di bangku kuliah, kini ada dua bocah yang selalu mengintil di belakangnya.

Dan, di samping saya, ada Runi. Perempuan paling serius dan visioner di antara kami. Sehari-hari bekerja sebagai pekerja NGO cum seorang aktivis yang selalu mengingatkan tentang pentingnya air bersih.

Runi datang dengan semringah. Dia memamerkan perutnya yang sudah mulai membesar karena kandungannya yang sudah berusia lima bulan. "Kalau dipakai jalan gini, badan rasanya berat banget, nih, sekarang," keluh Runi.

Sementara saya? Siapa saya? Ah, hanya seorang perempuan lajang yang sok sibuk mengejar karier lalu pura-pura lupa mencari jodoh. Dan, seorang perempuan yang sudah kebal ditanya 'kapan nih nyusul?'. Bagaimana mau menyusul? Jangankan suami, kekasih pun masih tanda tanya.

Ilustrasi Teman WanitaIlustrasi. (AdinaVoicu/Pixabay)

"Eh, lo beli earmuff buat Rana di mana? Gue mau bawa Hira ke Medan, nih, soalnya. Bingung milih yang bagus kayak gimana."

"Gue, sih, beli earmuff yang preloved. Tapi masih bagus, kok."

"Eh, Runi, nanti lo pasti ngerasain betapa melelahkannya bangun tengah malam pas si bayi bangun."

"Gue udah mulai beli buku-buku soal ngurus bayi lho ini sekarang. Ada rekomendasi buku lain, enggak?"

"Meski hamil, tapi lo jangan diam aja ya, Run. Yoga, kek. Ngapain, kek."

"Awal-awal tuh ASI gue susah banget keluar. Stres kali, ya?"

"Gue sih waktu itu belajar pijat payudara buat ngeluarin ASI."

"Eh, nanti kalau anak lo udah mulai bisa jalan, itu bakal lebih susah lagi. Gue aja dulu....."

"Ngi, gimana ya caranya biar suami enggak ngeselin kalau kita lagi sibuk ngurus anak?"

Dan, blablabla. Kalimat-kalimat soal suami, proses melahirkan, tips mengurusi bayi, dan tetek bengek soal kehidupan rumah tangga lainnya mengudara sepanjang hampir tiga jam pertemuan.

Sementara, saya? Mulut saya kelu.

Tak tahu harus bicara apa. Saya hanya bisa tersenyum dan memperhatikan mereka berbicara soal hal-hal yang sama sekali tidak saya pahami. Mereka saling berbagi tips, saya hanya bisa jadi penonton. Padahal hati ini ingin sekali berkisah, meski, yah, memang bukan perkara keluarga dan anak.

Beberapa kali mulut kecil saya mencoba membuka perlahan. Beberapa kali pula saya mencoba menarik napas, ingin bersuara. Tapi upaya itu selalu tertahan. Ia tersela oleh--lagi-lagi--obrolan tetek bengek dunia seorang 'ibu rumah tangga'.

Ah, siapa mereka? Benarkah mereka Lannia, Ara, Mangi, dan Runi, kumpulan perempuan yang dulu selalu menjadi tempat saya berkeluh kesah? Masihkah saya mengenal mereka? Mengapa saya seperti orang asing dalam kerumunan ini? Atau, memang mereka yang terlihat asing bagi saya sekarang?

Tak ada lagi Lannia yang selalu rewel minta difoto dengan angle paling kece. Tak ada pula Ara yang selalu jadi 'partner in crime' terbaik saya saat meledek orang-orang. Ke mana Mangi yang selalu penuh kasih sayang, menggoda saya bercerita tentang kehidupan? Ke mana pula Runi yang selalu mengingatkan saya akan pentingnya mengejar karier setinggi langit? Mereka hilang ditelan dunia yang baru.

Hei! Halo! Bisakah kalian memperhatikan saya sebentar? Tidakkah kalian sadar kalau saya hanya menjadi penonton selama tiga jam itu? Saya juga ingin bercerita. Masih maukah kalian mendengarnya?

"Maklumin aja, Sar. Mungkin mereka masih euforia karena pengalaman pertama punya anak," kata Mangi, suatu waktu di sebuah kedai sekaligus perpustakaan kesukaan kami. Mangi mencoba menenangkan kegelisahan saya. "Dulu, waktu gue ngelahirin Lodi, gue juga bingung kalau bareng kalian."

Mangi selalu menjadi yang paling bijak dan positif di antara kami. Barangkali kedewasaan muncul seiring proses pembelajarannya membangun keluarga kecil.

Tapi, benarkah demikian? Haruskah 'anomali' itu saya maklumi begitu saja?

Tidak! Saya tidak cemburu pada anak atau calon anak mereka. Justru saya menyayanginya. Pada Rima, putri bungsu Mangi, ah, saya menyukainya. Di perpustakaan kala itu, saya ajak dia menggambar dan mewarnai agar tidak cemberut lagi karena sudah dibawa ibunya keluar sejak pagi. Dia senang. Saya juga senang bermain dengan Rima. Lagi-lagi saya katakan, saya tidak cemburu.

Mungkin Mangi benar soal euforia. Kebetulan, Lannia dan Ara baru saja melahirkan untuk pertama kalinya. Mereka masih takjub mengenai peran baru mereka sebagai seorang ibu.

Saya harus bersabar dan memaklumi euforia itu untuk sementara waktu. "Lama-lama juga mereka bosan, kok," kata Mangi, lagi-lagi mencoba menenangkan saya seraya tersenyum.

Ilustrasi JanjiIlustrasi. (cherylholt/Pixabay)

Akhir 2019, peristiwa traumatis menghampiri saya. Lannia, Ara, Mangi, dan Runi beride agar kami bertemu. Katanya, sih, mereka ingin menemani saya yang sedang dirundung nestapa. Saya mengiyakan, meski tak banyak waktu yang saya miliki.

Kami bertemu di sebuah kedai di bilangan Gandapura, Bandung. Kali ini, Runi telah menggendong bayi cantiknya.

Tapi, kau tahu apa yang terjadi? Bukannya senyum semringah yang merekah di wajah, tapi justru kesedihan yang tak berujung. Alih-alih menemani saya, mereka lagi-lagi asyik dengan kehidupan barunya sebagai seorang ibu. Saling pamer bayi-bayi kecil mereka yang menggemaskan satu sama lain. Dan, yah, lagi-lagi saya tak bisa berkata-kata..

Padahal, kau tahu? Ingin sekali rasanya saya bersuara, mengeluarkan kesedihan yang baru saja saya alami. Ingin sekali rasanya menaruh kepala saya di pundak salah satu dari mereka sambil bercerita keresahan saya.

Saya berdiri dan pergi sebentar ke area luar. Menyulut dua batang rokok dan menghisapnya, mencoba menenangkan diri.

Tidak, saya tidak boleh marah, pikir saya kala itu. Daripada terlihat murung, saya putuskan untuk undur diri lebih dulu dan pamit pulang. Tak ada pula adegan sinetron satu dari mereka yang mencoba mengejar saya dan meminta maaf. Ah, sudahlah, lupakan saja.

"Sari, maaf ya. Kita malah asyik sendiri, padahal beneran, niatnya ngajak ketemu buat nemenin lo. Kita minta maaf ya..," tulis Ara dalam pesan WhatsApp. Saya hanya tersenyum membacanya.

Saya tak mengerti. Seperti ini kah rasanya menjadi satu-satunya lajang? Teori minoritas-mayoritas mungkin berlaku di sini. Bagaimana pun minoritas harus mengalah dan menerima keadaan yang dibentuk kaum mayoritas. Saya, mau tak mau, harus menerima kondisi ikatan persahabatan yang baru ini.

Toh, seperti kata orang-orang, semakin bertambah usia, semakin kita akan hidup sendiri.

Kehilangan? Jelas. Saya benar-benar kehilangan. Tak ada lagi agenda karaoke bersama saat saya pulang ke Bandung. Tak ada lagi obrolan-obrolan tak penting di grup WhatsApp. Semua sibuk dengan keluarga kecilnya masing-masing.

Saya ingat Ara. Dia adalah sahabat terdekat saya. Kami bersama-sama merantau ke Jakarta pada 2013 lalu. Saya ingat banyak hal gila yang kami lakukan bersama. Oh, ya, kami bahkan pernah sama-sama dikira 'ayam kampus' yang sedang mencari mangsa pria-pria hidung belang di sebuah pub ibu kota yang bikin kami penasaran. Kami juga sering mabuk bersama hanya karena tergoda harga-harga promo yang ditawarkan bar.

"Gue mau nikah awal tahun depan," ujar Ara, sekitar 2016 lalu. Rasanya tiba-tiba saja ada biji salak yang tertelan ke tenggorokan dan membuat saya tersedak. Apa? Menikah? Ara menikah?

Bukannya saya tak bahagia mendengar kabar baik itu. Tentu saya bahagia. Tapi kala itu rasanya saya tak bisa membedakan mana yang nyata dan fiksi.

Ilustrasi TemanIlustrasi. (Babienochka/Pixabay)

"Dear Ara..

Gue tentu senang karena sebentar lagi lo bakal menikah. Akhirnya lo bertemu orang yang tepat setelah menjalani hubungan dengan berbagai pria aneh. Haha. Tapi, nanti gue sama siapa? Nanti siapa yang belanja CD bareng gue? Nanti siapa yang nemenin gue ngomentarin orang-orang di McD Sarinah?

Gue senang, sekaligus juga [agak] sedih. Tapi enggak apa-apa. Apa pun yang terbaik buat lo, gue dukung.

Tapi, kalau sudah jadi istri orang nanti, jangan jauh-jauh dari gue, ya."

Surel itu saya kirimkan satu bulan jelang pernikahan Ara. Lucu, ya? Kala itu, saya takut betul ditinggal Ara. Hubungan pertemanan kami tak ubahnya persahabatan antara Frances dan Sophie dalam Frances Ha, film garapan Noah Baumbach. Saya adalah Frances, yang patah hati ditinggal Sophie ke apartemen impiannya.

Lambat laun saya sadar bahwa seyogianya waktu akan terus berjalan. Dan segala hal akan terus berubah seiring waktu yang berjalan.

Rasa kehilangan dan terbuang sudah pasti tetap ada. Tapi, biarlah rasa kehilangan dan terbuang ini saya maknai sebagai salah satu fase kehidupan yang harus saya lalui.

Menjadi satu-satunya yang masih saja melajang di antara mereka yang sudah bergumul dengan keluarga kecilnya masing-masing memang bukan perkara mudah. Kehilangan, sudah pasti. Tapi, saya harus mengerti, karena, toh, semakin tua, kita semakin sendiri.

"Sahabat itu bukan orang yang harus terus bareng-bareng. Tapi, sahabat itu adalah orang yang tetap akrab dan selalu peduli meski sudah enggak selalu bareng-bareng lagi." Saya ingat kalimat itu pernah keluar dari mulut Ara, saat kami masih duduk di bangku kuliah.

Saya tak menyangka, lebih dari satu dekade setelahnya, kalimat itu menjadi kenyataan. Jadi, biarlah mereka sibuk dengan keluarga kecilnya masing-masing.

Tidak, mereka bukan orang asing, mereka-dan juga termasuk saya-hanya sedang memasuki fase baru dalam kehidupan, dengan cara yang berbeda.

Menghilang, tapi tak melupa. Kira-kira demikian-lah adanya persahabatan kami saat ini.

Notifikasi ponsel berdering. Sebuah pesan WhatsApp dari Ara muncul.

"Heh! Apa kabar lo? How's life?"

Tulisan merupakan kiriman dari pembaca CNNIndonesia.com, Sarita (32 tahun), yang bercerita soal pengalaman hidup pribadinya.
(asr/asr)

[Gambas:Video CNN]