CELOTEH WISATA

Juha's Guesthouse, Saksi Bisu Guyubnya Arab & Yahudi

CNN Indonesia | Rabu, 07/10/2020 17:50 WIB
Awalnya Jisr al-Zarqa ialah daerah miskin. Setelah Juha's Guesthouse ramai dikunjungi turis, warga Arab dan Yahudi di sana mulai mendapat penghasilan. Juha's Guesthouse, hostel yang membantu memajukan perekonomian di kota nelayan Jisr al-Zarqa. (AFP/JACK GUEZ)
Jakarta, CNN Indonesia --

Orang-orang Israel sedang melakukan gerakan untuk menyelamatkan sebuah hostel yang disebut-sebut sebagai wadah hidup berdampingan Arab-Yahudi, yang kelangsungan bisnisnya kini terancam karena pandemi virus corona.

Sejak pertama kali dibuka pada tahun 2014, Juha's Guesthouse telah membujuk para backpacker ke kota nelayan Jisr al-Zarqa yang miskin di pantai utara Israel dengan menawarkan berbagai kegiatan termasuk pelajaran memasak menu Arab.

Paket wisata itu diluncurkan oleh Ahmad "Juha" Jorban dan mitranya dari Israel, Neta Henien, untuk memanfaatkan pendapatan dari pariwisata guna mendorong pertumbuhan ke satu-satunya kota tepi pantai Arab di Israel dan penduduknya yang berjumlah 15 ribu orang.


Juha's Guesthouse, yang disebut sebagai "tempat bisnis sosial", mendukung proyek pembangunan lokal, termasuk lokakarya dan kursus untuk membantu para pencari kerja.

Tetapi ketika infeksi virus corona melonjak di Israel, pihak berwenang memberlakukan penguncian nasional baru pada bulan September, termasuk larangan perjalanan yang tidak penting yang ikut menghadang kedatangan wisatawan.

Akibatnya, masa depan tampak suram untuk hostel tersebut sampai selebriti dan donor anonim turun tangan untuk mengumpulkan dana pemeliharaannya.

Salah satunya adalah penyanyi Israel bernama Achinoam Nini yang lebih dikenal dengan sebutan Noa.

"Saya baru-baru ini menemukan tempat yang indah di Jisr al-Zarqa, penginapan yang didirikan oleh seorang wanita Yahudi dan seorang pria Arab yang tujuannya adalah untuk menciptakan kelanggengan hidup antara orang Yahudi dan Arab," katanya dalam sebuah video yang beredar di media sosial.

"Sekarang di masa corona, tempat penginapan itu mengalami banyak kesulitan dan butuh bantuan," lanjutnya.

Situs donasi online telah dibuat dan lebih dari 1.200 donor telah menyumbangkan sekitar 260 ribu shekel (sekitar Rp1,1 miliar).

Penduduk Israel, Naama Goldman-Shwartz (45), manajer yang menjalankan hostel bersama Juha, mengatakan penggalangan dana memberi "sedikit lebih banyak bahan bakar" untuk menjaga bisnis dari kehancuran.

Israeli Naama Goldman-Shwartz, 45, (L) and Arab-Israeli Ahmad Naama Goldman-Shwartz (45) (kiri) dan Ahmad "Juha" Jorban (JACK GUEZ / AFP)

'Jembatan' budaya

Jorban melihat hostel yang satu-satunya di Jisr al-Zarqa itu, sebagai "jembatan" budaya yang menghubungkan orang-orang Yahudi Israel dengan minoritas Arab di negara itu, melalui pertemuan dengan penduduk setempat.

"Awalnya, idenya untuk mengembangkan potensi wisata desa," kata Jorban (50).

Selain pelajaran memasak Arab, kelas bahasa Arab juga ditawarkan.

"Bahasa menyatukan hati dan membantu mengubah prasangka," kata Jorban.

"Kebanyakan orang yang mengemudi di sepanjang pantai tidak pernah memasuki (kota)," kata Goldman-Shwartz kepada AFP.

Meskipun terletak di dekat laut Mediterania, desa nelayan adalah dunia yang terpisah dari resor Caesarea kelas atas di dekatnya di mana Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memiliki rumah pribadi.

Jisr al-Zarqa - yang namanya berarti Jembatan di Atas Biru - adalah salah satu tempat termiskin di Israel, lebih dikenal karena masalah sosialnya daripada pantainya yang damai yang dapat dicapai dengan berjalan kaki singkat.

Namun, selama bertahun-tahun, Jorban dan rekan-rekannya mengatakan bahwa mereka berhasil menarik ribuan turis dari Israel dan sekitarnya.

"Berkat itu kami dapat mengubah citra negatif tempat ini," kata Jorban.

"Orang yang datang ke sini melihat desa secara berbeda pada saat mereka pergi," tambah Goldman-Shwartz.

Hostel ini memiliki 18 tempat tidur, termasuk di lima kamar pribadi, dan eksteriornya dicat biru ceria, kontras dengan abu-abu gelap bangunan di sekitarnya.

Setelah turis berdatangan ke hostel, kafe-kafe bermunculan di sepanjang tepi laut dan sebuah restoran dibuka di seberang masjid kota.

Wanita lokal juga didorong untuk mendirikan bisnis kerajinan tangan mereka sendiri, membuat macrame, perhiasan atau memasak.

Orang Arab Israel, keturunan Palestina yang tetap tinggal di tanah mereka setelah berdirinya negara Yahudi pada tahun 1948, berjumlah sekitar 20 persen dari populasi Israel.

(AFP/ard)

[Gambas:Video CNN]