Minyak Goreng Tak Selamanya Jahat dan Buat Kolesterol Naik

tim, CNN Indonesia | Rabu, 14/10/2020 10:31 WIB
Jangan buru-buru menganggap minyak goreng jadi biang kerok naiknya kolesterol Anda. Ahli gizi mengungkapkan bahwa sebenarnya minyak itu sehat. Jangan buru-buru menganggap minyak goreng jadi biang kerok naiknya kolesterol Anda. Ahli gizi mengungkapkan bahwa sebenarnya minyak itu sehat. (iStockphoto/zeljkosantrac)
Jakarta, CNN Indonesia --

Jika Anda harus memilih lebih suka makanan yang digoreng renyah atau makanan yang dikukus atau rebus, rasanya kebanyakan orang akan memilih makanan renyah yang digoreng. Namun usai makan beberapa buah gorengan, mendadak Anda pun langsung 'sadar' sudah makan banyak minyak dan mendadak takut kolesterol naik.

Ketika kolesterol naik, minyaklah yang langsung jadi kambing hitamnya. "Biasanya begitu, gara-gara minyak nih, kolesterol naik. Padahal minyak itu enggak salah apa-apa," ungkap Ahli gizi dan nutrisi Seala Septiani saat peluncuran minyak goreng kedelai Sania Royale Soya Oil, Selasa (7/10).

Seala mengungkapkan, bahwa minyak itu sebenarnya sehat dan merupakan salah satu senyawa yang dibutuhkan dalam tubuh. Namun sehat atau tidaknya minyak, kata dia, tergantung dari bagaimana cara Anda memakai minyak tersebut.


"Sebelum menyalahkan minyak goreng yang dipakai, ada banyak hal lain yang harus diperhatikan. Misalnya dari bahan makanannya sendiri," ucap dia.

"Minyak gorengnya sudah bagus pakai minyak goreng kedelai dengan titik asapnya yang tinggi sehingga ikatannya tak mudah rusak. Tapi ternyata bahan makanan yang digoreng jerohan atau otak yang tinggi kolesterol. Jadi sama saja."

Selain jerohan dan otak, Seala menambahkan beberapa jenis makanan lain misalnya buncis tempura, kacang panjang goreng tepung juga harus hati-hati mengolahnya. Pasalnya beberapa vitamin dan mineral dalam bahan makanan termasuk sensitif dengan proses pemanasan.

"Sekarang kan ada alat yang menggoreng tanpa minyak, tapi kalau bahan makanan yang digoreng kolesterolnya tinggi ya sama saja," ungkapnya.

Tak cuma bahan makanan, tapi metode penggunaan minyak juga berpengaruh pada meningkatnya kolesterol. Misalnya, penggunaan berulang. Berapa banyak dari Anda yang sering menggunakan minyak jelantah atau minyak yang digunakan berkali-kali? Berapa kali memakainya?

Seala mengatakan, penggunaan minyak goreng berulang-ulang adalah hal yang berbahaya. Ketika menggunakan minyak goreng berulang-ulang, maka ikatan lemak jenuh ganda di dalamnya akan putus dan membentuk ikatan tunggal. Ketika dipanaskan kembali ikatan tunggal ini akan putus lagi dan membentuk senyawa yang bisa berisiko pada kesehatan.

"Sebaiknya sekali pakai langsung ganti. Kalau untuk minyak kedelai karena dia memiliki high smoke point maka setidaknya masih aman untuk dua kali pemakaian," ucapnya.

"Tapi ini bukan untuk deep fried ya tapi tumis atau goreng biasa. Kalau deep fried sekali pakai harus langsung diganti."

Untuk mendapatkan manfaat yang lebih sehat dari minyak, ada baiknya menggunakan minyak untuk metode masak yang juga baik, misalnya grill (panggang), tumis, ataupun baking.

(chs/chs)

[Gambas:Video CNN]