Migrasi Jutaan Hewan Maasai Mara Tahun Ini Nihil Penonton

CNN Indonesia | Jumat, 16/10/2020 11:50 WIB
Migrasi jutaan hewan menjadi momen puncak dalam dunia fauna di Maasai Mara, Kenya. Sayangnya, tahun ini turis tak bisa menikmati pemandangan tersebut. Migrasi rusa kutub di Maasai Mara, Kenya, Afrika Timur. (AFP/TONY KARUMBA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bagi Nadutari Tingisha, membuat perhiasan manik-manik adalah satu-satunya pekerjaan yang bisa dilakukannya. "Membuat perhiasan adalah sesuatu yang kami lakukan saat tumbuh dewasa, jadi kami tidak akan pernah menyerah," katanya.

Dia biasanya menghabiskan hari-harinya menjajakan dagangannya kepada turis yang berduyun-duyun ke Maasai Mara di Kenya untuk ikut serta dalam wisata safari di kawasan itu.

Namun, tahun ini jumlah pelanggannya berkurang drastis.


Setiap tahun antara Juni dan Desember, salah satu migrasi hewan terbesar dan terpanjang di dunia terjadi di Afrika Timur.

Lebih dari 2 juta rusa kutub, zebra, rusa, dan hewan lain melintasi Serengeti ke Maasai Mara di Kenya untuk mengejar padang rumput yang lebih hijau.

Dijuluki oleh banyak orang sebagai Great Migration (Migrasi Besar), rute melingkar ini membentang antara 800 hingga 1.600 kilometer, dengan kawanan rusa kutub yang sering terlihat membentang sepanjang 40 kilometer.

Di masa lalu, sebagian besar wisatawan Kenya tiba antara Juni dan Oktober untuk menyaksikan migrasi.

Namun, pembatasan perjalanan selama berbulan-bulan karena pandemi virus corona telah memukul industri pariwisata negara itu.

Agustus biasanya merupakan salah satu bulan tersibuk bagi wisatawan, menyumbang 10 persen dari total pengunjung tahunan Kenya, dengan sekitar 250 ribu pelancong, menurut Najib Balala, Menteri Pariwisata dan Margasatwa Kenya.

Wildebeests  run across a sandy riverbed of the Sand River as they arrive into Kenya's Maasai Mara National Reserve from Tanzania's Serengeti National Park during the start of the annual migration July 18, 2020. - The Wildebeest Migration is one of the Seven New Wonders of the World in which over two million head of mainly wildebeest and zebra migrate from the Serengeti National Park in Tanzania to the greener pastures of the Masai Mara National Reserve in Kenya during July through to October. (Photo by TONY KARUMBA / AFP)Pemandangan migrasi hewan di Maasai Mara, Kenya, Afrika Timur, menjadi salah satu atraksi wisata populer di dunia. (AFP/TONY KARUMBA))

Penerbangan internasional dihentikan pada akhir Maret karena virus corona, dan dilanjutkan pada 1 Agustus; negara itu menyambut kurang dari 15 ribu turis bulan itu, kata Balala.

Penurunan permintaan telah menempatkan 2,5 juta pekerjaan pariwisata Kenya dalam bahaya.

Banyak di antaranya milik Maasai sendiri, suku yang dikenal di seluruh dunia karena tradisi dan pakaian berwarna-warni.

Suku Maasai juga memiliki sebagian besar wilayah Maasai Mara - sering kali menyewakan tanah tersebut kepada pihak konservasi yang menjalankan cagar alam dan safari.

Pada 2019, 15 ribu pemilik tanah Maasai mengantongi lebih dari US$7,5 juta sebagai pembayaran sewa, kata Daniel Sopia, CEO Asosiasi Konservasi Margasatwa Maasai Mara.

Tahun ini, pemilik tanah mengatakan bahwa mereka mengharapkan untuk menerima kurang dari setengah jumlah itu.

Meskipun infeksi Covid-19 dan tingkat kematian di Kenya masih relatif rendah, jumlah turis diperkirakan akan tetap turun hingga awal 2022.

Suku Maasai sekarang berusaha bertahan di bisnis pariwisata untuk menopang mata pencaharian mereka.

Selain menanam makanan mereka sendiri, anggota komunitas juga mencari bahan-bahan lokal untuk membuat pembersih tangan dan sabun untuk dijual ke komunitas di seluruh Kenya.

Nelson Reiya, salah satu pendiri Nashulai Maasai Conservancy, mengatakan pembangunan pusat produksi mekanis sedang berlangsung dan akan beroperasi pada akhir tahun ini.

(ard)

[Gambas:Video CNN]