'Emily in Paris' dan Ekspektasi Berlebihan Turis soal Paris

CNN Indonesia | Kamis, 15/10/2020 16:50 WIB
Banyak kritikus mengecam Emily in Paris, karena lelah melihat orang Paris digambarkan sebagai orang yang selalu curiga, tidak ramah, malas, atau genit. Sungai Seine di Paris, Prancis. (AFP PHOTO / FRANCOIS GUILLOT)
Jakarta, CNN Indonesia --

Banyak yang terang-terangan menyukainya, tak sedikit yang diam-diam menontonnya, itulah kesan yang muncul setelah serial drama Emily in Paris tayang di Netflix pada bulan ini.

Meski baru musim pertama, namun penikmat karya Darren Star - sosok di balik serial drama Sex in the City, itu mulai ramai membicarakan tentang kehidupan romantis di Paris, Prancis.

Emily in Paris menambah panjang daftar film tentang kisah cinta, secara khusus tentang imigran dan warga lokal yang hidup di Kota Cahaya, seperti An American in Paris, Funny Face, Moulin Rouge dan Amelie.


Banyak kritikus Prancis mengecam serial sepuluh episode itu, karena lelah melihat orang Paris digambarkan sebagai orang yang selalu curiga, tidak ramah, sombong, malas, atau genit.

Mereka juga ikut menyudutkan peran utama dalam Emily in Paris yang tidak pernah merasakan susahnya naik metro setiap berangkat dan pulang kerja serta tinggal di apartemen yang sempit karena harga sewa yang mahal.

Eksistensi tetangga yang terlalu tampan juga ikut dipertanyakan.

Lindsey Tramuta, seorang penulis Amerika yang telah tinggal di Paris selama 15 tahun, menulis The New Paris dan The New Parisienne di mana dia mencoba untuk menunjukkan bahwa ada lebih banyak hal di kota ini daripada kafe dan butik.

Sindrom Paris yang berujung kekecewaan

"Kita berada di tahun 2020 dan kita masih mendaur ulang lagu lama," katanya, menunjuk pada realitas ekonomi dan sosial yang terabaikan di kota yang telah mengalami serangan teroris, gerakan protes Rompi Kuning, dan pemogokan massal.

"Ini bukanlah serangkaian klise yang tidak berbahaya," tambahnya, seperti yang dikutip dari AFP.

"Ketika Paris digambarkan terus-menerus seperti itu, dari generasi ke generasi, hal itu berkontribusi pada pemahaman jangka panjang yang bermasalah tentang tempat itu sendiri."

Visitors wait in the Louvre Museum courtyard prior to visit the museum, in Paris, Monday, July 6, 2020. The home of the world's most famous portrait, the Louvre Museum in Paris, reopened Monday after a four-month coronavirus lockdown. (AP Photo/ Thibault Camus)Antrean masuk Museum Louvre. (AP/Thibault Camus)

Salah satu masalah ini adalah apa yang disebut Paris syndrome (sindrom Paris), yang oleh orang-orang disebut sebagai kekecewaan akut yang dirasakan oleh beberapa turis ketika mereka tiba dan merasakan realita yang tak sebanding dengan ekspektasi.

Bagi Tramuta, penggambaran kota yang selalu "berwarna merah muda" juga "adalah contoh cara Paris dieksploitasi oleh perusahaan film, merek mewah, pengarang, membuat kota tersebut terlihat seperti taman bermain yang diberi filter di Instagram".

Kritik juga menyoroti Netflix yang tampaknya "nyaman" dengan "daur ulang" benturan budaya Prancis-Amerika Serikat di Emily di Paris.

"Jika Emily datang ke kota Anda dan bukan 'di Paris', apa klise besar dari serial ini?" candanya di Twitter.

"Misalnya Emily di Marseille = selalu cerah, pelabuhan tua berbau sarden, dan Jul berkeliaran di jalanan," tambahnya, mengacu pada seorang rapper yang lahir di kota selatan Prancis.

Bagi Agnes Poirier, penulis Left Bank, sebuah buku tentang kehidupan intelektual dan budaya pasca-perang Paris, "semua klise memiliki unsur kebenaran atau tidak akan klise.

"Juga, klise sulit dihilangkan.

"Dan dibandingkan dengan kota-kota Amerika, ya, Paris terlihat dan terasa romantis dan orang Prancis memiliki sikap yang berbeda dan lebih toleran terhadap perselingkuhan dan pernikahan."

People queue up prior to visit the Eiffel Tower, in Paris, Thursday, June 25, 2020. The Eiffel Tower reopens after the coronavirus pandemic led to the iconic Paris landmark's longest closure since World War II. (AP Photo/Thibault Camus)Antrean masuk Menara Eiffel (AP/Thibault Camus)

Konyol dan lucu

Tapi, dia menambahkan: "Paris dan warga Paris terpesona karena apa yang ada sekarang, sayangnya, hanya karena alasan sejarah," katanya seraya membandingkan citra Paris sebagai kota cinta, seksualitas yang tidak terkendali, atau kehidupan yang baik seperti yang banyak diceritakan dalam buku atau film.

Ines de la Fressange, perancang busana dan salah satu penulis buku gaya hidup terlaris La Parisienne, mengatakan itu semua mungkin impian tentang Paris, tapi dengan "sedikit kebenaran di dalamnya".

"Kita sering lupa bahwa orang Amerika melihat Paris seperti Disneyland - Emily berfoto selfie dengan pain au chocolat di tangannya," kata mantan model itu.

"Tapi di New York, kami juga kagum dengan Empire State Building.

"Saat ini, Paris kekurangan turis. Jika klise tentang gastronomi, keanggunan, dan keindahan membuat orang ingin datang ke sini, itu bukan masalah."

Dan serial tersebut telah memicu banjir cuitan dari netizen yang mengatakan bahwa mereka ingin tinggal di Paris setelah menontonnya.

"Ini adalah komedi romantis yang konyol dan lucu yang dapat dipahami oleh banyak orang asing," kata Lane Nieset, jurnalis lepas Amerika yang mengkhususkan diri dalam wisata serta gastronomi dan telah tinggal di Paris selama hampir dua tahun.

"Bagi orang Amerika, Prancis masih mewakili lambang kelas dan kecanggihan.

Dan pada saat pandemi virus corona ketika "mereka tidak bisa bepergian", itu membuat mereka bermimpi, itu adalah pelarian".

(AFP/ard)

[Gambas:Video CNN]