Pendaki Menyaksikan Kepunahan Es di Gunung Kilimanjaro

CNN Indonesia | Jumat, 16/10/2020 10:50 WIB
Will Gadd telah menyaksikan dari dekat kehancuran di Gunung Kilimanjaro yang ditimbulkan oleh krisis iklim. Gunung Kilimanjaro di Tanzania, Afrika Timur. (Istockphoto/WLDavies)
Jakarta, CNN Indonesia --

Will Gadd telah menyaksikan dari dekat kehancuran yang ditimbulkan oleh krisis iklim.

Pendaki tebing es itu telah menghabiskan hidupnya untuk menyelesaikan satu ekspedisi berani di beberapa tempat terdingin di bumi.

Tapi semakin sering ia mendaki bukit atau gunung es, semakin dia melihat "kantor" nya mencair dan berubah tanpa bisa dikenali.


Sebelumnya pada tahun 2020, Gadd mendaki lapisan es Gunung Kilimanjaro, Tanzania, Afrika Timur, yang sekarang mencair untuk yang terakhir kalinya.

"Beberapa es yang saya daki enam tahun lalu, pada 2014, sudah hilang," katanya, seperti yang dikutip dari CNN pada Jumat (16/10).

"Ini jelas gunung yang sangat berbeda. Rasanya seperti sangat emosional untuk sampai ke sana dan melihat es yang ingin kami daki dan kemudian sebagian besar hilang."

Gadd telah dijuluki sebagai "Pahlawan Gunung" oleh PBB karena karyanya mengeksplorasi bagaimana perubahan iklim telah berdampak pada pegunungan di dunia.

Pendaki tebing es itu juga prihatin dengan bagaimana kepunahan es di bukit atau gunung akan mempengaruhi kehidupan masyarakat setempat.

Gunung Kilimanjaro adalah gunung berapi aktif di Tanzania. Ini memiliki tiga kerucut vulkanik: Kibo, Mawenzi dan Shira.

Ini adalah gunung tertinggi di Afrika dan gunung berdiri bebas tunggal tertinggi di dunia: 5.895 meter di atas permukaan laut dan sekitar 4.900 meter di atas dasar dataran tingginya.

Kilimanjaro adalah puncak paling topografis ke-4 di Bumi.

Orang pertama yang diketahui mencapai puncak itu adalah Hans Meyer dan Ludwig Purtscheller, pada tahun 1889.

Gunung ini adalah bagian dari Taman Nasional Kilimanjaro dan merupakan salah satu destinasi pendakian populer di dunia setelah Gunung Everest.

Karena kepunahan lapisan esnya yang ekstrem, Gunung Kilimanjaro telah menjadi subjek banyak penelitian ilmiah.

Kilimanjaro memiliki dua musim hujan yang berbeda, satu dari bulan Maret hingga Mei dan satu lagi sekitar bulan November.

Hewan besar jarang ditemukan di Kilimanjaro dan lebih sering berada di hutan dan bagian gunung yang lebih rendah. Gajah dan Kerbau Cape termasuk di antara hewan yang berpotensi berbahaya bagi pendaki.

(ard)

[Gambas:Video CNN]