SURAT DARI RANTAU

Berguru S3 di Negara Gajah Putih

Rian Ka Praja, CNN Indonesia | Minggu, 18/10/2020 14:00 WIB
Thailand bisa menjadi salah satu pilihan melanjutkan studi. Selain dekat dari Indonesia, negara ini juga punya banyak objek wisata yang bisa dijelajahi. Pemandangan kota Khon Kaen di Thailand. (iStockphoto/pigphoto)
Khon Kaen, CNN Indonesia --

Sejak duduk di bangku kuliah S1 Kedokteran Hewan, Universitas Udayana - Bali, saya sudah berangan-angan untuk sekolah hingga tingkat doktoral. Sesaat setelah lulus S2 Ilmu Biomedik dari Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana, saya kemudian mencoba peruntungan untuk mendaftar beberapa beasiswa luar negeri dan diterima di beberapa universitas.

Singkat cerita saya mendapatkan beasiswa the Royal Golden Jubilee - PhD (RGJ-PhD) yang dibiayai oleh Pemerintah Thailand melalui Thailand Science Research and Innovation (TSRI).

Saat ini saya sedang belajar pada Program Doktor dalam bidang Ilmu Biomedik di bawah Department of Clinical Immunology and Transfusion Sciences, Faculty of Associated Medical Sciences, Khon Kaen University.


Untuk studi S3, saya mempelajari penuaan sistem imun pada lansia dengan fokus riset untuk menemukan biomarker (penanda biologis) perubahan imun yang berbasis spektroskopi inframerah serta mengungkap perubahan jalur sinyal sel imun pada lansia.

Ini studi di luar negeri pertama kali bagi saya. Perbedaannya untuk studi doktoral di Indonesia, saat awal studi mahasiswa diharuskan mengambil beberapa mata kuliah kemudian melanjutkan ke riset disertasi.

Tetapi, di Thailand atau negara yang lain, mahasiswa diperbolehkan untuk langsung ke riset disertasi sejak semester satu atau yang biasa kita kenal dengan istilah "by research" tanpa mengambil kuliah kelas.

Selain itu, lulusan S1 diperbolehkan untuk langsung mengambil program S3 tanpa harus S2. Berbeda halnya dengan di Indonesia, umumnya syarat studi S3 harus menyelesaikan studi S2 terlebih dahulu.

Terkait fasilitas riset di kampus, di sini saya bebas mengakses laboratorium riset selama 24 jam. Pada umumnya kampus di Indonesia memiliki jam operasional, jadi kalau kita kerja di laboratorium kadang dibatasi oleh jam operasional kampus.

Satu lagi, kalau di Indonesia umumnya mahasiswa doktoral usianya rata-rata tidak muda, tapi kalau di luar negeri pada umumnya rata-rata masih muda-muda, mungkin karena lulusan S1 boleh langsung mengambil doktoral.

Penulis Surat dari Rantau, Rian Ka Praja, saat berkegiatan di kampusnya. (Dok. Pribadi)Sosok penulis (kiri foto). (Dok. Pribadi)

Pandemi dan studi

Sejak awal pandemi virus Corona di bulan Maret hingga beberapa bulan lalu, Thailand menerapkan jam malam. Penduduk dilarang keluar rumah mulai pukul 10 malam hingga 4 pagi.

Banyak mahasiswa yang dibatalkan conferencenya gara-gara pandemi, termasuk saya. Urusan riset lapangan juga terganggu.

Kami para mahasiswa yang melakukan riset seharian hingga malam hari merasa agak kesulitan karena mau tidak mau kami harus pulang sebelum jam 10 malam atau tidak pulang sekalian.

Biasanya kerja di laboratorium malam hari lebih nyaman dan lebih bisa berkonsentrasi. Tetapi saat ditetapkan jam malam, mau tidak mau semua pekerjaan harus diselesaikan sebelum jam 10 malam. Syukurnya kini keadaan sudah kembali normal.

Kebetulan saya dan istri saya sama-sama sedang studi S3 di sini. Untuk bisa berangkat ke kampus, biasanya kami menitipkan anak bayi kami di pagi hari.

Namun di awal pandemi, kami merasa was-was untuk menitipkan, karena kami tidak tahu anak kami berinteraksi dengan siapa saja saat dititipkan. Jadinya saya dan istri harus bergantian menjaga anak bayi. Satu bisa ke kampus, satunya harus menjaga bayi.

Penulis Surat dari Rantau, Rian Ka Praja, saat berkegiatan di kampusnya. (Dok. Pribadi)Penulis bersama teman-teman sekampusnya di Thailand. (Dok. Pribadi)

Gerbang pariwisata Thailand

Hingga saat saya menulis artikel ini pada Jumat (16/10), sudah lebih 100 hari Thailand tidak ada laporan transmisi lokal virus Covid-19.

Kini di Thailand kehidupan sudah berjalan seperti biasa, berbagai fasilitas umum sudah dibuka seperti restoran, mall, dan berbagai tempat lainnya.

Meskipun demikian, berbagai tempat tetap melaksanakan protokol normal baru, seperti pengecekan suhu tubuh sebelum masuk ke tempat umum, menggunakan masker, dan mengisi data diri (nama, nomor HP, jam masuk, jam keluar) setiap masuk ke tempat umum, misal saat seperti masuk ke supermarket.

Untuk kedatangan turis sepertinya tidak banyak karena Thailand menerapkan berbagai syarat yang ketat kepada orang asing yang akan berkunjung.

Salah satu syaratnya yaitu harus memiliki asuransi kesehatan yang mengcover senilai US$100 ribu, membayar karantina mandiri, ditambah beberapa syarat administratif.

Saya dan keluarga menghuni kawasan di Provinsi Khon Kaen. Sama seperti di Indonesia, penduduk Thailand sangat suka kongko. Saat pandemi virus Corona dan aturan jam malam diberlakukan, budaya nongkrong bareng sempat menghilang.

Namun saat Thailand berhasil bebas dari transmisi lokal, kini kita sudah bisa lagi melihat anak muda kumpul-kumpul di warung kaki lima atau restoran.

Penulis Surat dari Rantau, Rian Ka Praja, saat berkegiatan di kampusnya. (Dok. Pribadi)Penulis saat liburan di sela kesibukannya di Thailand. (Dok. Pribadi)

Pelajar di negara turis

Dulu sebelum masuk kuliah, saya sudah membuat daftar kemana harus bepergian saat di Thailand. Tetapi pada kenyataannya saya tidak sempat ke mana-mana karena aktivitas kuliah yang sibuk ditambah mengurus anak.

Karena saya tinggal di Thailand bagian timur laut, jadinya saya hanya bisa mengeksplor provinsi yang dekat seperti Udon Thani, Nong Khai, Buriram - tempat kelahiran Lisa 'Blackpink' dan sirkuit MotoGP.

Selain itu, dari Khon Kaen menuju ke perbatasan Laos hanya perlu perjalanan 2 jam naik kereta dengan membayar 35 baht (sekitar Rp13 ribu) dan bebas visa.

Saya paling sering jalan-jalan ke Vientiane, Laos, karena dari Thailand jalan-jalan ke luar negeri paling murah ya ke Laos hehe...

Jika pandemi sudah mereda, saya punya mimpi ingin backpacking naik bus dari Thailand menuju Laos, Kamboja, Vietnam, dan Myanmar. Semoga segera bisa terwujud!

Hidup hemat

Tinggal di Khon Kaen tidak semahal hidup di Bangkok. Kalau saya analogikan dengan provinsi di Indonesia, mungkin Khon Kaen biaya hidupnya sama seperti di Yogyakarta, yang notabene kota kampus.

Harga makanan di kampus rata-rata Rp10 ribu. Tersedia juga tempat isi ulang air siap minum.

Untuk transportasi, rata-rata mahasiswa memiliki motor. Kami pun membeli motor bekas yang harga pasarannya mulai dari Rp2 jutaan.

Bisa dibilang biaya hidup selama studi di Thailand, khususnya di Khon Kaen, benar-benar terjangkau. Malah yang mahal itu seperti mie instan dan berbagai produk khas Indonesia, karena jatuhnya dianggap barang impor haha...

Oya, karena lidah saya Indonesia banget, jadi saya tidak begitu bisa memakan masakan Thailand. Jadinya kami biasanya membeli bahan makanan dan memasak di dormitory yang secara tidak langsung menghemat pengeluaran kami.

Satu lagi, untuk tips hemat jalan-jalan di Thailand bagian timur laut biasanya saya menggunakan kereta ekonomi untuk jalan-jalan.

Karena Thailand dan beberapa negara tetangganya sebagian besar terhubung dengan daratan, jadi dari satu tempat ke tempat lain bisa menggunakan bus atau kereta, tidak harus pesawat.

Dari Khon Kaen ke perbatasan Laos misalnya, cukup naik kereta dan membayar Rp13 ribuan.

Tips studi di Thailand

Tidak ada tips khusus terkait persiapan studi lanjut ke Thailand, karena sekarang semua informasi bisa didapatkan dengan mudah. Semua tergantung niat. Kalau niat, pasti kesampaian.

Pemerintah dan berbagai kampus di Thailand banyak memberikan beasiswa bagi mahasiswa asing dan tentunya ini jadi kesempatan emas.

Buat pembaca CNNIndonesia.com yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri atau Thailand, perkuat tekad, usaha, dan doa. Semoga beruntung dan sampai jumpa di Thailand.

Sawatdeekhrub!

[Gambas:Video CNN]



(ard)