Meraba Masuk ke Toko Buku Tanpa Lampu di Taiwan

CNN Indonesia | Jumat, 23/10/2020 14:50 WIB
Jangan harap bisa foto-foto dalam toko buku ini, karena Wuguan Books berupa toko buku dalam ruangan hampir gelap gulita. Ilustrasi. (iStockphoto/Radomir Jovanovic)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lampu di toko buku biasanya terang untuk memudahkan pencarian judul buku. Kadang alunan musik klasik juga mengiringi agar suasana tambah nyaman.

Namun di Taiwan ada toko buku yang harus menggunakan senter saat masuk. Wuguan Books terletak di Pusat Seni Pier-2 Kaohsiung, pusat pergudangan yang diubah menjadi area hipster di Kaohsiung, kota terbesar kedua di Taiwan.

Toko buku di sini lebih mirip seperti pameran seni.


Pengunjung berjalan melalui toko dalam kegelapan yang ekstrem, kecuali lampu sorot di setiap rak yang menyinari sampul buku dan lampu baca di beberapa meja. Semua lampu bercahaya redup.

Toko buku unik ini didirikan oleh arsitektur pemenang penghargaan Chu Chih-kang.

Chu merancang toko buku Fangsuo Bookstore di Chengdu, yang oleh media lokal digambarkan sebagai toko buku terindah di Tiongkok.

Ada 400 rak buku di toko ini. Perpaduan antara area yang gelap gulita dan lampu yang redup menciptakan ilusi bahwa buku-buku dalam rak "melayang".

"Ini dirancang agar orang bisa fokus pada setiap buku. Dalam lingkungan di mana Anda tidak bisa melihat, indra Anda yang lain akan meningkat," kata Su Yu-shan, manajer toko, seperti yang dikutip dari CNN Travel.

Tapi jangan coba-coba menipu dengan menggunakan aplikasi senter pada telepon genggamuntuk menerangi jalan: Penggunaan senter dan flash dilarang di Wuguan Books.

Dan itu bukan satu-satunya aturan di toko ini. Pengunjung juga dilarang berteriak ketika seseorang menginjak jari kakinya.

Aturan yang juga mengandung humor: "Jika seseorang menginginkan buku yang sama seperti Anda beli, belilah buku itu atau dapatkan nomor teleponnya."

Penggemar Harry Potter ikut disertakan dalam aturan ini: "Jika menurut Anda ruangan ini terlalu gelap, ambil cabang pohon dan teriakkan kata 'Lumos!'"

Tapi, pada akhirnya, Wuguan Books lebih dari sekadar toko yang kreatif.

Staf toko percaya ada tujuan yang lebih tinggi untuk membeli buku. Slogan toko buku itu adalah "Wuguan Books - tentang membaca jiwa."

"Dalam lingkungan ini, Anda bebas menjadi diri sendiri, untuk berkomunikasi dengan jiwa Anda - diri Anda yang paling sejati," kata Su.

[Gambas:Instagram]

Karena itulah pintu masuk Wuguan didekorasi sebagai aula duka tradisional Tionghoa. Itu adalah metafora bagi pengunjung untuk mengurangi ego dalam dirinya.

"Mengunjungi Wuguan Books, menghabiskan waktu dengan diri sendiri dan menemukan buku yang sesuai dengan Anda, lebih dari mengambil foto Instagram," kata Su.

Wuguan Books bukan toko buku dengan banyak koleksi. Sebaliknya, toko buku ini berfokus pada menciptakan pengalaman.

"Meskipun kami tidak memiliki banyak koleksi seperti toko buku biasa, orang menghabiskan waktu lebih lama (di sini) untuk berkomunikasi dengan buku," kata Su.

"Lingkungan gelap telah membantu orang untuk mengambil buku yang tidak berani mereka ambil di toko buku lain. Sebagian besar erotis, tetapi juga buku tentang jiwa atau emosi. Ini membantu orang untuk mengumpulkan keberanian mereka untuk memberontak, atau menghadapi luka mereka."

Saat ini Wuguan Books hanya terbuka untuk pengunjung berusia di atas 18 tahun, karena toko tersebut berisi beberapa buku yang membahas topik sensitif, dan menjual barang dagangan yang belum tentu sesuai untuk pembaca yang lebih muda, seperti mainan seks.

Selain buku, Wuguan Books juga merupakan rumah bagi bagian toko kecil yang menjual beragam pernak-pernik eklektik, aksesori rumah serta kopi.

"Hal-hal yang kami pikir mungkin terjadi seperti pengunjung tersandung, tidur dan mencuri hampir tidak pernah terjadi," kata Su.

"Tapi banyak yang ragu untuk masuk karena mereka takut gelap atau mereka mengira ini rumah berhantu."

[Gambas:Instagram]



(ard)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK