'Manhattan di Padang Pasir' Sedang Terancam Punah

CNN Indonesia | Rabu, 04/11/2020 14:50 WIB
Kota kuno Shibam berupa gedung menjulang tinggi yang terbuat dari lumpur. Kawasan ini dijuluki Kota kuno Shibam di Yaman. (AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Dijuluki "Manhattan di Padang Pasir" karena gedung pencakar langitnya yang berusia berabad-abad, kota kuno Shibam di Yaman lolos dari kerusakan dalam perang saudara - tetapi kini sedang menghadapi ancaman kerusakan akibat hujan dan banjir.

Dengan latar belakang tebing yang terlihat seperti Grand Canyon Amerika, situs Warisan Dunia yang terdaftar di UNESCO ini dibangun secara strategis di atas bukit batu yang tinggi di atas lembah sungai Wadi Hadramawt.

Beberapa dari ratusan menara fantastis yang terbuat dari dari batu bata berbahan lumpur kering itu terlihat menjulang setinggi tujuh lantai, banyak yang berasal dari abad ke-16, semuanya dijejalkan di dalam tembok benteng tradisional yang dibangun untuk perlindungan.


PBB menggambarkan kota itu, yang pernah menjadi oasis untuk karavan unta di rute rempah-rempah dan dupa melintasi selatan Arab, sebagai "salah satu contoh tertua dan terbaik dari perencanaan kota berdasarkan prinsip konstruksi vertikal."

Tapi Shibam sedang berjuang.

Konstruksi batu bata lumpur membutuhkan perbaikan terus-menerus, tetapi ekonomi Yaman telah runtuh dalam perang saudara yang brutal yang berkecamuk sejak 2014, menciptakan apa yang digambarkan PBB sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

"Kota itu terlihat seperti dilanda bencana - belum pernah terjadi sebelumnya," kata Abdulwahab Jaber, seorang pejabat lokal di kota itu, 480 kilometer di timur ibu kota Sanaa.

Jaber mengatakan setidaknya empat menara telah hancur total dan 15 lainnya rusak dalam banjir baru-baru ini, yang telah menewaskan banyak orang di seluruh Yaman.

Korban konflik

Dinding menara lumpur banyak yang terlihat runtuh.

Hassan Aidid, kepala Organisasi Pelestarian Kota Bersejarah di Yaman, mengatakan bahwa atap dan bagian luar menara lumpur mengalami kerusakan paling parah.

"Penduduk kota tidak dapat melakukan perbaikan karena perang dan kesulitan ekonomi," kata Aidid kepada AFP.

Yaman dicengkeram oleh perang antara pemberontak Huthi yang didukung Iran - yang mengendalikan ibu kota - dan pemerintah yang terkepung yang didukung oleh koalisi militer pimpinan Saudi.

Shibam dikendalikan oleh pemerintah yang diakui secara internasional, tetapi meski sebagian besar wilayah terhindar dari konflik langsung, ia tidak luput dari pengaruh perang.

Pertempuran itu hampir menghentikan roda perekonomian masyarakat.

Kota ini, dengan rumah menara yang padat dan gang-gang yang sering terlalu sempit untuk dilalui mobil, dimasukkan ke dalam daftar warisan UNESCO pada tahun 1982 - tetapi pada tahun 2015 ia juga ditambahkan ke "Daftar Warisan Dunia dalam Bahaya."

Itu terjadi tak lama setelah koalisi militer pimpinan Saudi bergabung perang untuk mendukung pemerintah melawan pemberontak Huthi.

Restorasi lambat

Aidid mengatakan rencana tanggap darurat bekerja sama dengan UNESCO sedang dilakukan, dengan sekitar 40 bangunan sedang direstorasi dengan biaya US$194 ribu (Rp2,8 miliar).

Donor swasta juga menawarkan bantuan, termasuk seorang pengusaha Saudi yang menyumbangkan sekitar US$54 ribu, kata Aidid.

Tetapi sementara rencana restorasi terus berjalan, dibantu oleh sejumlah dana dari Uni Eropa, prosesnya berjalan lambat, kata Barak Baswitine, kepala asosiasi arsitektur batu bata lumpur di Shibam.

"Ada beberapa kesulitan," katanya. "Pekerjaan lambat karena kurangnya tenaga lokal yang terampil dan memenuhi standar."

Shibam adalah salah satu dari tiga situs bersejarah yang menjadi saksi masa lalu arsitektur bata lumpur di wilayah Hadramawt di Yaman.

Situs-situs kuno yang tak tergantikan itu, yang mewakili warisan sejarah unik Yaman, juga sedang terancam.

Sekitar 20 kilometer sebelah timur Shibam adalah salah satu menara batu bata lumpur terbesar di dunia, Istana Seiyun, yang berisiko runtuh karena hujan lebat dan pengabaian selama bertahun-tahun.

Yang ketiga adalah kota Tarim, sekitar 40 kilometer timur dari kota, dan dikenal dengan 365 masjid - termasuk Al-Mehdar, yang memiliki menara tertinggi di Yaman.

(AFP/ard)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK