Meluruskan 3 Mitos soal Stroke

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 11/11/2020 17:58 WIB
Stroke adalah penyakit yang bisa ditangani dan dicegah. Sayang, berbagai mitos soal stroke kerap membuat penanganan dan pencegahan jadi terhambat. Ilustrasi. Berbagai mitos soal stroke membuat penanganan dan pencegahan jadi terhambat. (iStockphoto/Michail_Petrov-96)
Jakarta, CNN Indonesia --

Stroke bisa teratasi jika ditangani dengan tepat dan dicegah sejak dini. Namun, sayangnya berbagai mitos soal stroke kerap pembuat penanganan dan pencegahan jadi terhambat.

Stroke menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, sekitar 15 juta orang di dunia mengalami stroke setiap tahunnya. Dari angka itu, sekitar 5 juta di antaranya meninggal dunia, sementara lainnya mengalami kecacatan permanen. Tekanan darah tinggi menyumbang kontribusi terbesar pada sekitar 12 juta kasus stroke di dunia.

Di Indonesia, Riskesdas 2018 mencatat prevalensi stroke sebesar 10,9 persen. Angka itu meningkat dari 7 persen pada 2013.


Jika tak ditangani dengan tepat, pasien stroke bisa meningkatkan risiko kematian dan kecacatan permanen. Setiap pasien stroke diharapkan dapat segera dibawa ke rumah sakit segera setelah serangan dan sebelum 4,5 jam sebagai periode emas penanganan.

Selain itu, sama seperti penyakit tidak menular lainnya, stroke juga dapat dicegah dengan menjalani gaya hidup sehat seperti pola diet yang tepat, tidur teratur, aktivitas fisik yang cukup, menyetop kebiasaan merokok dan konsumsi minuman beralkohol, hingga menghindari stres.

Sayang, berbagai mitos yang tersebar di tengah masyarakat membuat penanganan dan pencegahan stroke jadi terhambat. Berikut beberapa mitos soal stroke yang dibagikan dalam gelaran World Stroke Day Campaign 2020 kerja sama Transmedia dan RS Pusat Otak Nasional (PON), Jumat (6/10).

1. Stroke hanya terjadi pada lansia

Semakin bertambahnya usia, semakin tinggi pula risiko stroke.

Stroke memang lebih sering terjadi pada kelompok lanjut usia (lansia). Namun, bukan berarti stroke tak bisa menyerang usia muda.

"Saat ini, kami menemukan banyak kasus stroke pada usia muda," ujar spesialis dan konsultan saraf RS PON, Profesor Jusuf Misbach.

Dewasa ini, stroke mulai sering ditemukan menyerang kelompok usia yang lebih muda. Pasien berusia 15-45 tahun termasuk ke dalam kelompok pasien stroke usia muda. Data Riskesdas 2018 bahkan mencatat sebanyak 0,6 persen remaja usia 15-24 tahun mengalami stroke.

2. Menusuk jarum ke jari bisa mengobati stroke

Layaknya anggapan yang dipercayai secara turun temurun, konsep menusuk jari dengan jarum hingga berdarah juga dipercaya dapat mengobati stroke.

"Itu jelas mitos, enggak bisa mengurangi gejala. Yang ada menambah lama proses penyembuhan," ujar spesialis dan konsultan saraf RS PON, dr Indah Apriani Putri.

Indah mengatakan, tak ada efektivitas yang ditemukan dengan menusukkan jarum ke jari hingga berdarah. "Karena itu tidak ada kaitannya dengan otak," kata dia.

Alih-alih mengobati, kebiasaan tersebut justru bisa menambah lama proses penanganan pasien di rumah sakit. Pasien serangan stroke memiliki waktu selama 4,5 jam yang biasa disebut periode emas untuk mendapatkan penanganan terbaik.

Selain itu, menusukkan jarum ke jari hingga berdarah juga disebut bakal meningkatkan risiko infeksi.

3. Stroke penyakit keturunan

Banyak orang menganggap bahwa stroke merupakan penyakit keturunan. Artinya, seseorang yang lahir dari orang tua yang memiliki stroke maka dipastikan akan mengalami stroke juga di usia dewasa.

Faktanya, adanya riwayat stroke di keluarga meningkatkan risiko stroke pada seseorang. Namun, pencegahan bisa dilakukan untuk meminimalisasi risiko.

Spesialis dan konsultan saraf RS PON, dr Mohammad Arief Rachman Kemal mengatakan bahwa memang ada beberapa ras tertentu yang memiliki bakal genetik stroke. Peluang itu, lanjut dia, diturunkan dari faktor risiko seperti hipertensi dan diabetes yang dimiliki anggota keluarga.

"Kalau dia tidak menjaga diri, ya bisa jadi dia juga mengalami stroke. Tapi, kalau dia menjaga diri, stroke tetap dapat dicegah," ujar Arief.

(asr/asr)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK