Dokter: Merokok Tingkatkan Risiko Dampak Covid-19

Satgas Covid-19, CNN Indonesia | Selasa, 10/11/2020 19:00 WIB
Merokok dapat memicu penyakit-penyakit bawaan yang kerap memperburuk kondisi pasien Covid-19, seperti penyakit jantung dan kerusakan paru-paru. Dokter: Merokok Tingkatkan Risiko Dampak Covid-19 (Foto: Astari Kusumawardhani)
Jakarta, CNN Indonesia --

Gaya hidup yang buruk, salah satunya merokok, dinilai dapat meningkatkan risiko dampak Covid-19. Pasalnya, catatan Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa kematian akibat Covid-19 lebih banyak disebabkan oleh penyakit penyerta.

Dokter Spesialis Jantung Vito Anggarino Damay mengatakan bahwa risiko penyakit tidak menular seperti jantung, kanker, dan diabetes juga masih dihadapi masyarakat Indonesia.

Menurut Vito, salah satu gaya hidup yang bisa meningkatkan risiko penularan Covid-19 dan penyakit tidak menular lainnya adalah merokok. Pasalnya, aktivitas merokok diketahui justru menyalahi anjuran disiplin protokol kesehatan yang mencakup 3M yakni #pakaimasker, #jagajarak dan #cucitangan.


"Bukti-bukti yang ada saat ini menunjukkan bahwa perokok memiliki tingkat kematian dan keparahan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pasien Covid-19 yang bukan perokok," kata Vito, Senin (9/11).

Seorang perokok, ujarnya, harus melepas masker saat merokok. Selain itu, kebiasaan merokok beramai-ramai juga kerap tidak memerhatikan jarak yang aman. Belum lagi ada risiko tambahan yakni keluar masuknya virus dari tangan yang memegang rokok.

Lebih daripada itu, lanjutnya, Covid-19 adalah penyakit yang menyerang paru-paru, sementara merokok merusak fungsi paru-paru dan menurunkan kekebalan tubuh. Akan lebih susah memerangi virus saat perokok terinfeksi Covid-19.

Nasib perokok pasif tidak kalah mengkhawatirkan. Mereka terkena imbas dari asapnya yang terhirup secara tidak langsung.

"Walaupun memang yang paling berat adalah perokok itu sendiri, karena pada asapnya itu ada sel-sel radang yang menyebabkan kemampuan pertahanan tubuh kita berkurang. Sehingga saat terinfeksi virus dan penyakit-penyakit lain, lebih gampang terserang," tambah Vito.

Dia menambahkan bahwa penyakit tidak menular seperti penyakit jantung memang tidak perlu vaksin khusus untuk melawannya. Penyakit ini bisa dicegah dengan menjaga pola hidup yang sehat. Menurut dia, penerapan gaya hidup sehat dapat menurunkan risiko terkena penyakit jantung koroner atau serangan jantung hingga 80 persen.

"Perlu untuk memperhatikan risiko penyakit jantung, risiko penyakit pembuluh darah lainnya, bahkan risiko penyakit paru-paru selain Covid-19, sehingga orang yang masih merokok dan kurang aktivitas fisik, harus mengubah gaya hidup mereka agar lebih sehat," ujarnya.

Selain itu, olahraga juga perlu terus diperhatikan. Dengan olah raga, tubuh akan bergerak. Sementara itu, di saat tubuh bergerak sirkulasi darah di dalam tubuh menjadi lancar, imunitas juga ikut meningkat.

"Sirkulasi kita lancar tercipta saat kita bergerak dan aktivitas pompa jantung kita lebih baik. Jadi pada akhirnya kita bisa menjaga tubuh kita secara keseluruhan untuk kuat menghadapi penyakit dan risiko penyakit jantung sekaligus," papar Vito.

Pada saat bekerja dari rumah, lanjutnya, sebaiknya mengambil waktu 30 menit berdiri dan berjalan-jalan setelah duduk berjam-jam di depan layar komputer.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Nasional Reisa Broto Asmoro menyebutkan bahwa pandemi Covid-19 masih menghadang. Oleh karena itu, dia mengajak masyarakat untuk terus memerhatikan dan menjaga kondisi tubuhnya.

"Pastikan kita tetap produktif, tetapi aman dari Covid-19. Tetap disiplin menerapkan 3M yakni memakai masker, menjaga jarak aman minimal 1 meter, dan mencuci tangan pakai sabun. Praktikkan sebagai satu kesatuan, karena 3M ini satu paket," tutur Reisa.

(ang/fjr)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK