SUDUT CERITA

Perjuangan Osy Berdamai dengan Diabetes

tim, CNN Indonesia | Sabtu, 14/11/2020 13:00 WIB
Titik balik kehidupan Machrosin dimulai lima tahun lalu. Pria yang akrab disapa Osy ini mulai merasakan ada yang tak biasa pada tubuhnya, dia divonis diabetes. Titik balik kehidupan Machrosin dimulai lima tahun lalu. Pria yang akrab disapa Osy ini mulai merasakan ada yang tak biasa pada tubuhnya, dia divonis diabetes.(iStockphoto/adventtr)
Jakarta, CNN Indonesia --

Titik balik kehidupan Machrosin dimulai lima tahun lalu. Pria yang akrab disapa Osy ini mulai merasakan ada yang tak biasa pada tubuhnya.

Setiap bangun pagi, tubuhnya selalu lemas. Tak cuma itu, dia juga merasakan haus yang tak biasa, buang air kecil yang lebih sering, berat badannya menurun drastis, dan sering kesemutan.

"Tidak ada merasa sakit di bagian tertentu. Tapi, kalau malam aku sering buang air kecil hampir setiap dua jam sekali dan saat tidur jadi terbangun misalnya jam 9, lalu jam 11, jam 1, dan jam 3," kata Osy kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.


Karena khawatir, Osy yang saat itu masih berusia 25 tahun langsung memeriksakan kondisinya ke dokter.

Saat itu, dokter pun kesulitan mendiagnosis penyakit yang dialaminya. Pasalnya, tak ada rasa sakit fisik yang dirasakannya. Butuh berulang kali pertemuan ditambah pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kondisi Osy. Hingga akhirnya dokter memvonisnya dengan diabetes tipe 1.

"Observasinya panjang sekali ada beberapa rangkaian sampai dokter memutuskan ini adalah tipe 1," ucap pria asli Jawa Tengah ini.

Osy merupakan orang dengan diabetes. Dia sudah lima tahun hidup dengan diabetes tipe 1.Foto: Arsip Pribadi
Osy sudah lima tahun hidup dengan diabetes tipe 1.

Diabetes tipe 1 merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula atau glukosa dalam darah karena tubuh tidak bisa memproduksi insulin. Diabetes tipe 1 lebih banyak dijumpai pada usia muda dan dikaitkan dengan autoimun.

Sedangkan diabetes tipe 2 berhubungan dengan kenaikan kadar gula darah berkaitan dengan gaya dan pola hidup yang buruk dan umumnya muncul pada usia yang lebih tua seperti 40 tahun ke atas.

Baik diabetes tipe 1 maupun tipe 2 ditandai dengan kadar gula darah di atas 200 mg/dl dengan munculnya gejala berupa lelah dan lemas, kehausan sangat, sering buang air kecil, dan berat badan menurun. Sama seperti yang dialami Osy.

Bagi Osy, diabetes merupakan kata yang asing. Dia tak begitu paham mengenai penyakit yang diidapnya tersebut.

"Awalnya bingung sekali, enggak paham apa bisa disembuhkan atau tidak bisa disembuhkan. Tapi, setelah berganti dokter, ada satu momen aku jadi tahu diabetes itu nggak bisa disembuhkan," ungkap Osy.

Sejak saat itu, Osy mulai mencari tahu mengenai diabetes. Dia mencari informasi mengenai dampak diabetes seperti komplikasi yang akan muncul jika tidak dijaga dan gaya hidup sehat untuk mengontrol diabetes.

Sama seperti penderita diabetes lainnya, sulit bagi dia untuk bisa menerima kondisinya saat itu. Pengobatan berupa suntik insulin hingga lebih dari lima kali setiap hari untuk mengontrol gula darah harus dijalaninya. Osy harus menerapkan gaya hidup sehat dengan berolahraga setiap hari dan mengonsumsi makanan yang sehat dan seimbang.
 
Sejak vonis itu, mau tak mau dan suka tak suka, dia harus mengubah gaya hidupnya. Dia tak lagi boleh makan sembarangan agar gula darahnya tak melonjak tiba-tiba. Dia harus mengatur kalori yang masuk dengan insulin yang akan diberikan. Setiap bulan Osy juga harus memeriksakan kondisi tubuhnya ke rumah sakit.

"Butuh waktu dua tahun untuk benar-benar bisa menerima ini, menyuntiknya jadi lebih ikhlas, ketemu dokter jadi lebih enteng," ucap Osy.

Doctor writing word DIABETES with marker, Medical conceptFoto: iStockphoto/Michail_Petrov-96
Diabetes

Bagi Osy, dukungan orang terdekat, pengobatan, dan gaya hidup sehat yang dijalani merupakan cara terbaik untuk terus melanjutkan hidup dan menyayangi dirinya. Diabetes bukan hambatan untuk bisa tetap beraktivitas. Osy berhasil membuktikannya bahwa dia bisa tetap aktif dan bekerja di salah satu perusahaan swasta.

"Dulu rasanya anti banget sama jarum suntik, sekarang sudah enggak ada beban lagi. Dan ini merupakan cara paling benar dan terbaik. Lima tahun ini aku bangga bisa komitmen mengontrol gula darah dan bisa menjadi lebih kuat lagi dari sebelumnya," tutur Osy.

Di masa pandemi Covid-19, tak ada alasan bagi Osy untuk berhenti menjalani gaya hidup sehat. Dia harus tetap mengontrol gula darah dan juga menjaga diri dari virus corona.

Osy menyebut pandemi membuatnya mesti beradaptasi kembali dengan menerapkan protokol kesehatan untuk setiap kali kunjungan ke rumah sakit, berolahraga di luar ruangan, dan berbelanja bahan makanan.

"Sebagai diabetesi di tengah pandemi merupakan satu hal yang luar biasa karena hidup dengan diabetes pencegahannya dan perjuangannya dobel," ungkap Osy

Dalam rangka memperingati Hari Diabetes Sedunia setiap 14 November, Osy memberikan semangat pada seluruh orang dengan diabetes di Indonesia.

"Kita bisa berdamai dan menerimanya lalu melakukan perawatan agar kualitas hidup lebih baik," ucap Osy.

(ptj/chs)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK