SUDUT CERITA

ODHA: 'Kalau Saya Mati Duluan, Anak-anak Gimana?'

tim, CNN Indonesia | Selasa, 01/12/2020 16:20 WIB
Ponsel Uli, ODHA sekaligus konselor tidak pernah 'sepi' dari curhatan soal kesehatan dan Aids. Dia mencoba tenang, padahal dia sendiri juga panik dan was-was. Ponsel Uli, ODHA sekaligus konselor tidak pernah 'sepi' dari curhatan soal kesehatan dan Aids. Dia mencoba tenang, padahal dia sendiri juga panik dan was-was. (Istockphoto/Vasyl Dolmatov)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ponsel Uli, ODHA sekaligus relawan konselor di Yayasan Intermedika Prana, tidak pernah 'sepi'. Ada saja keluhan maupun curhat yang masuk dari kawan-kawan sesama ODHA. Baru tadi pagi ia menerima telepon seorang teman.

"Uli, saya tidak tahu harus ngomong apa," kata dia mengingat percakapan tadi pagi.

"Kenapa?"


"Istri saya dibawa ke rumah sakit. Katanya oksigennya cuma 6, katanya enggak bisa naik lagi, dicurigai dia corona, sementara dia positif, saya harus gimana?"

Ia menarik napas panjang agar tidak larut dalam panik. Uli mengingatkan masih ada dua anak yang harus diurus saat istri sang teman itu sakit. Ia tidak ingin kondisi temannya itu ikut-ikutan drop.

"Kakak itu sudah minum obat antivirus, mikir positif saja, mudah-mudahan enggak ada masalah. Pokoknya tetap waspada, jaga jarak, itu protokol kesehatan," ujarnya.

Itu baru satu curhat, sedangkan masih ada beberapa curhat lain yang menanti ia respons. Tiada hari tanpa masalah, apalagi ditambah kondisi pandemi yang membuatnya makin was-was. 

Depresi

Meski jadi seorang konselor, tak berati membuat dia bebas kecemasan. Dia mungkin saja bisa bersikap tenang dan menjadi pendengar yang baik agar teman-temannya merasa lebih tenang. Tapi di balik itu, pandemi saat ini juga membuatnya cemas, panik, bahkan depresi. Bukan cuma prihatin akan nasib kawan-kawannya, tapi juga nasib dia dan keluarganya.

Ditambah saat ini dia tak lagi tinggal bersama kedua anak kembarnya. Kedua anak kembarnya dirawat oleh keluarga almarhum suaminya di Bekasi. Alhasil waktunya bertemu dengan kedua buah hatinya pun semakin sulit. 

Ia teringat, di awal masa pandemi ia mengalami nasib serupa. Ada rasa cemas, takut, sampai stres hebat yang melanda. Serasa kematian semakin dekat saja.

Bukan tanpa alasan Uli merasa takut, namun HIV/AIDS telah merenggut nyawa suami dan anak pertamanya beberapa tahun lalu. Kini yang tersisa hanya dirinya dan kedua anak kembar. Salah satunya juga ODHA.

"Kalau saya duluan yang mati gimana ini anak-anak saya?" keluhnya.

Ia yang biasanya aktif di Puskesmas dan diperbantukan ke berbagai fasilitas kesehatan jadi menutup diri. Untuk sekadar mengambil obat ARV pun, ia minta tolong teman pendamping. Aliran informasi di grup pun tidak jarang membuatnya bergidik. Bayangkan, di dalam tubuh sudah ada virus, ditambah ada virus lain 'bergentayangan'.

"Ada tetangga datang, tidak tahu dia benar atau bercanda, bilang 'Saya positif (Covid-19)', habis rapid test. Wah saya pulang, kunci pintu, lalu mengungsi ke tempat teman," katanya.

Kedua anak yang tinggal dengan kakak ipar pun makin jarang ia temui. Tidak hanya itu, pandemi juga membuatnya jadi panic buying. Segala bahan pangan ia siapnya lumayan banyak demi mengurangi interaksi dengan orang lain.

Hingga pada akhirnya, ia berkonsultasi dengan beberapa dokter, juga psikolog. Dari mereka, perlahan Uli memahami bahwa siapapun rentan terkena Covid-19 termasuk ODHA. Ia pun lega tidak memiliki penyakit penyerta yang terbilang bisa membuat infeksi makin parah. Ia 'hanya' memiliki virus yang akan terus bersama dirinya seumur hidup. Virus ini pun sudah punya pawangnya sendiri yakni, ARV.

Uli sadar bahwa profesinya sebagai relawan konselor menuntut dirinya untuk bisa menguasai diri, menguasai rasa takut dan cemas. Buatnya, tidak etis jika ia panik saat berhadapan dengan kawan-kawan ODHA yang berkonsultasi.

"Kembali ke diri saya dulu, saya memberikan kekuatan pada orang sementara diri saya rapuh. Saya bohong. saya harus belajar kuat dulu. Saat orang datang pada saya, WhatsApp saya, telepon saya, saya sudah punya kekuatan untuk memberikan support. Saya pernah merasakan, saya konseling tapi tidak mendapatkan sesuatu yang saya cari," ucapnya.

Human crowd forming  AIDS text on white background. Horizontal  composition with copy space. Directly above. Clipping path is included. AIDS awareness concept.Foto: Istockphoto/MicroStockHub
ilustrasi

Keluhan yang ia terima kerap seputar efek konsumsi ARV, stres karena positif, stigma negatif dan kini tambah seputar pandemi. Ia pun mengingatkan para ODHA untuk rajin minum ARV dan jangan sampai putus, menjaga pola hidup sehat dan menjalankan protokol kesehatan.

"Kadang ada yang 'Wah gue HIV, kena lagi virus corona, bikin mati', enggak, enggak seperti itu. Begini, saya sudah tahu positif (HIV/AIDS), saya minum obat. Aman. Kemudian saya tahu ada Covid-19, saya menjalankan protokol kesehatan," ujarnya.

(els/chs)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK