Pakar Imunisasi: Efek Jangka Panjang Covid-19 Masih Diteliti

Satgas Covid-19, CNN Indonesia | Rabu, 02/12/2020 19:00 WIB
Pakar Imunisasi Jane Soepardi menyebut selain reinfeksi yang masih membayangi penyintas Covid-19, dampak jangka panjangnya masih diteliti hingga kini. Pakar Imunisasi Jane Soepardi menyebut selain reinfeksi yang masih membayangi penyintas Covid-19, dampak jangka panjangnya masih diteliti hingga kini. (Foto: CNNIndonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Dunia masih memantau dampak lanjut penyintas Covid-19. Penelitian terhadap dampak jangka panjang Covid-19 belum terang sehingga masyarakat disarankan tetap waspada dan melakukan protokol kesehatan.

Pakar Imunisasi Elizabeth Jane Soepardi mengungkapkan bahwa selain reinfeksi yang masih membayangi penyintas Covid-19, kondisi jangka panjang mereka belum diketahui. Pakar kesehatan di seluruh dunia masih melakukan penelitian terkait hal ini.

"Artinya, Covid-19 ini kita tidak tahu ke depannya ini nanti bisa menjadi apa. Jangan merasa bangga kena covid lalu sembuh. Belum tentu. Orang yang pernah Covid-19, dunia pantau terus. Tahun depan akan menjadi apa, 3 tahun, 4 tahun, 10 tahun, 20 tahun. Ini masih diteliti," ujar Jane seperti dikutip dalam materi edukasi #SatgasCovid19 yang diunggah pada Jumat lalu (27/10).


Sementara itu, ABC News menuliskan semakin banyak laporan dan penelitian yang mencatat pengalaman pasien Covid-19 yang telah sembuh, tapi mereka masih merasa kelelahan, sesak napas, atau nyeri pada otot.

Ahli virologi dari Queensland University Kirsty Short menyebut banyaknya pasien yang mengalami efek jangka panjang ini masih sulit untuk diperkirakan secara pasti karena virus ini masih baru.

Berbagai gejala yang muncul saat seseorang terinfeksi seperti demam, batuk terus-menerus, sesak napas, hingga kehilangan fungsi indra penciuman. Tetapi, pandemi ini juga menyebabkan efek jangka panjang pada pasiennya.

"Ini (efek pada kesehatan) pasti terjadi, hanya saja belum bisa mengetahui seberapa umum itu terjadi," kata dia.

Satgas Covid-19 pun hingga kini menegaskan satu-satunya jalan terbaik adalah mencegah untuk terjadi penularan. Salah satu cara efektifnya adalah tetap menaati protokol kesehatan serta mendukung praktik 3T (Tracing, Testing, Treatment).

Protokol kesehatan itu diantaranya adalah #ingatpesanibu untuk #pakaimasker, #cucitangan pakai sabun, dan #jagajarak hindari kerumunan.

(ayo/fef)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK