Ilmuwan Ramal Disease X Jadi Pandemi Global Baru

CNN Indonesia | Minggu, 03/01/2021 12:22 WIB
Para ilmuwan memperingatkan dunia covid-19 bukan pandemi terakhir di bumi ini. Mereka meramalkan ada pandemi baru setelah covid-19. Ilmuwan memperingatkan disease X bisa menjadi pandemi baru yang menghantui dunia usai corona. Ilustrasi. (iStockphoto/Nastasic).
Jakarta, CNN Indonesia --

Para ahli meramal pandemi covid-19 tidak akan menjadi yang terakhir di bumi ini. Mereka memperkirakan ada pandemi baru setelah covid-19.

Meski belum mengetahui asal usulnya, namun para ahli menduga Disease X atau penyakit X akan menjadi sumber pandemi selanjutnya.

Disease X adalah nama yang diberikan kepada virus misterius yang mengancam kesehatan manusia meski belum diketahui sumbernya.


Disease X ada dalam daftar pendek patogen yang dianggap sebagai prioritas utama untuk penelitian oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), di samping virus lain yang telah diketahui seperti SARS dan Ebola.

Mengutip EcoHealth Alliance, setiap tahunnya WHO memperbarui daftar tersebut dengan panduan dari para ahli di semua bidang studi ilmiah tentang patogen yang paling mengancam penyebab pandemi global berikutnya.

Meskipun dunia telah melihat dampak yang dapat ditimbulkan oleh sebagian besar virus yang menyebabkan pandemi seperti SARS, Ebola, dan Zika, namun belum ada yang tahu apa yang dapat dilakukan Disease X.

Saat ini ilmuwan memperkirakan ada 1,67 juta virus yang tidak diketahui di planet ini. Mereka memperkirakan sekitar 631 ribu hingga 827 ribu virus di antaranya berpotensi menginfeksi manusia.

Para ahli mendeteksi sebanyak 263 virus dapat menginfeksi manusia. Artinya, kita tak tahu apa-apa soal 99,96 persen ancaman pandemi selanjutnya.

Menurut Dr Kenneth Iserson, banyak dari kita akan menyaksikan pandemi selanjutnya. Artinya pandemi mungkin terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan.

Profesor emeritus pengobatan darurat di Universitas Arizona, Amerika Serikat ini menyebut dunia sudah melihat sejumlah penyakit baru yang berpotensi berkembang menjadi Disease X.

"Mungkin ada penyakit menular lain yang tidak dikenali dan sudah beredar fan dapat memiliki implikasi menghancurkan. Tetapi tanggapan yang berbeda, bermotivasi politik dan tidak terkoordinasi terhadap covid-19 menunjukkan bahwa kita belum belajar banyak dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi pandemi di masa depan," katanya seperti dikutip dari Straits Times, Minggu (3/1).

Covid-19 adalah bagian dari Disease X yang menyeret dunia ke dalam krisis pada 2020. Saat berbagai negara mulai meluncurkan vaksin memerangi covid-19, virus tak dikenal berikutnya mungkin sudah mengintai.

"Vaksin dan perawatan lebih reaktif daripada pencegahan," kata Presiden Yayasan Kesehatan Masyarakat India Dr K. Srinath Reddy.

"Mereka bukan bentuk perlindungan jangka panjang yang pasti. Mikroba juga belajar bermutasi. Lebih penting lagi, pandemi baru dapat mulai dan mendatangkan malapetaka sebelum kita dapat mengembangkan vaksin atau menguji obat untuk melawan mereka," lanjutnya.

Tindakan pencegahan terbaik terhadap pandemi berikutnya, kata Dr Iserson, adalah pengawasan aktif dari dunia internasional, terutama di titik panas untuk penyakit baru, seperti China, lembah Amazon, dan Afrika tengah.

"Itu membutuhkan dana yang memadai, koordinasi, dan kemauan politik untuk segera mempublikasikan dan bertindak ketika agen penular baru diidentifikasi," tegasnya.

Sisi positifnya, meskipun sebagian besar dunia sejauh ini tidak terlalu memperhatikan pentingnya mencegah Penyakit X, dengan fokusnya yang kuat untuk menundukkan covid-19, pemerintah tertentu sudah memikirkan beberapa langkah ke depan dengan membuat rencana baru dengan mengucurkan lebih banyak dana.

AS, misalnya, telah berkomitmen sebesar US$82 juta atau setara Rp1,16 triliun (kurs Rp14.200) selama lima tahun untuk mendirikan dan mendukung Pusat Penelitian dalam Penyakit Menular yang Muncul (Creid).

Itu merupakan sebuah jaringan pengawasan global yang bertugas mendeteksi patogen pandemi berikutnya sebelum ditularkan dari satwa liar ke manusia.

Saat mengumumkan pendirian Creid pada Agustus, pakar penyakit menular terkemuka di negara itu, Dr Anthony Fauci menjelaskan bahwa krisis virus corona adalah faktor pendorong utama.

"Dampak pandemi covid-19 berfungsi sebagai pengingat yang kuat akan kehancuran yang dapat ditimbulkan ketika virus baru menginfeksi manusia untuk pertama kalinya," katanya.

Sebelumnya, ahli mengklaim menemukan gejala Disease X di Afrika. Gejala ditemukan pada seorang pasien usai  menjalani pemeriksaan.

Awalnya, pasien itu mengalami gejala awal demam berdarah. Setelah dicek, termasuk pengetesan termasuk Ebola.

Namun, hasilnya negatif. Ia diperiksa di National Institute of Biomedical Research (INRB) di Kinshasa, ibu kota Republik Demokratik Kongo.

Sebelumnya pasien ini diisolasi untuk menghindari infeksi Ebola. Anak-anaknya juga telah dites, namun sampai saat ini tidak menunjukkan gejala apa pun.

Menurut Dr. Dadin Bonkole, ini bukan kemungkinan yang berasal dari fiksi ilmiah (science fiction), namun ketakutan ilmiah yang berdasarkan fakta ilmiah.

"Kita semua sudah seharusnya takut," kata Bonkole dikutip dari CNN, Minggu (3/1).

"Ebola tidak dikenal sebelumnya. Covid-19 tidak dikenal sebelumnya, kita harus takut dengan penyakit-penyakit baru," imbuhnya.

(wel/agt)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK