Kata Psikolog soal Pelaku Mesum di Halte Senen

tim, CNN Indonesia | Senin, 25/01/2021 19:48 WIB
Psikolog memberi pendapat soal pelaku asusila atau mesum di halte bus di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Ilustrasi. Psikolog memberi pendapat soal pelaku asusila atau mesum di halte bus di kawasan Senen, Jakarta Pusat. (iStockphoto/Coldsnowstorm)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pihak kepolisian meringkus pelaku asusila atau mesum di halte Senen, Jakarta Pusat pada Jumat (22/1) lalu. Pelaku berinisial MA ini mengaku diberi imbalan Rp22 ribu atas aksinya.

Kapolsek Senen Kompol Ewo Samono berkata tersangka menyebut uang imbalan digunakan untuk jajan atau memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dia menambahkan saat ini penyidik masih mendalami motif perbuatan tersangka. Tersangka pun akan menjalani tes kejiwaan untuk memastikan tersangka tidak dalam pengaruh alkohol dan narkoba.


"Nanti yang bersangkutan kita periksakan ke rumah sakit untuk kejiwaannya," ucap Ewo pada wartawan, Senin (25/1).

Melihat fenomena ini, psikolog Mira Amir berpendapat bahwa aksi tersangka tidak berhubungan dengan masalah kesehatan mental.

Terlebih ketika aksi tersebut terjadi di kawasan Senen. Dia berkata kawasan ini memang identik dengan tingkat kriminalitas tinggi.

"Kalau bicara psikologi itu, kita juga bicara tentang lingkungan. Jadi kehidupan manusia enggak lepas dari di mana dia berada. Daerah situ memang identik dengan area kriminal tinggi dari dulu. Aksi asusila yah likely happened," kata Mira pada CNNIndonesia.com, Senin (25/1).

Pendapatnya bukan tanpa alasan. Dari informasi yang diberikan pihak kepolisian, tersangka memperoleh imbalan Rp22 ribu dan digunakan untuk jajan.

Aktivitas jajan ini cenderung sepele, receh. Ada kemungkinan tersangka melakukannya berulang dan jadi sesuatu yang biasa.

"Rp22 ribu buat beli apa? Dia enggak ngomong buat makan lho, buat jajan. Ini sepele, receh buat dia. Jajan kan bisa jajan sekarang, nanti ada lagi uangnya, jajan lagi," lanjutnya.

Kemudian, membedah dari sisi tersangka lain yang masih buron atau si laki-laki, Mira menyebut ada kemungkinan kondisinya '11-12' dengan MA.

Transaksi seks terjadi di tempat tidak biasa akibat kemampuan ekonomi terbatas.

Jika si laki-laki dari golongan mampu, mungkin transaksi seks tidak terjadi di halte atau pinggir jalan.

"Laki-lakinya tahu bisanya begitu, kegiatannya mungkin maksimal 5 menit, punyanya (uang) segini," ujarnya.

(els/agn)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK