China Khawatir Banyak Remaja Laki-laki Semakin Feminim

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 09/02/2021 16:31 WIB
Pemerintah dan sebagian masyarakat percaya bahwa remaja laki-laki China semakin terlihat feminim dan lembut layaknya perempuan. Ilustrasi. Pemerintah dan sebagian masyarakat percaya bahwa remaja laki-laki China semakin terlihat feminim dan lembut layaknya perempuan. (iStockphoto/Asia-Pacific Images Studio)
Jakarta, CNN Indonesia --

China disebut tengah menghadapi krisis maskulinitas. Pemerintah dan sebagian masyarakat percaya bahwa remaja laki-laki China semakin terlihat feminim dan lembut layaknya perempuan.

"Saat ini, anak perempuan menjadi lebih seperti anak laki-laki. Sedangkan anak laki-laki menjadi lebih seperti perempuan, tertutup dan pemalu," ujar salah seorang warga, Huang, mengutip NBC News.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh sejumlah warga lainnya. Banyak orang tua berpendapat bahwa anak laki-laki di zaman sekarang yang tidak tampil maskulin dibandingkan saat mereka berusia muda.


Sejumlah akademisi menyebutnya sebagai 'krisis maskulinitas'. Kondisi ini ditengarai sebagai buntut dari kebijakan satu anak yang berlaku di China. Dengan kebijakan itu, orang tua akan memberikan segala perhatiannya untuk anak semata wayangnya.

"Masalahnya adalah banyak keluarga memanjakan anak semata wayangnya dengan cinta dan perhatian," ujar seorang warga lain, Sheng, ibu dari satu anak laki-laki. Cinta dan perhatian yang diberikan secara penuh itu dianggap perlahan membuat anak laki-laki menjadi lembut, jauh dari sifat tangguh sebagaimana yang sering diidentikkan dengan sosok laki-laki.

Tak cuma itu, kehadiran bintang pop laki-laki di China juga dianggap menjadi biang kerok. Grup boyband TF Boys, misalnya, yang sangat populer di China, disebut memberikan gambaran yang keliru soal sosok laki-laki.

Banyaknya perempuan yang berprofesi sebagai tenaga pendidik atau guru di sekolah-sekolah juga disebut berpengaruh. Dengan cara itu, siswa laki-laki jarang mendapatkan gambaran sosok 'laki-laki sejati'.

Meningkatkan Maskulinitas di Sekolah

Maraknya laki-laki yang berlaku feminim ini tampaknya membuat pemerintah gusar. Berbagai cara dilakukan.

Sebuah buku berjudul Little Men dirilis dan digunakan untuk siswa kelas 4 dan 5 di sejumlah sekolah di seantero negeri. Buku ini bertujuan untuk mengajari anak laki-laki menjadi lebih maskulin.

Buku membahas perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan, pentingnya hubungan ayah-anak, hingga pentingnya untuk berinteraksi dengan alam bagi laki-laki.

Teranyar, pemerintah China, lewat Kementerian Pendidikan, memberikan pemberitahuan atau seruan tertulis yang mendorong setiap sekolah untuk meningkatkan semangat maskulinitas.

[Gambas:Instagram]



Mengutip New York Times, lewat pemberitahuan tertulis berjudul "Proposal untuk Mencegah Feminisasi pada Pria" ini, sekolah disarankan untuk memperbanyak pelajaran olahraga bagi laki-laki. Sekolah juga direkomendasikan untuk menambah tenaga pengajar olahraga laki-laki demi memberikan gambaran sosok 'laki-laki sejati' untuk para siswa.

Pemberitahuan itu pun memicu respons warganet. Beberapa pengguna media sosial setuju atas saran tersebut. "Sulit membayangkan anak laki-laki 'banci' seperti itu dapat membela negara," tulis salah seorang warganet.

Namun, beberapa yang lain justru melihatnya sebagai diskriminasi seksual atau upaya pemerintah melestarikan stereotip gender.

"Anak laki-laki juga manusia.. menjadi emosional, pemalu atau lembut. Ini adalah karakteristik manusia."

Media pemerintah, CCTV, juga mempertanyakan rencana tersebut. "Pendidikan bukan hanya tentang menciptakan 'pria' dan 'wanita'. Lebih penting untuk mengembangkan kemauan untuk mengambil tanggung jawab," tulis mereka.

Dalam beberapa tahun terakhir, China memang tengah berusaha untuk mengatasi krisis maskulinitas, salah satunya dengan program militer. China berharap banyak anak laki-laki yang ingin menjadi tentara.

Namun, 'krisis maskulinitas' justru membuat banyak anak laki-laki ogah terjun ke dalam dunia militer.

Sebelumnya, media pemerintah sempat menyalahkan video game, masturbasi, dan kurangnya olahraga yang membuat banyak pria muda tak layak masuk militer.

(asr/asr)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK