Alasan Diet Ekstrem Tak Disarankan saat Pandemi Covid-19

Antara, CNN Indonesia | Rabu, 03/03/2021 20:05 WIB
Ahli mengatakan bahwa melakukan diet ekstrem saat pandemi tidak disarankan karena akan menyebabkan sejumlah gangguan kesehatan pada tubuh. Ilustrasi. Ahli mengatakan bahwa melakukan diet ekstrem saat pandemi dapat menyebabkan sejumlah gangguan kesehatan pada tubuh. (iStockphoto/Morozov_photo)
Jakarta, CNN Indonesia --

Di tengah masa pandemi Covid-19 yang belum mereda, menjaga kesehatan merupakan salah satu hal utama, termasuk dengan tidak menjalankan diet secara ekstrem.

Ketua Indonesia Sport Nutrisionis Association (ISNA) dr. Rita Ramayulis mengatakan bahwa melakukan diet ekstrem saat pandemi tidak disarankan karena akan menyebabkan sejumlah gangguan kesehatan pada tubuh.

"Diet saat pandemi dibolehkan, hanya saja jangan ekstrem. Dietlah dengan mengatur makanan yang mengatur sistem imunitas tubuh (dengan baik)," kata Rita kepada Antara, Rabu (3/3).


Lebih lanjut, Rita mengatakan bahwa melakukan diet ekstrem atau ketat dapat mengganggu keseimbangan asam basa, metabolisme tubuh, hingga malnutrisi.

Kerusakan metabolik itu akan menyebabkan proses peradangan dalam tubuh, dan dapat melemahkan imunitas. Diet ekstrem mungkin dapat memangkas beberapa kilogram dari berat badan, tapi metabolisme juga bisa terpengaruh.

"Melakukan diet ekstrem tidak disarankan, karena bisa jadi yang berkurang adalah air, massa otot dan massa tulang. Pada saat proses penurunan berat badan, yang seharusnya hilang adalah lemak," kata Rita.

Dia kemudian membagikan sejumlah hal yang perlu diperhatikan bagi mereka yang ingin melakukan diet sehat selama pandemi.

Pertama adalah defisit energi atau defisit kalori untuk menurunkan berat badan.

Kalori dalam makanan menyediakan energi dalam bentuk panas, sehingga tubuh dapat berfungsi dengan baik, bahkan ketika tubuh sedang beristirahat sekali pun.

"Selanjutnya adalah meningkatkan asupan tinggi protein rendah lemak, dan zat gizi seimbang. Lalu, asupi tubuh dengan makanan yang mengandung zinc, vitamin C, vitamin E, beta karoten, dan zat besi," jelasnya.

Kelima zat tersebut, menurutnya merupakan zat yang memiliki sifat antioksidan yang diperlukan tubuh untuk melawan efek dari paparan radikal bebas.

Radikal bebas dapat merusak susunan DNA sel, meningkatkan kadar kolesterol jahat di dalam tubuh, menyebabkan peradangan, dan melemahkan daya tahan tubuh.

Sementara, untuk hal yang harus dihindari, yang pertama adalah makanan dan/atau minuman yang terlalu manis.

Makanan tinggi gula mengakibatkan ketidakseimbangan nutrisi karena Anda akan lebih banyak memilih makanan yang tinggi glukosa dibandingkan makanan yang mengandung vitamin, mineral, protein dan serat.

Selain itu, mengonsumsi gula berlebih juga dapat menekan sistem imunitas.

Kementerian Kesehatan RI sudah memberikan batasan konsumsi gula yang disarankan per orang per hari adalah tidak lebih dari 50 gram (4 sendok makan).

Sama halnya dengan gula, konsumsi minyak maupun makanan sumber lemak secara berlebih dapat pula menekan sistem imunitas dan mengurangi kemampuan sel darah putih dalam menghancurkan bibit penyakit.

Mengonsumsi makanan sumber lemak berlebih bahkan dapat menimbulkan risiko berbagai penyakit berbahaya, karena sel lemak yang berlebih dapat memicu pelepasan zat kimia yang berakibat pada peradangan kronis dan akhirnya merusak jaringan-jaringan sehat.

"Hal selanjutnya yang harus dihindari adalah makanan yang digoreng dengan minyak banyak, dan/atau minyak yang sudah dipakai berulang. Disarankan untuk merebus atau mengukus (makanan) tersebut hingga setengah dan/atau matang terlebih dahulu. Jika ingin menambah cita rasa, bisa di-pan seareddengan sedikit minyak," katanya. Rita.

Batas konsumsi lemak yang disarankan Kementerian Kesehatan RI adalah hanya 67 gram (5 sendok makan minyak) per orang per hari.

Kementerian Kesehatan juga menerbitkan panduan "Isi Piringku" yang diharapkan bisa membantu mencegah kelebihan berat badan hingga obesitas.

"Isi Piringku" ini berarti membagi 1/3 (sepertiga) dari setengah piring untuk lauk pauk, 1/3 dari setengah piring buah, 2/3 dari setengah piring sayuran dan 2/3 dari setengah piring makanan pokok.

(agn/agn)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK