10 Parameter Penting untuk Menakar Kesehatan Pernikahan

tim, CNN Indonesia | Rabu, 14/04/2021 14:46 WIB
Bagaimana menakar sehat atau tidaknya sebuah pernikahan? Berikut parameternya. Ilustrasi pernikahan. (Pixabay/niekverlaan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Anda mungkin bisa menjawab dengan mudah ketika ditanya soal kondisi kesehatan saat ini. Barangkali Anda akan tiba dengan jawaban misalnya, suhu badan normal, tidak sedang batuk atau bersin-bersin, juga bisa beraktivitas seperti biasa.

Namun bagaimana kalau ditanya soal kesehatan pernikahan Anda. Bagaimana menakar sehat atau tidaknya sebuah pernikahan?

"Kalau kita ingin tahu pernikahan kita sehat dari mana? Nah kita pakai beberapa parameter," kata Indra Noveldy, konsultan pernikahan saat webinar bersama Parentalk x GoPay, beberapa waktu lalu.


1. Kapan terakhir kali kencan?

Dating atau kencan tidak hanya dimiliki kaum pacaran. Pasangan yang sudah menikah pun tetap memerlukan kencan. Indra menekankan bahwa kencan yang dimaksud di sini adalah kencan tanpa membawa anak. Tidak selalu urusan ranjang, kencan bisa berisi makan bersama atau sekadar ngopi berdua.

"Dating itu syaratnya enggak boleh bawa anak, enggak boleh bahas masalah keuangan, anak, pendidikan anak, sekolah anak, genteng bocor, ya pacaran aja. Ini perlu banget demi menghidupkan kembali perasaan yang dimiliki," ujarnya.

Saat lama tidak kencan atau kencan terakhir saat belum ada anak, ini jadi tanda Anda dan pasangan perlu menginisiasi sesi kencan ala zaman pacaran.

2. Masih adakah perasaan nyaman itu?

Anda perlu cek ke dalam diri, apakah masih ada rasa nyaman saat bersama pasangan? Indra mengatakan cara mengeceknya sederhana. Saat Anda mengenali diri sebagai sosok yang tenang di rumah lalu beberapa waktu terakhir menjadi sering resah, susah beradaptasi dengan situasi, berarti rasa nyaman ini absen dalam kehidupan rumah tangga.

Namun rasa nyaman memang terbilang relatif. Perlu ada diskusi bersama pasangan sebab mungkin lewat beberapa perubahan Anda merasa nyaman, tetapi bisa jadi pasangan kurang nyaman.

3. Bagaimana kualitas komunikasi?

"Komunikasi ya, bukan chit chat. Kalau tanya 'Kapan pulang?' Itu ngecek status," kata Indra.

Menurut dia, banyak orang lupa untuk mengomunikasikan apa yang dipikirkan, dirasakan. Kemudian saat sudah disampaikan, lihat lagi jika pasangan bisa menerjemahkan sama dengan apa yang kita maksudkan. Komunikasi jadi jembatan yang sangat penting.

4. Cek frekuensi dan intensitas konflik

Orang bilang konflik itu adalah 'bumbu' dalam rumah tangga. Jika ditelisik lagi, mungkinkah suatu makanan terasa lezat tanpa bumbu? Bagaimana jika suatu makanan menggunakan terlalu banyak bumbu? Indra berkata sebaiknya kita tidak mudah terjebak dengan anggapan umum bahwa konflik itu bumbu dalam perkawinan. 'Bumbu' bakal melezatkan masakan jika takarannya pas.

Pertanyaan ke-5 sampai 10

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK