LOVE STORY

Akhirnya Ku Melepas Teman Tapi Mesra di Pelaminan Orang Lain

tim, CNN Indonesia | Minggu, 28/03/2021 17:31 WIB
Menghadiri pernikahan seorang sahabat tidak pernah seberat saat dia adalah sosok yang diam-diam saya harap berdampingan di atas pelaminan. Menghadiri pernikahan seorang sahabat tidak pernah seberat saat dia adalah sosok yang diam-diam saya harap berdampingan di atas pelaminan. (CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menghadiri pernikahan seorang sahabat tidak pernah seberat hari itu. Ketika dia yang ada di atas pelaminan adalah sosok yang juga pernah diam-diam saya inginkan. 

Kisah ini tentang saya yang terjebak dalam friendzone lalu harus melepasnya di sebuah pernikahan.

Hari itu, pertengahan November 2017, saya sadar ikhlas adalah satu hal berat yang mau tak mau harus dilakukan. Begitu juga berpura-pura untuk terlihat ikut bahagia, lalu pulang dengan hati yang teramat sesak.


Dia, dengan senyum cemerlangnya yang dulu berhasil memikat saya, justru menancapkan luka semakin dalam di hati saya. Luka yang ditorehkannya selama bertahun-tahun tanpa dia sadari. Yang lebih menyakitkan lagi, saya harus tersenyum, seolah ikut berbahagia dengan dia dan pasangannya.

Dia yang sempat saya percaya dulu lebih dari seorang teman, tapi pada akhirnya harus direlakan. Kata orang, cinta tak harus memiliki dan apa yang membuat dia bahagia pasti bikin saya bahagia, ah tapi mereka tak pernah bilang kalau rasanya sesakit ini.

Namanya Irfan. Dia adalah teman yang saya kenal sedari duduk di bangku SD. Kami dipertemukan lagi di bangku SMA, dan berada dalam lingkaran pertemanan yang sama.

Irfan juga salah satu sahabat dekat mantan kekasih saya di SMA. Begitu pun dengan saya, teman dari mantan kekasihnya. Ya, memang, kami berkutat di lingkaran yang nyaris sama.

Kedekatan kami berawal setelah hubungan kami dan mantan, putus di pengujung masa SMA. Namun, itu sempat berjarak pada masa awal perkuliahan.

Dia melanjutkan kuliah di salah satu universitas swasta bergengsi di Jakarta. Sementara saya lanjut kuliah di Bandung.

Entah angin apa yang datang, hubungan kami seketika intens di tahun kedua mencicipi kampus. Lupa kapan persisnya, tapi saat itu hampir setiap malam dia menelepon.

Perbincangannya bak anak muda pada umumnya. Sekadar bicara kegiatan, cerita hal-hal konyol, berbagi lagu yang sedang kami suka, tapi yang paling berkesan, dia yang dengan pede-nya mengirimkan pesan suara berisi nyanyian sumbangnya.

Hampir setiap malam.

Semula, saya anggap itu hal yang biasa. Teman bercerita dan berbagi suka duka. Sampai akhirnya rutinitas menelepon dengannya tiap malam mulai dicurigai kawan-kawan dekat saya di Bandung. Mereka menduga bahwa saya sedang 'pdkt'.

"Faaan ngapain sih teleponin doang tiap malam? Samperin ke sini dong," celetuk seorang kawan saya saat tahu dia sedang menelepon.

Hanya tawanya yang terdengar saat merespons celoteh kawan saya saat itu.

Setelah dering telepon datang puluhan malam, pikiran saya masih menyangkal bahwa hubungan kami ini spesial. Namun, tak dimungkiri hati saya mulai berkecamuk. Celoteh teman-teman saya mulai mengganggu. Desir-desir suara hati dengan percikan getar yang tadinya putih, perlahan berubah jadi merah jambu. Apakah ini tandanya?

"Apa iya hubungan kami berubah lebih spesial? Apa iya dia sedang mendekati saya?"

Di sisi lain, benak saya merasa lebih kenal dia dari siapa pun. Saya tahu bahwa ini bukan cara dia mendekati perempuan. Dan saya tahu diri, saya ini bukan tipe perempuan yang kerap dia pacari.

Setelah hari demi hari, alih-alih mendapat jawaban dari apa yang pikiran saya, hubungan kami kian intens.

Setiap saya pulang ke Jakarta, kami cukup rutin bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Sekadar nongkrong minum kopi di kafe kekinian, jajan makanan kaki lima, hingga nonton film bersama.

Pernah sekali waktu dia meminta saya menemani service PlayStation. Atau membeli asinan favorit ibunya.

Hadiah boneka karakter favorit saya pun pernah saya terima, lalu entah bagaimana kami juga mulai tukar kado setiap ulang tahun. Kami juga punya panggilan 'sayang' masing-masing. Tak segan, terkadang memanggil satu sama lain dengan sebutan 'beb'.

Ya, jika dipikir sekarang memang seperti muda-mudi yang sedang berpacaran.

Puncaknya, saat ia mengirimkan sebuket bunga putih pada perayaan Flowers Day di kampus saya. Memang, sebelumnya saya sempat nyeletuk agar dia membelikan untuk saya.

Namun, saya tak pernah menyangka bahwa bunga itu akan datang. Satu buket yang cukup membuat heboh sirkel pertemanan saya di kampus.

Lagi-lagi, mereka jadi kompor soal hubungan yang masih saya sebut hanya sebatas sahabat.

Hati saya pun ikut mekar. Itu bunga pertama yang pernah saya terima seumur hidup saya di masa remaja.

Sejak itu, saya mulai menerima bahwa saya mulai jatuh hati dan menitipkan harapan lebih.

LOVE STORY adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" tentang kisah cinta. Kisah cinta tak melulu tentang kebahagiaan, tapi juga perjuangan, kesedihan, bahkan patah hati dan percintaan yang tak biasa. Tulisan yang dikirim minimal 800 kata. Kirimkan Love Story Anda yang menarik ke [email protected]

Melepas Kawan yang Kuharap Bersatu di Pelaminan

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK