Studi: Kurang Olahraga Tingkatkan Risiko Kematian Covid-19

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 04/05/2021 11:37 WIB
Studi terbaru menemukan, pasien Covid-19 yang kurang berolahraga dan terbiasa dengan gaya hidup sedenter berisiko mengalami gejala parah hingga kematian. Ilustrasi. Studi terbaru menemukan, pasien Covid-19 yang kurang berolahraga dan terbiasa dengan gaya hidup sedenter berisiko mengalami gejala parah hingga kematian. (iStockphoto/Ovidiu Dugulan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kurang berolahraga atau aktivitas fisik dikaitkan dengan risiko gejala parah dan kematian akibat Covid-19. Studi terbaru menemukan, pasien Covid-19 dengan gaya hidup sedentary ditemukan memiliki risiko kematian yang lebih tinggi.

Lebih spesifik, studi mencatat, orang yang tidak aktif secara fisik setidaknya selama dua tahun sebelum pandemi lebih cenderung harus mendapatkan perawatan intensif akibat Covid-19.

Melansir AFP, tidak aktif secara fisik menjadi salah satu faktor risiko kematian akibat Covid-19, setelah usia lanjut dan riwayat transplantasi organ.


"Memang, dibandingkan dengan faktor risiko lain yang dapat dimodifikasi seperti merokok, obesitas atau hipertensi, tidak aktif secara fisik adalah faktor risiko terkuat di antara yang lainnya," tulis para peneliti dalam studi yang dipublikasikan dalam British Journal of Sports Medicine.

Sebelumnya, usia lanjut, jenis kelamin laki-laki, diabetes, obesitas, dan penyakit kardiovaskular disebut-sebut sebagai faktor risiko yang memperparah Covid-19. Namun, baru studi ini yang memasukkan variabel gaya hidup sedenter sebagai faktor risiko.

Peneliti memantau sebanyak 48.440 pasien Covid-19 usia dewasa di Amerika Serikat. Mereka terinfeksi pada rentang waktu Januari-Oktober 2020.

Rata-rata pasien berusia 47 tahun. Tiga dari lima di antaranya merupakan kelompok perempuan. Rata-rata indeks massa tubuh mereka berkisar pada angka 31, tepat di atas ambang batas obesitas.

Sekitar 50 persen di antaranya tak memiliki komorbid seperti diabetes, penyakit jantung, dan lain-lain. Sebanyak 20 persen di antaranya memiliki satu komorbid, dan 30 persen lainnya memiliki dua atau lebih komorbid.

Semua pasien diminta melaporkan tingkat aktivitas fisik rutin setidaknya antara Maret 2018 hingga Maret 2020.

Sekitar 15 persen dilaporkan tidak aktif secara fisik, dengan durasi 0-10 menit aktivitas fisik per minggu. Sebanyak 80 persen melaporkan aktivitas fisik tingkat sedang, dengan durasi 11-149 menit per minggu. Dan tujuh persen di antaranya ditemukan aktif sesuai dengan pedoman kesehatan, dengan durasi 150 menit per minggu.

Peneliti menemukan, pasien Covid-19 dengan aktivitas fisik rendah atau sedang ke bawah dua kali lebih mungkin menjalani perawatan di rumah sakit dibandingkan mereka yang aktif.

Mereka juga 73 persen lebih mungkin membutuhkan perawatan intensif dan 2,5 kali lebih mungkin meninggal dunia.

Kendati demikian, penelitian ini hanya bersifat observasional. Artinya, hasil penelitian tidak dapat dijadikan patokan mengenai faktor kurangnya olahraga atau aktivitas fisik sebagai faktor risiko yang memperparah Covid-19.

Penemuan ini juga bergantung pada pelaporan mandiri pasien yang berpotensi bias.

(asr/asr)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK