Risiko dan Bahaya Berkerumun Seperti di Pasar Tanah Abang
CNN Indonesia
Senin, 03 Mei 2021 09:04 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Kerumunan seperti yang terjadi di Pasar Tanah Abang menjadi tempat yang pas untuk penularan penyakit infeksi saluran pernapasan seperti Covid-19. (Antara Foto/ADITYA PRADANA PUTRA)
Jakarta, CNN Indonesia --
Pusat perbelanjaan Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, dipenuhi oleh kerumunan masyarakat. Tak sedikit pula dari mereka yang mengabaikan protokol kesehatan. Alih-alih menjaga jarak, mereka tetap berbelanja sambil berdesak-desakan.
Pasar Tanah Abang terpantau mulai ramai sejak Sabtu (1/5). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bahkan mencatat jumlah pengunjung yang datang pada Sabtu mencapai 200 persen dari kapasitas.
Keramaian terjadi jelang Lebaran. Masyarakat rela berkerumun di tengah pandemi Covid-19 untuk berbelanja keperluan Lebaran.
Padahal, berkerumun di tengah pandemi seperti saat ini menimbulkan risiko yang tinggi, khususnya yang terkait penularan Covid-19. Apalagi jika berkerumun dilakukan tanpa mengindahkan protokol kesehatan seperti menjaga jarak dan memakai masker.
Peningkatan risiko yang sama juga berlaku jika sekelompok orang berkerumun memadati suatu area dengan tetap menggunakan masker. "Iya, tetap berisiko penularan Covid-19 [meski berkerumun dengan menggunakan masker]," ujar dokter spesialis pulmonologi dan respirasi, Erlang Samoedro pada CNNIndonesia.com, Senin (3/5).
Lebih lanjut, Erlang menjelaskan, berdesak-desakan dengan jarang kurang dari 1 meter dapat meningkatkan potensi penularan Covid-19, termasuk saat orang yang bersangkutan tetap menggunakan masker.
Erlang mengingatkan bahwa rata-rata efektivitas masker untuk mencegah penularan virus corona penyebab Covid-19 hanya berkisar antara 60-70 persen. Hal itu membuat penggunaan masker tak bisa jadi satu-satunya cara pencegahan.
"Efektivitas masker, kan, hanya 60-70 persen. Jadi, [menggunakan masker] memang tidak bisa berdiri sendiri untuk pencegahan," kata Erlang. Artinya, mengingat efektivitas masker yang tak maksimal, penularan Covid-19 masih bisa saja terjadi di tengah kerumunan.
Selain itu, Erlang menyebut, faktor masih banyaknya masyarakat yang asal-asalan dalam menggunakan masker juga disebut berkontribusi meningkatkan risiko penularan Covid-19 dalam kerumunan.
Sebagaimana diketahui, droplet pernapasan seseorang yang terinfeksi menjadi rute utama penularan Covid-19. SARS-CoV-2 juga bisa menular melalui udara atau bersifat airborne. Dalam tinjauannya, Center for Disease and Prevention Control (CDC) Amerika Serikat mencatat bahwa risiko penularan Covid-19 melalui droplet kontak langsung atau dekat dan aerosol (melalui udara) lebih tinggi dibanding penularan melalui permukaan yang terkontaminasi.
Perlu diketahui juga bahwa Covid-19 dapat ditularkan oleh orang yang tidak menunjukkan gejala atau asimtomatik. Pemerintah pernah mencatat, sebanyak 80 persen kasus Covid-19 di Indonesia ditularkan dari orang tanpa gejala. Hal tersebut senada dengan temuan CDC yang melaporkan bahwa kebanyakan kasus Covid-19 ditularkan dari orang tanpa gejala.
Dalam laporannya, CDC bahkan memperkirakan 50 persen dari semua infeksi ditularkan dari orang yang tidak bergejala. Saat seseorang tersebut berada dalam kerumunan dan tak sadar bahwa dirinya membawa SARS-CoV-2 di dalam tubuhnya, dia dengan mudah bisa menularkan Covid-19 pada orang lain yang ada di dekatnya.
Faktanya, penularan banyak penyakit yang menyerang saluran pernapasan memang ditemukan berisiko di dalam sebuah kerumunan. Sejumlah ilmuwan sempat membuat tinjauan ilmiah yang mencatat risiko penularan infeksi saluran pernapasan di dalam kerumunan, khususnya dalam ibadah haji.
Tinjauan yang dipublikasikan dalam jurnal AnnalsATS itu menegaskan bahwa pertemuan massa yang besar berisiko mengimpor atau menyebarkan infeksi saluran pernapasan ke negara asal para jemaah. Sebagian besar infeksi saluran pernapasan baru memperlihatkan gejala setelah masa beberapa hari inkubasi.
Pertemuan massal, seperti ibadah haji ini berisiko tinggi terhadap penularan infeksi saluran pernapasan seperti influenza, tuberkulosis, atau infeksi virus lainnya yang tidak diketahui atau baru seperti Covid-19.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan CDC mewajibkan penggunaan masker kain 3 lapis atau medis saat Anda berada di area publik, seperti Pasar Tanah Abang.
Anda juga disarankan untuk tidak menyentuh wajah sembarangan. Cuci tangan terlebih dahulu menggunakan hand sanitizer jika Anda ingin menyentuh wajah.
Selain itu, hindari juga menyentuh terlalu banyak permukaan. Pasalnya, Covid-19 juga bisa menular melalui menyentuh permukaan yang terkontaminasi.
Sebagai tambahan cara perlindungan, selalu cuci tangan saat tiba di rumah. Lanjutkan dengan aktivitas mandi untuk membersihkan kemungkinan potensi kuman yang menempel di tubuh atau permukaan pakaian.
Atau, jika tak terlalu diperlukan, sebisa mungkin tetap diam di rumah dan menghindari tempat ramai yang berpotensi menciptakan kerumunan seperti di Pasar Tanah Abang.
Jakarta, CNN Indonesia --
Pusat perbelanjaan Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, dipenuhi oleh kerumunan masyarakat. Tak sedikit pula dari mereka yang mengabaikan protokol kesehatan. Alih-alih menjaga jarak, mereka tetap berbelanja sambil berdesak-desakan.
Pasar Tanah Abang terpantau mulai ramai sejak Sabtu (1/5). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bahkan mencatat jumlah pengunjung yang datang pada Sabtu mencapai 200 persen dari kapasitas.
Keramaian terjadi jelang Lebaran. Masyarakat rela berkerumun di tengah pandemi Covid-19 untuk berbelanja keperluan Lebaran.
Padahal, berkerumun di tengah pandemi seperti saat ini menimbulkan risiko yang tinggi, khususnya yang terkait penularan Covid-19. Apalagi jika berkerumun dilakukan tanpa mengindahkan protokol kesehatan seperti menjaga jarak dan memakai masker.
Peningkatan risiko yang sama juga berlaku jika sekelompok orang berkerumun memadati suatu area dengan tetap menggunakan masker. "Iya, tetap berisiko penularan Covid-19 [meski berkerumun dengan menggunakan masker]," ujar dokter spesialis pulmonologi dan respirasi, Erlang Samoedro pada CNNIndonesia.com, Senin (3/5).
Lebih lanjut, Erlang menjelaskan, berdesak-desakan dengan jarang kurang dari 1 meter dapat meningkatkan potensi penularan Covid-19, termasuk saat orang yang bersangkutan tetap menggunakan masker.
Erlang mengingatkan bahwa rata-rata efektivitas masker untuk mencegah penularan virus corona penyebab Covid-19 hanya berkisar antara 60-70 persen. Hal itu membuat penggunaan masker tak bisa jadi satu-satunya cara pencegahan.
"Efektivitas masker, kan, hanya 60-70 persen. Jadi, [menggunakan masker] memang tidak bisa berdiri sendiri untuk pencegahan," kata Erlang. Artinya, mengingat efektivitas masker yang tak maksimal, penularan Covid-19 masih bisa saja terjadi di tengah kerumunan.
Selain itu, Erlang menyebut, faktor masih banyaknya masyarakat yang asal-asalan dalam menggunakan masker juga disebut berkontribusi meningkatkan risiko penularan Covid-19 dalam kerumunan.
Sebagaimana diketahui, droplet pernapasan seseorang yang terinfeksi menjadi rute utama penularan Covid-19. SARS-CoV-2 juga bisa menular melalui udara atau bersifat airborne. Dalam tinjauannya, Center for Disease and Prevention Control (CDC) Amerika Serikat mencatat bahwa risiko penularan Covid-19 melalui droplet kontak langsung atau dekat dan aerosol (melalui udara) lebih tinggi dibanding penularan melalui permukaan yang terkontaminasi.
Perlu diketahui juga bahwa Covid-19 dapat ditularkan oleh orang yang tidak menunjukkan gejala atau asimtomatik. Pemerintah pernah mencatat, sebanyak 80 persen kasus Covid-19 di Indonesia ditularkan dari orang tanpa gejala. Hal tersebut senada dengan temuan CDC yang melaporkan bahwa kebanyakan kasus Covid-19 ditularkan dari orang tanpa gejala.
Dalam laporannya, CDC bahkan memperkirakan 50 persen dari semua infeksi ditularkan dari orang yang tidak bergejala. Saat seseorang tersebut berada dalam kerumunan dan tak sadar bahwa dirinya membawa SARS-CoV-2 di dalam tubuhnya, dia dengan mudah bisa menularkan Covid-19 pada orang lain yang ada di dekatnya.
Faktanya, penularan banyak penyakit yang menyerang saluran pernapasan memang ditemukan berisiko di dalam sebuah kerumunan. Sejumlah ilmuwan sempat membuat tinjauan ilmiah yang mencatat risiko penularan infeksi saluran pernapasan di dalam kerumunan, khususnya dalam ibadah haji.
Tinjauan yang dipublikasikan dalam jurnal AnnalsATS itu menegaskan bahwa pertemuan massa yang besar berisiko mengimpor atau menyebarkan infeksi saluran pernapasan ke negara asal para jemaah. Sebagian besar infeksi saluran pernapasan baru memperlihatkan gejala setelah masa beberapa hari inkubasi.
Pertemuan massal, seperti ibadah haji ini berisiko tinggi terhadap penularan infeksi saluran pernapasan seperti influenza, tuberkulosis, atau infeksi virus lainnya yang tidak diketahui atau baru seperti Covid-19.
Cara Melindungi Diri di Tengah Kerumunan
Ilustrasi. Kerumunan seperti yang terjadi di Pasar Tanah Abang menjadi tempat yang pas untuk penularan penyakit infeksi saluran pernapasan seperti Covid-19. (CNN Indonesia/ Hendra Friana)
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan CDC mewajibkan penggunaan masker kain 3 lapis atau medis saat Anda berada di area publik, seperti Pasar Tanah Abang.
Anda juga disarankan untuk tidak menyentuh wajah sembarangan. Cuci tangan terlebih dahulu menggunakan hand sanitizer jika Anda ingin menyentuh wajah.
Selain itu, hindari juga menyentuh terlalu banyak permukaan. Pasalnya, Covid-19 juga bisa menular melalui menyentuh permukaan yang terkontaminasi.
Sebagai tambahan cara perlindungan, selalu cuci tangan saat tiba di rumah. Lanjutkan dengan aktivitas mandi untuk membersihkan kemungkinan potensi kuman yang menempel di tubuh atau permukaan pakaian.
Atau, jika tak terlalu diperlukan, sebisa mungkin tetap diam di rumah dan menghindari tempat ramai yang berpotensi menciptakan kerumunan seperti di Pasar Tanah Abang.