Penyebab Peningkatan Perilaku Seksual Berisiko pada Remaja

tim, CNN Indonesia | Minggu, 18/04/2021 11:38 WIB
Menurut riset, remaja 14-21 tahun di Jakarta, separuhnya sudah melakukan hubungan seks. Di luar Jakarta, 40-80 persen remaja sudah hubungan seks saat pacaran. Ilustrasi. Dokter Boyke menguraikan terdapat setidaknya empat faktor peningkatan perilaku seksual berisiko pada remaja. (PublicDomainPictures/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bicara soal kesehatan reproduksi, sebagian orang langsung memikirkan anak mereka yang beranjak remaja. Ada kekhawatiran anak terjerumus dalam pacaran yang tidak sehat hingga melibatkan aktivitas seksual berisiko.

Seksolog, dokter Boyke Dian Nugraha, selama berkarier di dunia pendidikan seksualitas melihat perilaku remaja selama 40 tahun terakhir tidak banyak berubah.

"Dari klinik pasutri sendiri sudah melakukan penelitian dari 2008 kemudian di 2018, angka perilaku seks khususnya di DKI Jakarta tetap tinggi. Kami pernah riset bahwa usia 14-21 tahun, separuhnya sudah melakukan hubungan seks," kata Boyke dalam webinar bersama BKKBN dan Astra, beberapa waktu lalu.


Dia menyebut aktivitas seksual ini bisa diringkas jadi KNPI atau kissing (berciuman), necking (mencium di area leher), petting (menggesekkan alat kelamin tetapi masih dalam kondisi berbusana) dan intercourse (penetrasi penis ke vagina).

Boyke mengatakan temuan di daerah-daerah luar DKI Jakarta pun tidak kalah mengejutkan. Sebanyak 40 persen sampai 80 persen remaja sudah melakukan hubungan seksual saat berpacaran atau berkencan.

Meski edukasi seputar kesehatan reproduksi terus digencarkan, angka ini tampaknya cenderung meningkat. Kenapa bisa demikian? Boyke menguraikan terdapat setidaknya empat faktor peningkatan perilaku seksual berisiko pada remaja.

1. Anggapan pendidikan seks bukan datang dari orang tua

Boyke bercerita suatu ketika ada orang tua membawa anaknya ke klinik. Orang tua ini meminta Boyke untuk memberikan nasihat seputar seksualitas buat anak.

Fenomena ini membuatnya sedih sekaligus prihatin bahwa seks dianggap tabu dan orang tua menganggap hanya kalangan tertentu yang bisa memberikan pendidikan seksualitas.

"Seakan-akan kalangan masyarakat yang bisa ngasih penyuluhan hanya dokter, guru BP, guru Biologi, tokoh agama, padahal yang paling baik itu orang tua," tegasnya.

Orang tua kerap mengeluh kesulitan menyampaikan ke anak. Ini yang menjadi 'pekerjaan rumah' buat orang tua. Sebaiknya orang tua mulai terbuka terhadap perkembangan sekarang, akses informasi beragam dan buku-buku mengenai pendidikan seksualitas pun tersedia.

Kemudian jadikan anak sebagai sahabat. Orang tua akan mengetahui perkembangan anak, anak pun tidak akan sembunyi-sembunyi dari orang tua akan apa yang dia alami.

2. Nilai agama dan budaya

Menurut Boyke, kita tidak bisa begitu saja memberikan pendidikan seksualitas tanpa memperhatikan nilai agama dan budaya suatu daerah. Dia mengakui bahwa pendidikan seksualitas di negara-negara Barat begitu berbeda dengan budaya kita.

Di sana, Anda dengan mudah memberikan nasihat untuk selalu membawa kondom saat pergi camping atau berlibur. Bagaimana dengan di sini? Tentu tidak demikian.

"Banyak perbedaan di tiap budaya, negara punya kekhasannya. Jawa beda dengan Sunda, misal, tapi kita tetap menghormati. Lakukan hubungan seks setelah menikah, bukan menikah siri lho. Jangan menikah dini, jangan menganggap perempuan nanti di dapur, hanya menguasai masalah domestik, tidak," ujarnya.

3. Penyuluhan kesehatan reproduksi belum merata

Puskesmas di kecamatan-kecamatan jadi tonggak kesehatan masyarakat di daerah. Boyke mengajak Puskesmas memiliki penyuluh sehat demi masuknya pendidikan kesehatan reproduksi hingga ke pelosok.

"Kalau diminta masuk ke SMP, dokter umum, bidan harus mampu memasukkan penyuluhan kesehatan reproduksi. Dokter di daerah apalagi, jangan mindsetnya orang ketemu dokter buat berobat saja tapi juga penyuluh, pendidik," imbuhnya.

4. Pornografi dan seks online

Kalau bukan dari orang tua atau sekolah, dari mana anak punya pengetahuan seputar seksualitas? Boyke berkata anak-anak bisa saja mendapat pengetahuan dari situs-situs di internet, seakan-akan ini bagian dari pendidikan seks. Anak pun berisiko mencoba hal-hal yang menyimpang.

Pendidikan seksualitas di masa kini, lanjut Boyke, seharusnya mengutamakan kesehatan diri. Saat kesehatan reproduksi anak maupun remaja baik, ini menentukan kesehatan generasi kelak.

"Tolong para milenial, remaja-remaja, kalian akan mengalami pubertas, manfaatkan umur kalian supaya tetap mendapatkan ilmu pengetahuan yang cukup," katanya.

(els/agn)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK