Ketika Takjil Manis Tak Melulu Buat Hidup Lebih Manis

tim , CNN Indonesia | Minggu, 25/04/2021 12:20 WIB
'Berbukalah dengan yang manis'. Slogan ini begitu lekat di kalangan masyarakat di kala Ramadan. Namun hati-hati, batasi konsumsinya. 'Berbukalah dengan yang manis'. Slogan ini begitu lekat di kalangan masyarakat di kala Ramadan. Namun hati-hati, batasi konsumsinya. (iStockphoto/MielPhotos2008)
Jakarta, CNN Indonesia --

'Berbukalah dengan yang manis'. Slogan ini begitu lekat di kalangan masyarakat di kala Ramadan.

Tak jarang ada sebagian netizen yang berseloroh 'Berbukalah dengan yang sayang karena yang manis belum tentu sayang'. Hanya saja, siapa yang tak ingin makan atau minum yang manis-manis setelah 13-14 jam perut absen dari asupan apa pun?

Memilih makanan atau minuman manis sebagai menu berbuka atau takjil memang tidak salah. Malah menurut ahli gizi sekaligus APKI Approved Educator, Irtya Qiyamulail makan makanan manis saat berbuka dianjurkan untuk mengembalikan glukosa darah tubuh menjadi normal.


Saat tubuh tidak mendapatkan makanan dalam waktu lama, kadar gula darah tubuh menurun. Bahkan orang musti hati-hati dengan kondisi hipoglikemia. Namun ini bukan berarti Anda bisa mengonsumsi makanan atau minuman manis tanpa kendali.

"Harus diperhatikan jangan sampai yang dikonsumsi adalah makanan yang berasal dari tambahan gula yang berlebihan," kata Irtya melalui surel yang diterima CNNIndonesia.com, Kamis (22/4).

Batasan yang direkomendasikan mengenai berapa banyak "gula tambahan" yang aman dikonsumsi setiap hari. Gula tambahan sendiri merujuk pada gula yang diproses (gula pasir) maupun gula alami yang ditambahkan ke dalam makanan untuk menambahkan rasa manis. Gula tambahan kerap dianggap sebagai bahan tunggal terburuk dalam diet modern.

Dalam satu hari kebutuhan asupan gula tubuh maksimal hanya 50 gram atau setara dengan 5 sendok makan.

Anda harus waspada sebab konsumsi takjil manis berlebihan malah bisa membawa masalah kesehatan. Apa saja?

1. Penurunan imunitas tubuh

Konsumsi gula berlebihan membuat imunitas tubuh menurun. Ahli gizi, Rita Ramayulis menuturkan kekebalan tubuh berhubungan dengan mikroflora usus. Keseimbangan bakteri baik bakteri jahat maupun bakteri baik penting untuk menjaga tubuh dari serangan penyakit.

Saat makan makanan atau minuman dengan kandungan gula berlebihan, keseimbangan mikroflora usus terganggu.

"Kita enggak bisa tutup mata dengan kuliner kekinian. Kita hitung-hitungan gulanya, ternyata luar biasa. Gula ini disukai bakteri jahat dan bisa menekan jumlah bakteri baik, kemampuan sel darah putih jadi lemah," kata Rita beberapa waktu lalu.

2. Peningkatan berat badan

"Tambahan gula yang berlebihan akan mengakibatkan surplus kalori apabila dilakukan terus-menerus nantinya bisa meningkatkan berat badan," kata Irtya.

Bukan tidak mungkin kelebihan berat badan ini akan mengarah pada obesitas. Melansir dari Healthline, selain pangan, minuman manis tidak menekan rasa lapar malah membuat Anda makin banyak mengonsumsi yang manis-manis.

Minuman dengan pemanis tambahan seperti jus, teh manis, banyak mengandung fruktosa atau jenis gula sederhana. Konsumsi fruktosa akan meningkatkan rasa lapar dan keinginan untuk mengonsumsi glukosa, jenis gula pada makanan bertepung. Fruktosa berlebihan juga mengakibatkan resistensi terhadap leptin atau hormon yang mengatur rasa lapar.

3. Diabetes tipe 2

Prevalensi penyakit tidak menular menunjukkan peningkatan tak hanya di Indonesia tetapi juga secara global. Risiko diabetes tipe 2 jelas di depan mata jika Anda terus mengonsumsi pangan tinggi gula berlebihan.

Hormon insulin jadi resisten akibat pasokan gula yang tinggi ke tubuh. Padahal hormon ni bertugas mengatur kadar gula dalam darah. Resistensi insulin membuat kadar gula darah makin tinggi dan berisiko mengakibatkan diabetes.

HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK