Alasan 'Lebaran di Ragunan' Selalu Jadi Wisata Favorit
Yulia Adiningsih | CNN Indonesia
Minggu, 09 Mei 2021 08:42 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Foto sebelum pandemi. Pengunjung berinteraksi dengan gajah di Taman Margasatwa Ragunan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sebelum pandemi virus Corona, pada liburan hari raya, khususnya hari raya Idul Fitri, Taman Margasatwa Ragunan jauh lebih ramai dari biasanya. Banyak rombongan keluarga dari dalam dan luar DKI Jakarta yang menyempatkan diri untuk piknik di sana.
Taman Margasatwa Ragunan mencatat, rekor pengunjung terbanyak terjadi pada Idul Fitri tahun 2015. Jumlah pengunjung kala itu tembus sampai 203.216 orang.
Suara hewan dan manusia riuh saling bersahutan. Luas lahan 142 hektare terasa lebih sempit dari biasanya, disesaki antrean pengunjung yang bergiliran menatap hewan dari satu kandang ke kandang lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejarawan, penulis, dan pendiri penerbitan Komunitas Bambu, JJ Rizal menyebut kunjungan ke Ragunan tampaknya sudah menjadi salah satu tradisi di Jakarta ketika hari raya.
Kebun binatang ini mempunyai daya tarik sendiri dibandingkan dengan destinasi wisata lainnya, seperti Kota Tua atau Monumen Nasional (Monas) misalnya.
Daya tariknya terletak dari hewan-hewan yang ada di sana. Di Ragunan, ada lebih dari 2.000 spesies hewan dengan beragam keunikan.
"Orang berwisata itu kan mencari yang unik. keunikan salah satunya pada binatang, bukan hanya pada gedung, pada atraksi wisata," ucap JJ kepada CNNIndonesia.com, Rabu (5/4).
Selain itu, JJ juga mengatakan salah satu faktor yang memancing pengunjung Ragunan membludak saat liburan hari raya adalah harga tiketnya yang murah, sehingga menjadi destinasi wisata yang bisa dijangkau oleh semua kalangan.
Harga tiket masuk Ragunan mulai Rp3.000 untuk anak-anak dan Rp4.000 untuk dewasa. Dengan harga itu, siapa saja dapat bertemu dengan hewan yang lucu, buas, sampai hewan yang langka.
"Kalau ke Dufan, ke Ancol, harganya mahal sekali berpuluh-puluh kali lipat. Jadi bisa besar begitu karena murah banget. Hiburan rakyat sebenarnya," kata dia.
Selain itu, ramai-ramai pengunjung ke Ragunan saat liburan hari raya juga mempunyai simbol kerinduan warga kota besar terhadap suasana yang lebih dekat dengan alam.
Di perkotaan, terutama di Jakarta, udara semakin panas dan dipenuhi oleh polusi. Sehingga, berkunjung ke Ragunan ibarat meneguk segelas air di gurun.
"Mereka melihat kebun binatang itu seperti melihat ruang hijau yang luas. Kan krisis ruang hijau. Ragunan mengingatkan pada desa, pada kampung, pada ruang yang masih berbagi dengan alam," jelasnya.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
Staf Pelayanan Informasi, Wahyudi Bambang menyebut Taman Margasatwa Ragunan sebagai paru-paru kota Jakarta.
Sebab menurutnya, di saat Jakarta penuh dengan polusi udara, Ragunan menetralisir udara dan memproduksi oksigen sebanyak-banyaknya untuk manusia yang ada di sekitarnya.
"Buat Jakarta menyumbang satu persen oksigen untuk seluruh kota dari hutan kita ideal 20 persen. Satu persen itu dari Ragunan," kata dia kepada CNNIndonesia.com, Rabu (5/4).
Selain sebagai paru-paru kota, Ragunan juga merupakan daerah resapan air. Wahyudi menyebut ada lima danau di sana. Danau terbesar memiliki luas sebesar lima hektare.
Koleksi satwa di Taman Margasatwa Ragunan juga beragam, bahkan ada hewan langka, yakni Gorila Dataran Rendah dari Afrika.
Wahyudi mengatakan, banyak kebun binatang lain yang minta untuk didatangkan juga Gorila Dataran Rendah. Namun yang beruntung adalah Taman Margasatwa Ragunan. Sebab secara iklimnya cocok dan fasilitasnya lebih memadai.
"Di kebun binatang lain di Indonesia enggak ada ya, termasuk rekan kita yang di Bogor juga minta, tapi ini yang cocok lingkungannya di sini. Ragunan ini iklimnya sama persis kondisi alam aslinya, yaitu tropis," ucapnya.
Dengan berbagai penjelasan itu, tidak mengherankan jika ribuan pengunjung datang saat liburan hari raya. Sayangnya, tahun lalu Taman Margasatwa Ragunan harus tutup selama hari raya.
Lebaran 2021 akan segera tiba. Wahyudi dan rekan-rekannya di Taman Margasatwa Ragunan belum tahu apakah Lebaran kali ini akan sepi kembali atau justru menjadi titik balik keramaian seperti biasanya.
Namun, Wahyudi memprediksi lonjakan pengunjung akan terjadi jika Pemprov DKI mengizinkan Ragunan buka saat Lebaran. Sebab, bertepatan dengan itu larangan mudik masih berlangsung.
Berdasarkan Surat Edaran Nomor 13 Tahun 2021, larangan mudik berlaku sejak 6 sampai 17 Mei 2021. Dengan ketentuan tersebut menyebabkan adanya potensi warga Jakarta memilih pergi ke destinasi wisata yang buka di Jakarta, termasuk Ragunan.
Namun, untuk mengantisipasi itu, pihak pengelola Ragunan masih memikirkan cara bagaimana pengunjung dan hewan bisa sama-sama aman selama pandemi.
Jakarta, CNN Indonesia --
Sebelum pandemi virus Corona, pada liburan hari raya, khususnya hari raya Idul Fitri, Taman Margasatwa Ragunan jauh lebih ramai dari biasanya. Banyak rombongan keluarga dari dalam dan luar DKI Jakarta yang menyempatkan diri untuk piknik di sana.
Taman Margasatwa Ragunan mencatat, rekor pengunjung terbanyak terjadi pada Idul Fitri tahun 2015. Jumlah pengunjung kala itu tembus sampai 203.216 orang.
Suara hewan dan manusia riuh saling bersahutan. Luas lahan 142 hektare terasa lebih sempit dari biasanya, disesaki antrean pengunjung yang bergiliran menatap hewan dari satu kandang ke kandang lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejarawan, penulis, dan pendiri penerbitan Komunitas Bambu, JJ Rizal menyebut kunjungan ke Ragunan tampaknya sudah menjadi salah satu tradisi di Jakarta ketika hari raya.
Kebun binatang ini mempunyai daya tarik sendiri dibandingkan dengan destinasi wisata lainnya, seperti Kota Tua atau Monumen Nasional (Monas) misalnya.
Daya tariknya terletak dari hewan-hewan yang ada di sana. Di Ragunan, ada lebih dari 2.000 spesies hewan dengan beragam keunikan.
"Orang berwisata itu kan mencari yang unik. keunikan salah satunya pada binatang, bukan hanya pada gedung, pada atraksi wisata," ucap JJ kepada CNNIndonesia.com, Rabu (5/4).
Selain itu, JJ juga mengatakan salah satu faktor yang memancing pengunjung Ragunan membludak saat liburan hari raya adalah harga tiketnya yang murah, sehingga menjadi destinasi wisata yang bisa dijangkau oleh semua kalangan.
Harga tiket masuk Ragunan mulai Rp3.000 untuk anak-anak dan Rp4.000 untuk dewasa. Dengan harga itu, siapa saja dapat bertemu dengan hewan yang lucu, buas, sampai hewan yang langka.
"Kalau ke Dufan, ke Ancol, harganya mahal sekali berpuluh-puluh kali lipat. Jadi bisa besar begitu karena murah banget. Hiburan rakyat sebenarnya," kata dia.
Selain itu, ramai-ramai pengunjung ke Ragunan saat liburan hari raya juga mempunyai simbol kerinduan warga kota besar terhadap suasana yang lebih dekat dengan alam.
Di perkotaan, terutama di Jakarta, udara semakin panas dan dipenuhi oleh polusi. Sehingga, berkunjung ke Ragunan ibarat meneguk segelas air di gurun.
"Mereka melihat kebun binatang itu seperti melihat ruang hijau yang luas. Kan krisis ruang hijau. Ragunan mengingatkan pada desa, pada kampung, pada ruang yang masih berbagi dengan alam," jelasnya.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
Ragunan Menyumbang 1 Persen Udara Bersih di Jakarta
Keramaian pengunjung Taman Margasatwa Ragunan saat Lebaran 2016. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Staf Pelayanan Informasi, Wahyudi Bambang menyebut Taman Margasatwa Ragunan sebagai paru-paru kota Jakarta.
Sebab menurutnya, di saat Jakarta penuh dengan polusi udara, Ragunan menetralisir udara dan memproduksi oksigen sebanyak-banyaknya untuk manusia yang ada di sekitarnya.
"Buat Jakarta menyumbang satu persen oksigen untuk seluruh kota dari hutan kita ideal 20 persen. Satu persen itu dari Ragunan," kata dia kepada CNNIndonesia.com, Rabu (5/4).
Selain sebagai paru-paru kota, Ragunan juga merupakan daerah resapan air. Wahyudi menyebut ada lima danau di sana. Danau terbesar memiliki luas sebesar lima hektare.
Koleksi satwa di Taman Margasatwa Ragunan juga beragam, bahkan ada hewan langka, yakni Gorila Dataran Rendah dari Afrika.
Wahyudi mengatakan, banyak kebun binatang lain yang minta untuk didatangkan juga Gorila Dataran Rendah. Namun yang beruntung adalah Taman Margasatwa Ragunan. Sebab secara iklimnya cocok dan fasilitasnya lebih memadai.
"Di kebun binatang lain di Indonesia enggak ada ya, termasuk rekan kita yang di Bogor juga minta, tapi ini yang cocok lingkungannya di sini. Ragunan ini iklimnya sama persis kondisi alam aslinya, yaitu tropis," ucapnya.
Dengan berbagai penjelasan itu, tidak mengherankan jika ribuan pengunjung datang saat liburan hari raya. Sayangnya, tahun lalu Taman Margasatwa Ragunan harus tutup selama hari raya.
Lebaran 2021 akan segera tiba. Wahyudi dan rekan-rekannya di Taman Margasatwa Ragunan belum tahu apakah Lebaran kali ini akan sepi kembali atau justru menjadi titik balik keramaian seperti biasanya.
Namun, Wahyudi memprediksi lonjakan pengunjung akan terjadi jika Pemprov DKI mengizinkan Ragunan buka saat Lebaran. Sebab, bertepatan dengan itu larangan mudik masih berlangsung.
Berdasarkan Surat Edaran Nomor 13 Tahun 2021, larangan mudik berlaku sejak 6 sampai 17 Mei 2021. Dengan ketentuan tersebut menyebabkan adanya potensi warga Jakarta memilih pergi ke destinasi wisata yang buka di Jakarta, termasuk Ragunan.
Namun, untuk mengantisipasi itu, pihak pengelola Ragunan masih memikirkan cara bagaimana pengunjung dan hewan bisa sama-sama aman selama pandemi.