Kata Psikolog soal Ibu Marah-marah saat Dilarang Berlibur

mel, CNN Indonesia | Selasa, 18/05/2021 13:00 WIB
Tekanan karena pandemi menjadi salah satu penyebab meluapnya amarah banyak orang saat dilarang berlibur. Ilustraso. Tekanan karena pandemi menjadi salah satu penyebab meluapnya amarah banyak orang saat dilarang berlibur. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Beberapa hari terakhir, jagat media sosial diramaikan dengan video viral berisi ibu-ibu yang marah saat diminta untuk tidak berlibur. Video tersebut viral di Instagram dan Twitter.

Ada dua video berisi ibu-ibu marah karena diminta putar balik dan tidak pergi berlibur. Video pertama diketahui diambil saat pencegatan pos liburan ke Pantai Anyer, Banten, dan video kedua diambil di daerah Sukabumi, Jawa Barat.

Selain dua video itu, ada pula satu video yang menyita perhatian publik. Video tersebut menayangkan seorang ibu-ibu marah-marah pada kurir ekspedisi karena belanjaannya dianggap tak sesuai sehingga enggan membayar barang belanjanya tersebut.


Tiga video berisi luapan emosi itu kemudian ramai jadi perbincangan. Banyak pihak bertanya-tanya mengapa seseorang bisa marah-marah di hadapan orang banyak?

Psikolog Klinis Kasandra Putranto mengatakan, meluapkan emosi sebenarnya hal wajar. Cara menyampaikan emosi setiap orang juga akan berbeda, bergantung pada bagaimana pengembangan karakter dan kepribadian seseorang sejak kecil.

Melalui proses panjang serta pengalaman yang telah dilalui, individu akan menentukan bagaimana cara menyelesaikan masalah dan cara mengeluarkan emosi.

"Dengan demikian berbagai pengalaman kehidupan akan menentukan bagaimana seseorang mengambil keputusan terhadap dorongan emosinya dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi sehari-hari," kata Kasandra saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (18/5).

Luapan emosi yang meledak-ledak hingga keluar kata-kata kasar, lanjut Kasandra, disebabkan oleh ketidakmampuan seseorang dalam mengendalikan dorongan emosi. Sikap tersebut juga dipengaruhi oleh faktor kecerdasan intelektual, emosional, sosial, agama, serta hukum.

Dorongan emosi pada setiap individu diibaratkan seperti garis finish pada lomba lari. Individu yang bisa mengendalikan emosinya bisa mencegah emosi sampai garis finish. Ketika emosi melewati garis finish tersebut, maka emosi sudah dikeluarkan oleh individu tersebut. Perlu diketahui, emosi tak selamanya berbentuk amarah yang melibatkan perkataan atau perbuatan, bisa juga berbentuk tangisan.

"Sebagian memang tidak terbiasa mengendalikan dorongan [emosi], sementara dengan teknologi informasi masa kini, semua menjadi sangat mudah direkam dan disebarluaskan sehingga menjaga lisan dan perilaku di depan umum perlu ditekankan," ujarnya.

Tekanan Pandemi Jadi Faktor Pemicu Amarah

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK