Kawanan Keledai di Petra Ikut Menganggur selama Pandemi
CNN Indonesia
Kamis, 10 Jun 2021 10:46 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Kwanan keledai di Kota Tua Petra, Yordania, ikut menganggur selama pandemi virus Corona. (AFP/KHALIL MAZRAAWI)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sebelum pandemi virus Corona melanda dunia, kawanan keledai terlihat sibuk mengantar turis keliling Kota Tua Petra di Yordania. Namun kini mereka menganggur karena kehilangan pekerjaannya.
"Sebelum virus Corona, kita semua memiliki pekerjaan," kata Abdulrahman Ali, salah satu pemilik keledai berusia 15 tahun di kota tengah gurun itu.
"Orang Badui Petra mencari nafkah dan memberi makan hewan mereka," katanya, duduk menunggu pemberian pakan ternak dari badan amal, menjelaskan bahwa banyak pemilik keledai saat ini berjuang untuk memenuhi biaya pakan peliharaannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 2019, jumlah pengunjung situs Warisan Dunia UNESCO mencapai 1 juta untuk pertama kalinya.
Tetapi pada Maret 2020, salah satu destinasi wisata sejarah yang terpopuler di dunia itu ditutup, dan pendapatan dari para wisatawan otomatis mengering.
Bergantung pada pariwisata
"Ketika pariwisata berhenti, tidak ada yang bisa membeli pakan ternak atau obat-obatan lagi," kata Ali, yang bisa mendapatkan sebanyak US$280 (sekitar Rp3,9 juta) pada hari ramai turis, dan keuntungan tersebut digunakannya untuk menghidupi ibu dan dua saudara laki-lakinya.
"Siapa pun yang memiliki sedikit uang sekarang membelanjakannya untuk makanannya sendiri, bukan untuk peliharaannya."
Sebelum pandemi, pariwisata menyumbang lebih dari sepersepuluh PDB Yordania, tetapi pendapatan merosot dari US$5,8 miliar pada 2019 menjadi US$1 miliar tahun lalu, menurut angka pemerintah.
Sejak Petra dibuka kembali pada Mei, jumlah wisatawan perlahan pulih.
Hanya sekitar 200 pengunjung per hari yang datang ke Petra, dibandingkan dengan lebih dari 3.000 sebelum pandemi COVID-19 melanda, kata Suleiman Farajat, Kepala Badan Pengembangan dan Pariwisata Petra.
Farajat mengatakan sekitar 200 pemandu menggunakan sebanyak 800 hewan - termasuk kuda, unta dan bagal serta keledai - untuk perjalanan wisata melintasi lokasi gurun.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
"Sebelum krisis, 80 persen penduduk daerah itu bergantung langsung atau tidak langsung pada pariwisata," kata Farajat.
"Dengan adanya pandemi ini, tidak hanya pemilik hewan yang terkena dampaknya, tetapi juga pemilik hotel, restoran, hingga toko suvenir, dan ratusan karyawan kehilangan pekerjaan."
Banyak pemilik keledai beralih ke klinik yang didukung oleh kelompok hak asasi hewan PETA, di mana dokter hewan merawat secara gratis keledai menganggur serta kekurangan gizi.
"Sebelum virus Corona, saya dan keluarga memiliki tujuh keledai yang bekerja di Petra," kata Mohammad al-Badoul (23), mengantre bersama empat pemilik keledai lainnya untuk mengisi karung dengan pakan ternak.
"Kami harus menjualnya karena kekurangan pendapatan. Sekarang kami hanya punya satu, dan saya hampir tidak bisa memberinya makan."
Lapar
Dokter hewan Mesir Hassan Shatta, seorang spesialis bedah kuda yang menjalankan klinik PETA, mengatakan dia meluncurkan program pemberian makan keledai akhir tahun lalu.
"Selama penguncian Covid-19, dan dengan kurangnya pariwisata, orang tidak mampu memberi makan hewan mereka lagi," kata Shatta.
"Beberapa dari mereka akhirnya kelaparan dan kami mengambilnya dan membawanya ke sini," tambahnya, mencatat sekitar 250 hewan telah dirawat, dengan sekitar 10-15 hewan baru tiba setiap hari.
Di masa lalu, PETA telah merawat hewan dengan luka parah karena dipukuli atau dianiaya, tetapi Farajat, dari otoritas pariwisata Petra, mengatakan kondisi kawanan keledai peliharaan sekarang "tidak terlalu buruk".
Tetapi ada rencana untuk mengganti beberapa perjalanan keledai dengan sistem baru, yakni 20 unit mobil listrik yang diperkenalkan oleh dewan pariwisata bulan depan.
Mobil-mobil itu akan "dikendarai oleh para pemilik hewan," kata Farajat.
Beralih ke mobil listrik, Farajat berharap, akan mengakhiri kritik terhadap perlakuan buruk terhadap hewan di destinasi wisata.
Sebelum pandemi virus Corona melanda dunia, kawanan keledai terlihat sibuk mengantar turis keliling Kota Tua Petra di Yordania. Namun kini mereka menganggur karena kehilangan pekerjaannya.
"Sebelum virus Corona, kita semua memiliki pekerjaan," kata Abdulrahman Ali, salah satu pemilik keledai berusia 15 tahun di kota tengah gurun itu.
"Orang Badui Petra mencari nafkah dan memberi makan hewan mereka," katanya, duduk menunggu pemberian pakan ternak dari badan amal, menjelaskan bahwa banyak pemilik keledai saat ini berjuang untuk memenuhi biaya pakan peliharaannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 2019, jumlah pengunjung situs Warisan Dunia UNESCO mencapai 1 juta untuk pertama kalinya.
Tetapi pada Maret 2020, salah satu destinasi wisata sejarah yang terpopuler di dunia itu ditutup, dan pendapatan dari para wisatawan otomatis mengering.
Bergantung pada pariwisata
"Ketika pariwisata berhenti, tidak ada yang bisa membeli pakan ternak atau obat-obatan lagi," kata Ali, yang bisa mendapatkan sebanyak US$280 (sekitar Rp3,9 juta) pada hari ramai turis, dan keuntungan tersebut digunakannya untuk menghidupi ibu dan dua saudara laki-lakinya.
"Siapa pun yang memiliki sedikit uang sekarang membelanjakannya untuk makanannya sendiri, bukan untuk peliharaannya."
Sebelum pandemi, pariwisata menyumbang lebih dari sepersepuluh PDB Yordania, tetapi pendapatan merosot dari US$5,8 miliar pada 2019 menjadi US$1 miliar tahun lalu, menurut angka pemerintah.
Sejak Petra dibuka kembali pada Mei, jumlah wisatawan perlahan pulih.
Hanya sekitar 200 pengunjung per hari yang datang ke Petra, dibandingkan dengan lebih dari 3.000 sebelum pandemi COVID-19 melanda, kata Suleiman Farajat, Kepala Badan Pengembangan dan Pariwisata Petra.
Farajat mengatakan sekitar 200 pemandu menggunakan sebanyak 800 hewan - termasuk kuda, unta dan bagal serta keledai - untuk perjalanan wisata melintasi lokasi gurun.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
Kawanan Keledai di Petra Ikut Menganggur selama Pandemi
Efek riak ekonomi pariwisata tersebar luas. "Sebelum krisis, 80 persen penduduk daerah itu bergantung langsung atau tidak langsung pada pariwisata," kata Farajat. "Dengan adanya pandemi ini, tidak hanya pemilik hewan yang terkena dampaknya, tetapi juga pemilik hotel, restoran, hingga toko suvenir, dan ratusan karyawan kehilangan pekerjaan." Banyak pemilik keledai beralih ke klinik yang didukung oleh kelompok hak asasi hewan PETA, di mana dokter hewan merawat secara gratis keledai menganggur serta kekurangan gizi. "Sebelum virus Corona, saya dan keluarga memiliki tujuh keledai yang bekerja di Petra," kata Mohammad al-Badoul (23), mengantre bersama empat pemilik keledai lainnya untuk mengisi karung dengan pakan ternak. "Kami harus menjualnya karena kekurangan pendapatan. Sekarang kami hanya punya satu, dan saya hampir tidak bisa memberinya makan." 'Lapar' Dokter hewan Mesir Hassan Shatta, seorang spesialis bedah kuda yang menjalankan klinik PETA, mengatakan dia meluncurkan program pemberian makan keledai akhir tahun lalu. "Selama penguncian Covid-19, dan dengan kurangnya pariwisata, orang tidak mampu memberi makan hewan mereka lagi," kata Shatta. "Beberapa dari mereka akhirnya kelaparan dan kami mengambilnya dan membawanya ke sini," tambahnya, mencatat sekitar 250 hewan telah dirawat, dengan sekitar 10-15 hewan baru tiba setiap hari. Di masa lalu, PETA telah merawat hewan dengan luka parah karena dipukuli atau dianiaya, tetapi Farajat, dari otoritas pariwisata Petra, mengatakan kondisi kawanan keledai peliharaan sekarang "tidak terlalu buruk". Tetapi ada rencana untuk mengganti beberapa perjalanan keledai dengan sistem baru, yakni 20 unit mobil listrik yang diperkenalkan oleh dewan pariwisata bulan depan. Mobil-mobil itu akan "dikendarai oleh para pemilik hewan," kata Farajat. Beralih ke mobil listrik, Farajat berharap, akan mengakhiri kritik terhadap perlakuan buruk terhadap hewan di destinasi wisata.
Efek riak ekonomi pariwisata tersebar luas.
"Sebelum krisis, 80 persen penduduk daerah itu bergantung langsung atau tidak langsung pada pariwisata," kata Farajat.
"Dengan adanya pandemi ini, tidak hanya pemilik hewan yang terkena dampaknya, tetapi juga pemilik hotel, restoran, hingga toko suvenir, dan ratusan karyawan kehilangan pekerjaan."
Banyak pemilik keledai beralih ke klinik yang didukung oleh kelompok hak asasi hewan PETA, di mana dokter hewan merawat secara gratis keledai menganggur serta kekurangan gizi.
"Sebelum virus Corona, saya dan keluarga memiliki tujuh keledai yang bekerja di Petra," kata Mohammad al-Badoul (23), mengantre bersama empat pemilik keledai lainnya untuk mengisi karung dengan pakan ternak.
"Kami harus menjualnya karena kekurangan pendapatan. Sekarang kami hanya punya satu, dan saya hampir tidak bisa memberinya makan."
Lapar
Dokter hewan Mesir Hassan Shatta, seorang spesialis bedah kuda yang menjalankan klinik PETA, mengatakan dia meluncurkan program pemberian makan keledai akhir tahun lalu.
"Selama penguncian Covid-19, dan dengan kurangnya pariwisata, orang tidak mampu memberi makan hewan mereka lagi," kata Shatta.
"Beberapa dari mereka akhirnya kelaparan dan kami mengambilnya dan membawanya ke sini," tambahnya, mencatat sekitar 250 hewan telah dirawat, dengan sekitar 10-15 hewan baru tiba setiap hari.
Di masa lalu, PETA telah merawat hewan dengan luka parah karena dipukuli atau dianiaya, tetapi Farajat, dari otoritas pariwisata Petra, mengatakan kondisi kawanan keledai peliharaan sekarang "tidak terlalu buruk".
Tetapi ada rencana untuk mengganti beberapa perjalanan keledai dengan sistem baru, yakni 20 unit mobil listrik yang diperkenalkan oleh dewan pariwisata bulan depan.
Mobil-mobil itu akan "dikendarai oleh para pemilik hewan," kata Farajat.
Beralih ke mobil listrik, Farajat berharap, akan mengakhiri kritik terhadap perlakuan buruk terhadap hewan di destinasi wisata.