Varian Covid-19 Delta: Mutasi Ganda, Infeksius, dan Gejala

tim, CNN Indonesia | Kamis, 24/06/2021 18:00 WIB
Varian virus corona delta menyita banyak perhatian. Kenali virus corona varian delta. Varian virus corona delta menyita banyak perhatian. Kenali virus corona varian delta. ( iStockphoto/oonal)
Jakarta, CNN Indonesia --

Varian virus corona delta menyita banyak perhatian. Pasalnya varian delta disebut-sebut lebih menular (infeksius) dibanding varian sebelumnya. Selain itu, virus corona varian delta ini juga disebut memiliki gejala klinis yang lebih berat dan beragam.

Varian delta merupakan mutasi pada virus corona B.16.17.2. Mutasi ini ditemukan pertama kali di India. Kini varian delta menyebar luas hingga ke 74 negara, bahkan transmisi lokal virus corona varian delta juga sudah ditemukan di Indonesia.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Eric Daniel Tenda, mengatakan sejatinya virus memang akan selalu bermutasi sebagai cara dia beradaptasi pada lingkungan layaknya makhluk hidup.


Pada kasus varian delta, virus SARS-CoV-2 gagal melakukan 'fotokopi' dirinya sehingga beberapa struktur protein virus tidak terbentuk dengan baik. Alhasil, virus yang terbentuk berbeda dengan virus awalnya sehingga terjadi mutasi.

Diketahui ada empat jenis mutasi Covid-19 yang menjadi varian of concern (VOC) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pertama varian alfa B117, varian beta, gamma, dan terakhir varian delta.

Varian alfa sebelumnya dikatakan 70 persen lebih infeksius dari virus aslinya. Sedangkan varian corona delta 40 persen lebih infeksius dari varian alfa.

"Jadi kalau pakai matematika sederhana, varian delta bisa 100 kali lebih infeksius dari varian alfa," kata Eric, kepada CNNIndonesia.com, Senin (21/6).

Varian delta memiliki angka pertambahan kasus atau basic reproductive number(R0) 6-8. Angka tersebut mengindikasikan betapa virus cepat menyebar dari satu penularan.

Pasalnya, pada varian corona lainnya seperti varian alfa hanya memiliki R0 sekitar 2-3.
"Kenapa dia lebih infeksius? Karena varian delta ini terjadi akibat ada mutasi ganda (double mutation)," ucap Eric.

Melansir Science Media Center, varian delta diduga muncul sebab mutasi dua varian L452R dan P681R pada virus SARS-CoV-2 yang gagal terbentuk dengan baik.

Meski demikian, penelitian soal asal muasal varian delta masih harus dilakukan lebih lanjut.

Eric menjelaskan, mutasi ganda pada virus SARS-CoV-2 dapat mengakibatkan angka infeksi semakin meningkat. Sebab virus menjadi lebih kuat dan mudah menginfeksi individu.

"Orang yang terinfeksi juga kondisi klinisnya jadi lebih berat," kata Eric.

Namun varian delta juga tetap bisa menginfeksi orang yang telah menerima vaksin Covid-19. Hanya saja, bagi orang yang telah divaksin, gejala klinis yang dialami cenderung tidak lebih berat ketimbang mereka yang belum menerima vaksin Covid-19.

Gejala lebih banyak

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK