Membedah Tren 'Ikoy-ikoy' dari Sisi Psikologi

tim, CNN Indonesia | Selasa, 03/08/2021 19:57 WIB
Selain gempita Olimpiade Tokyo 2020, rupanya media sosial diramaikan pula dengan 'ikoy-ikoy'. Bagaimana tren ini dari kacamata psikologi? Selain gempita Olimpiade Tokyo 2020, rupanya media sosial diramaikan pula dengan 'ikoy-ikoy'. Bagaimana tren ini dari kacamata psikologi? (iStockphoto/HAKINMHAN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Selain gempita Olimpiade Tokyo 2020, rupanya media sosial diramaikan pula dengan 'ikoy-ikoy'. Content creator Arief Muhammad mempopulerkan 'ikoy-ikoy' sebagai cara dia berbagi pada para pengikutnya.

Ikoy sendiri diambil dari panggilan karib sang asisten pribadi, Rizqi Fadhilah. Ikoy jadi orang yang didapuk untuk memproses hadiah atau bantuan pada pengikut terpilih.

'Ikoy-ikoy' sendiri cukup berbeda dengan tren giveaway atau bagi-bagi yang biasa dilakukan para selebgram atau content creator. Di sini, para pengikut tidak diharuskan memenuhi sejumlah persyaratan khusus. Mereka cukup mengirimkan pesan singkat via Direct Message (DM) berisi kebutuhannya.


Namun, tren viral ikoy ikoy ini nyatanya juga merembet ke selebgram lainnya. Netizen banyak mengirimkan pesan ke akun selebgram dan meminta ikoy-ikoy. Banyak yang akhirnya ikut serta memberikan giveaway, tapi banyak juga yang menolak dengan berbagai alasan, salah satunya adalah karena tak suka dengan permintaan netizen yang terkadang suka kelewat batas, misalnya rumah, atau uang ratusan juta.

Melihat fenomena ini, psikolog klinisNuzulia Rahma Tristinarum, berkata 'ikoy-ikoy' tidak masalah dilakukan sebab tidak ada yang dirugikan dan tidak melanggar hukum atau norma tertentu. Pun yang memberi melakukannya sukarela dan yang diberi senang menerimanya.

"Dan alangkah lebih baik jika dana yang tersedia dibagi juga pada orang-orang yang benar-benar membutuhkan," kata Rahma pada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Selasa (3/8).

Menurut Rahma, 'ikoy-ikoy' yang dilakukan Arief atau kegiatan berbagi seperti ini biasanya bertujuan:

* Branding, baik diri sendiri, tim atau produk tertentu. Dalam fenomena 'ikoy-ikoy', bisa jadi ini merupakan branding akun Arief Muhammad. Lewat kegiatan ini, si pemilik akun jadi dikenal sebagai orang yang suka berbagi.

* Menambah jumlah pengikut, ketika ramai diperbincangkan bahkan jadi tren, bukan tidak mungkin ada pengikut-pengikut baru. Meski gratis, kata Rahma, tetap saja ada manfaat yang diperoleh.

* Kesenangan pribadi, bisa saja tujuan kegiatan hanya untuk mencari perhatian atau kesenangan. Berbagi pada siapapun memang menyenangkan.

"Kalau dilihat dari kacamata psikologi, aktivitas ini biasanya didorong oleh motivasi tertentu. Motivasi ini bisa karena ingin viral, untuk branding, untuk menaikkan jumlah followers atau motivasi lainnya, dan bagusnya dilakukan dengan cara yang baik dan unik. Tujuannya biasanya memang untuk mengumpulkan massa, menarik perhatian dengan cara yang unik dan tidak biasa," kata Rahma.

Bersambung ke halaman selanjutnya..

Sikapi dengan Bijak Antara Kebutuhan dan Keinginan

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK