Dosis ketiga vaksin Covid-19 telah mulai diberikan untuk para tenaga kesehatan di Indonesia. Namun, bagaimana dengan masyarakat umum? Berikut penjelasan ahli. (iStock/Godji10)
Jakarta, CNN Indonesia --
Dosis ketigavaksin Covid-19 telah mulai diberikan untuk para tenaga kesehatan di Indonesia. Pemberian vaksin Covid-19 dosis ketiga ini guna meningkatkan kekebalan atau imunitas para tenaga kesehatan yang bertarung di garda depan melawan virus corona SARS-Cov2.
Pemberian vaksin dosis ketiga untuk nakes ini lantas membuat sejumlah masyarakat juga menginginkan hal tersebut. Sebagian masyarakat berharap bisa menambah imunitas tubuh dalam melawan Covid-19 dengan booster vaksin.
Namun, apakah masyarakat perlu segera mendapat dosis ketiga vaksin Covid-19? Dan sebenarnya seberapa besar urgensi vaksin dosis ketiga ini, sehingga para tenaga kesehatan perlu mendapatkannya terlebih dahulu?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Utama RS Islam Jakarta Pondok Kopi yang juga merupakan Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, Slamet Budiarto mengatakan sejauh ini dosis ketiga vaksin Covid-19 memang hanya diberikan untuk tenaga kesehatan.
Hal ini diperlukan untuk meningkatkan imunitas para tenaga kesehatan yang harus berjuang di garda depan dengan paparan virus corona yang begitu besar.
"Karena antibodi (dari vaksin sebelumnya) sudah turun. Kan tenaga kesehatan lingkungan kerjanya tinggi (bahaya)," kata Slametsaat dihubungi CNNIndonesia.com via telepon, Senin (9/8).
Sementara itu, lanjut Slamet, vaksin Covid-19 dosis ketiga atau vaksin booster ini belum diperlukan untuk masyarakat biasa. Bisa saja diberikan, tapi menurutnya nanti ketika semua orang telah mendapat vaksin Covid-19 secara merata.
"Kalau masyarakat biasa belum lah. Mungkin kalau sudah semua (divaksin) baru boleh," kata Slamet.
Ahli Epidemiologi dari Griffith University, Dicky Budiman juga mengatakan hal serupa dengan Slamet soal dosis ketiga vaksin Covid-19.
Simak penjelasan ahli lebih lanjut terkait dosis ketiga vaksin Covid-19 di halaman berikut.
Ahli Epidemiologi dari Griffith University, Dicky Budiman juga mengatakan hal serupa dengan Slamet soal dosis ketiga vaksin Covid-19. Menurutnya, dosis ketiga ini memang seharusnya hanya diberikan kepada para tenaga kesehatan.
Apalagi, pihak WHO pun belum memberi rekomendasi terkait pemberian dosis ketiga pada populasi masyarakat umum di luar tenaga kesehatan. Terlebih, masih banyak masyarakat yang belum menerima vaksin dosis pertama dan kedua Covid-19.
"Karena belum saatnya (untuk masyarakat umum), banyak negara lain, wilayah lain yang masih antri lama (untuk dapat vaksin)," kata Dicky.
Di sisi lain, pemberian dosis ketiga bagi tenaga kesehatan menjadi penting setelah ada laporan bahwa efikasi vaksin Sinovac menurun.
Selain itu, varian delta dari Covid-19 juga membuat para tenaga kesehatan harus mendapat perlindungan ekstra demi melawan virus-virus ini.
"Sehingga harus di-booster. Karena kalau tidak, mereka tidak akan kerja aman, dan akan banyak korban. Yang rugi ya masyarakat," kata Dicky.
"Nah perlu pemberian dosis ketiga pada tenaga kesehatan. Tapi kalau untuk masyarakat ya tidak. Itu namanya strategi berbasis vaksinasi publik," lanjutnya.
Sementara penanganan di luar vaksin dosis ketiga untuk masyarakat umum, kata Dicky, bisa dengan peningkatan protokol kesehatan. Selain itu, tracing juga harus terus ditingkatkan agar bisa melacak seberapa jauh virus ini telah menyebar.
Dicky juga menekankan mengatakan bahwa jika memang sudah saatnya nanti masyarakat biasa bisa mendapat vaksin booster, protokol kesehatan harus tetap dijaga karena terpapar Covid-19 bukanlah sesuatu yang mustahil.
"Bukan berarti dijamin 100 persen jika sudah di-booster. Ada tambahan dua kali sudah vaksin Pfizer saja bisa terinfeksi meski enggak parah. Artinya 3T dan 5M tetap harus dilakukan," ujar Budi.
Jakarta, CNN Indonesia --
Dosis ketigavaksin Covid-19 telah mulai diberikan untuk para tenaga kesehatan di Indonesia. Pemberian vaksin Covid-19 dosis ketiga ini guna meningkatkan kekebalan atau imunitas para tenaga kesehatan yang bertarung di garda depan melawan virus corona SARS-Cov2.
Pemberian vaksin dosis ketiga untuk nakes ini lantas membuat sejumlah masyarakat juga menginginkan hal tersebut. Sebagian masyarakat berharap bisa menambah imunitas tubuh dalam melawan Covid-19 dengan booster vaksin.
Namun, apakah masyarakat perlu segera mendapat dosis ketiga vaksin Covid-19? Dan sebenarnya seberapa besar urgensi vaksin dosis ketiga ini, sehingga para tenaga kesehatan perlu mendapatkannya terlebih dahulu?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Utama RS Islam Jakarta Pondok Kopi yang juga merupakan Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, Slamet Budiarto mengatakan sejauh ini dosis ketiga vaksin Covid-19 memang hanya diberikan untuk tenaga kesehatan.
Hal ini diperlukan untuk meningkatkan imunitas para tenaga kesehatan yang harus berjuang di garda depan dengan paparan virus corona yang begitu besar.
"Karena antibodi (dari vaksin sebelumnya) sudah turun. Kan tenaga kesehatan lingkungan kerjanya tinggi (bahaya)," kata Slametsaat dihubungi CNNIndonesia.com via telepon, Senin (9/8).
Sementara itu, lanjut Slamet, vaksin Covid-19 dosis ketiga atau vaksin booster ini belum diperlukan untuk masyarakat biasa. Bisa saja diberikan, tapi menurutnya nanti ketika semua orang telah mendapat vaksin Covid-19 secara merata.
"Kalau masyarakat biasa belum lah. Mungkin kalau sudah semua (divaksin) baru boleh," kata Slamet.
Ahli Epidemiologi dari Griffith University, Dicky Budiman juga mengatakan hal serupa dengan Slamet soal dosis ketiga vaksin Covid-19.
Simak penjelasan ahli lebih lanjut terkait dosis ketiga vaksin Covid-19 di halaman berikut.
Belum ada panduan dosis ketiga vaksin Covid-19 untuk umum
Ahli mengatakan bahwa belum ada panduan dari WHO terkait dosis ketiga vaksin Covid-19 untuk umum. (iStockphoto/Vladans)
Ahli Epidemiologi dari Griffith University, Dicky Budiman juga mengatakan hal serupa dengan Slamet soal dosis ketiga vaksin Covid-19. Menurutnya, dosis ketiga ini memang seharusnya hanya diberikan kepada para tenaga kesehatan.
Apalagi, pihak WHO pun belum memberi rekomendasi terkait pemberian dosis ketiga pada populasi masyarakat umum di luar tenaga kesehatan. Terlebih, masih banyak masyarakat yang belum menerima vaksin dosis pertama dan kedua Covid-19.
"Karena belum saatnya (untuk masyarakat umum), banyak negara lain, wilayah lain yang masih antri lama (untuk dapat vaksin)," kata Dicky.
Di sisi lain, pemberian dosis ketiga bagi tenaga kesehatan menjadi penting setelah ada laporan bahwa efikasi vaksin Sinovac menurun.
Selain itu, varian delta dari Covid-19 juga membuat para tenaga kesehatan harus mendapat perlindungan ekstra demi melawan virus-virus ini.
"Sehingga harus di-booster. Karena kalau tidak, mereka tidak akan kerja aman, dan akan banyak korban. Yang rugi ya masyarakat," kata Dicky.
"Nah perlu pemberian dosis ketiga pada tenaga kesehatan. Tapi kalau untuk masyarakat ya tidak. Itu namanya strategi berbasis vaksinasi publik," lanjutnya.
Sementara penanganan di luar vaksin dosis ketiga untuk masyarakat umum, kata Dicky, bisa dengan peningkatan protokol kesehatan. Selain itu, tracing juga harus terus ditingkatkan agar bisa melacak seberapa jauh virus ini telah menyebar.
Dicky juga menekankan mengatakan bahwa jika memang sudah saatnya nanti masyarakat biasa bisa mendapat vaksin booster, protokol kesehatan harus tetap dijaga karena terpapar Covid-19 bukanlah sesuatu yang mustahil.
"Bukan berarti dijamin 100 persen jika sudah di-booster. Ada tambahan dua kali sudah vaksin Pfizer saja bisa terinfeksi meski enggak parah. Artinya 3T dan 5M tetap harus dilakukan," ujar Budi.