Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah Olimpiade Tokyo, Pekan Olahraga Nasional (PON) juga akan digelar di tengah masa pandemi virus corona.
Ajang olahraga empat tahunan itu kali ini akan digelar di Provinsi Papua pada 2 Oktober 2021 hingga 15 Oktober 2021.
Papua, pulau yang di peta mirip dengan kepala burung, ini memang selalu menarik untuk dibicarakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Papua adalah provinsi yang terletak di bagian tengah Pulau Papua atau bagian paling timur wilayah Papua milik Indonesia. Belahan timurnya merupakan negara Papua Nugini.
Provinsi Papua sebelumnya bernama Irian Jaya yang mencakup seluruh wilayah Pulau Papua. Sejak tahun 2003, pulau ini dibagi menjadi dua provinsi, dengan bagian timur tetap memakai nama Papua sedangkan bagian baratnya memakai nama Papua Barat.
Luas wilayah Pulau Papua sekitar tiga kali pulau Jawa, menjadikannya provinsi terbesar di Indonesia.
Pemandangan indah di Papua seperti batu permata yang menunggu untuk dipoles, karena masih jarang wisatawan dalam dan luar negeri yang pelesir.
Papua juga dikenal akan keramahan warganya dan keberagaman adat budayanya, salah satu yang paling terkenal ialah penyelenggaraan Festival Lembah Baliem.
Berbicara mengenai kekayaan alamnya, ada tiga taman nasional di Tanah Papua, mulai dari Wasur, Teluk Cenderawasih, dan Lorentz.
Mari mengenal lebih lanjut tiga taman nasional yang ada di Papua:
1. Taman Nasional Wasur
Pernah melihat foto atau video mengenai sarang semut yang tinggi menjulang? Salah satu pemandangan itu bisa dilihat di Taman Nasional Wasur.
Sejak tahun 1978 Hutan Wasur telah ditetapkan sebagai Suaka Margasatwa Wasur. Hutan seluas 431 ribu hektare ini lalu ditetapkan lagi sebagai Taman Nasional Wasur pada tahun 1990.
Taman Nasional Wasur terletak di bagian tenggara pulau Papua, dalam wilayah administratif Kabupaten Merauke Provinsi Papua.
Kawasan hijau ini merupakan salah satu ekosistem lahan basah penting di Indonesia, karena memiliki potensi keanekaragaman hayati yang tinggi.
Terdapat 80 jenis mamalia yang berhabitat di Taman Nasional, 30 spesies merupakan endemik Papua.
Mamalia besar asli yang terdapat di kawasan Taman Nasional Wasur adalah tiga marsupial, yaitu kanguru lincah (Macropus agilis), kanguru hutan/biasa (Darcopsis veterum), dan kanguru bus (Thylogale brunii).
Sementara itu, jenis-jenis burung yang berhabitat di sini antara lain burung garuda Irian (Aquila gurnayei), cendrawasih (Paradisaea apoda), kakatua (Cacatua sp.), mambruk (Goura cristata), alap-alap (Accipiter sp.), nandur (Ailuroedus sp.), belibis (Anas sp.), hingga bangau (Ardea sp.).
Taman nasional ini yang merupakan daerah lahan basah yang sangat penting untuk burung-burung air di Indonesia, khususnya burung migran dari dan ke Australia dan Selandia Baru.
Taman Nasional Wasur mengalami dua musim dalam setahun, yaitu musim kering selama 5-6 bulan (Juni/Juli-Desember) dan musim basah selama 6-7 bulan (Januari-Juni/Juli). Kawasan ini memiliki iklim monsun.
Bomisai Visitor Centre, Bumi Perkemahan Wasur, Danau Rawa Biru, Penangkaran Anggrek Kampung Wasur, dan Pantai Onggaya merupakan beberapa objek wisata yang populer didatangi turis di sini.
Informasi lengkap mengenai syarat berkunjung ke Taman Nasional Wasur bisa diketahui melalui link ini.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
[Gambas:Instagram]
3 Taman Nasional di Papua, Salah Satunya Masuk Daftar UNESCO
Pemandangan Taman Nasional Teluk Cenderawasih di Papua. (Rogistira via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0))
2. Taman Nasional Teluk Cendrawasih
Teluk Cendrawasih merupakan taman nasional terbesar di Indonesia.
Kawasan Taman Nasional Teluk Cendrawasih yang seluas 1,4 juta hektare ini terdiri dari 20 persen daratan dan 80 persen perairan.
Pada tahun 1990, kawasan ini ditetapkan sebagai Cagar Alam Laut Teluk Cendrawasih. Kemudian pada tahun 2002, kawasan ini ditetapkan sebagai Taman Nasional Cendrawasih.
Taman Nasional Teluk Cendrawasih memiliki kurang lebih 200 jenis terumbu karang, sehingga habitat bawah lautnya sangat kaya dan berwarna, tidak kalah dengan Raja Ampat.
Wisatawan yang datang ke sini biasanya melakukan kegiatan penyelaman untuk bertemu dengan hiu paus.
Di Indonesia sendiri, hiu paus hanya bisa ditemukan di tiga lokasi, yaitu di Kepulauan Derawan, Kalimantan, Gorontalo, Sulawesi dan yang terakhir Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Papua.
Desa Kwatisore sendiri telah menjadi lokasi penelitian hiu paus.
Selain hiu paus, wisatawan juga bisa sekaligus wisata pengamatan burung cenderawasih dan penyu.
Turis yang ingin berwisata sejarah bisa 'island hopping' ke Pulau Misowaar dan Pulau Roon.
Di Pulau Misowaar ada gua purba, sementara di Pulau Roon ada gereja kuno.
Informasi mengenai syarat berkunjung ke Taman Nasional Teluk Cendrawasih bisa diketahui melalui link ini.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
[Gambas:Instagram]
[Gambas:Instagram]
3 Taman Nasional di Papua, Salah Satunya Masuk Daftar UNESCO
Pemandangan Taman Nasional Lorentz di Papua. (RaiyaniM via Wikimedia Commons (CC-BY-SA-4.0))
3. Taman Nasional Lorentz
Dari tiga taman nasional di Indonesia yang masuk daftar bergengsi Situs Warisan Dunia UNESCO, Taman Nasional Lorentz ialah salah satunya.
Ekspedisi yang dipimpin Dr. H.A. Lorentz pada tahun 1909 merupakan cikal bakal penamaaan kawasan Taman Nasional Lorentz.
Kawasan hijau di Lorentz lalu ditetapkan sebagai taman nasional oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1997.
Seluas 2,5 juta hektare, Taman Nasional Lorentz juga merupakan taman nasional terbesar di Asia Tenggara.
Bukan cuma hutan dan perairan, taman nasional ini juga memiliki gletser atau salju abadi di Puncak Jaya Wijaya (Piramida Cartenz).
Setinggi 4.884 meter di atas permukaan laut, puncak yang menjadi bagian dari Pegunungan Barisan Sudirman ini merupakan satu dari tujuh puncak gunung tertinggi di unia setelah Himalaya dan Andes.
Ada sekitar 630 jenis burung yang berhabitat di Taman Nasional Lorentz, salah satunya ialah burung kasuari yang sama populernya dengan burung cenderawasih.
Taman nasional ini juga dihuni oleh empat suku adat Papua, Asmat, Amung, Dani, Sempan, dan Nduga.
Taman Nasional Lorentz semakin sering disorot dunia karena gletser tropisnya dikabarkan semakin meleleh akibat dampak buruk pemanasan global.
Ancaman kerusakan lingkungan di sini juga ditambah dengan pembangunan jalan liar dan penambangan ilegal.
Semoga saja Taman Nasional Lorentz tak perlu masuk dari "daftar neraka" UNESCO seperti yang sedang dialami oleh Hutan Hujan Sumatera.
Informasi mengenai syarat berkunjung ke Taman Nasional Lorentz bisa diketahui melalui link ini.
[Gambas:Instagram]
[Gambas:Instagram]