5 Cara Orang Tua Lindungi Anak dari Pelecehan Seksual
CNN Indonesia
Rabu, 08 Sep 2021 13:14 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Psikolog klinis Kantiana Taslim mengatakan ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua sebagai upaya perlindungan dari tindakan pelecehan seksual. (Istockphoto/KatarzynaBialasiewicz)
Jakarta, CNN Indonesia --
Beberapa hari belakangan topik pelecehan seksualramai dibicarakan publik. Perlu disadari, tindakan pelecehan seksual tak cuma terjadi pada perempuan dan anak, tapi juga lelaki dewasa. Tentu ini jadi kekhawatiran buat banyak orang, terutama untuk orang tua yang masih punya anak kecil.
Kantiana Taslim, psikolog klinis di Ohana Space, mengatakan ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua sebagai upaya perlindungan dari tindakan pelecehan seksual.
1. Edukasi seksualitas sejak dini
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelecehan seksual bisa dicegah saat anak mengenal dirinya, privasinya serta batasan mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan orang lain terhadap dirinya. Kantiana berkata pendidikan seksualitas sebaiknya dilakukan sejak dini.
"[Edukasi] tergantung dari usia. Dari anak balita, usia 2-3 tahun sampai sebelum usia TK-SD, lewat pengenalan anggota tubuh, belajar mengenal dirinya, konsep 'aku', nama, mengenal anggota tubuh mulai dari mata, tangan, kaki, perut, alat kelamin," jelas Kantiana saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (7/9).
Memberikan informasi buat anak juga perlu menggunakan istilah yang tepat agar anak paham. Kantiana memberikan contoh kadang orang tua menggunakan istilah burung sebagai pengganti penis. Padahal penis merupakan istilah yang benar dan dipakai di bahan pembelajaran lain.
"Anak jadi tahu apa yang dibahas, fungsinya apa. Jangan menimbulkan kebingungan," imbuhnya.
3. Ajarkan batasan
Sembari perlahan mengenalkan anggota tubuh dan fungsinya, beritahu pula batasan-batasan yang harus diketahui anak. Batasan ini terkait siapa saja yang boleh menyentuh anggota tubuh tertentu.
"Mana bagian tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain, hanya boleh dirinya sendiri, mama atau papa, pengasuh. Beritahu yang jelas bagian mana, dada, kemudian perut ke bawah," kata Kantiana.
Kemudian ajarkan anak untuk mengambil tindakan saat ada orang asing yang menyentuh tubuhnya atau sekadar mengajak bicara. Ini sangat penting ketika anak sudah mulai belajar di luar atau ke sekolah. Anak bisa diajarkan untuk memberitahu teman, pengasuh atau gurunya atau langsung berteriak meminta pertolongan.
"Pedofil atau orang yang berniat melakukan pelecehan seksual ini sulit dikenali ciri-cirinya. Yang perlu dilakukan meningkatkan semacam protokol keamanan, kalau diajak ngomong, disentuh oleh orang tidak dikenal atau siapapun, anak tidak nyaman, dia berhak untuk menolak," imbuhnya.
4. Awasi aktivitas di dunia maya
Anak usia SD hingga SMP mulai banyak mengakses gadget. Orang tua perlu mengajarkan privasi baik dari segi fisik, lingkungan juga privasi di dunia maya. Orang tua bisa memulai dari memberitahu anak informasi apa saja yang boleh dan tidak boleh dicantumkan di media sosial.
"Nomor telepon, alamat, itu enggak usah dijelaskan di biodata. Anak dijelaskan bahwa untuk menghindari orang yang bermaksud jahat dan melacak keberadaan kita," jelas Kantiana.
Kemudian tidak ada salahnya menerapkan private mode (mode privat). Ini akan melindungi anak dari orang-orang tak dikenal yang berusaha mengakses akun, melacak informasi, mengambil unggahan lau hal-hal lain yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Anak perlu tahu bahwa dengan mode ini, ia bisa memfilter siapa saja yang bisa berinteraksi dengannya.
5. Kerjasama dengan sekolah
Saat anak di luar rumah, orang tua akan mempercayakan anak pada sekolah. Perlu kerjasama yang baik antara orang tua dan sekolah untuk memaksimalkan perlindungan buat anak.
Kantiana menyarankan untuk menginfokan sekolah bahwa yang mengantar dan menjemput anak ke sekolah ayah atau ibunya. Jika yang menjemput orang lain, orang tua wajib memberitahu pihak sekolah. Langkah ini akan menghindarkan anak dari interaksi dengan orang asing yang tidak ia kenal.
"Di area sekolah, sampai batas mana anak boleh bermain. Kemudian kalau ada apa-apa, orang tua punya kontak yang bisa dihubungi," imbuhnya.
Jakarta, CNN Indonesia --
Beberapa hari belakangan topik pelecehan seksualramai dibicarakan publik. Perlu disadari, tindakan pelecehan seksual tak cuma terjadi pada perempuan dan anak, tapi juga lelaki dewasa. Tentu ini jadi kekhawatiran buat banyak orang, terutama untuk orang tua yang masih punya anak kecil.
Kantiana Taslim, psikolog klinis di Ohana Space, mengatakan ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua sebagai upaya perlindungan dari tindakan pelecehan seksual.
1. Edukasi seksualitas sejak dini
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelecehan seksual bisa dicegah saat anak mengenal dirinya, privasinya serta batasan mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan orang lain terhadap dirinya. Kantiana berkata pendidikan seksualitas sebaiknya dilakukan sejak dini.
"[Edukasi] tergantung dari usia. Dari anak balita, usia 2-3 tahun sampai sebelum usia TK-SD, lewat pengenalan anggota tubuh, belajar mengenal dirinya, konsep 'aku', nama, mengenal anggota tubuh mulai dari mata, tangan, kaki, perut, alat kelamin," jelas Kantiana saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (7/9).
Memberikan informasi buat anak juga perlu menggunakan istilah yang tepat agar anak paham. Kantiana memberikan contoh kadang orang tua menggunakan istilah burung sebagai pengganti penis. Padahal penis merupakan istilah yang benar dan dipakai di bahan pembelajaran lain.
"Anak jadi tahu apa yang dibahas, fungsinya apa. Jangan menimbulkan kebingungan," imbuhnya.
3. Ajarkan batasan
Sembari perlahan mengenalkan anggota tubuh dan fungsinya, beritahu pula batasan-batasan yang harus diketahui anak. Batasan ini terkait siapa saja yang boleh menyentuh anggota tubuh tertentu.
"Mana bagian tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain, hanya boleh dirinya sendiri, mama atau papa, pengasuh. Beritahu yang jelas bagian mana, dada, kemudian perut ke bawah," kata Kantiana.
Kemudian ajarkan anak untuk mengambil tindakan saat ada orang asing yang menyentuh tubuhnya atau sekadar mengajak bicara. Ini sangat penting ketika anak sudah mulai belajar di luar atau ke sekolah. Anak bisa diajarkan untuk memberitahu teman, pengasuh atau gurunya atau langsung berteriak meminta pertolongan.
"Pedofil atau orang yang berniat melakukan pelecehan seksual ini sulit dikenali ciri-cirinya. Yang perlu dilakukan meningkatkan semacam protokol keamanan, kalau diajak ngomong, disentuh oleh orang tidak dikenal atau siapapun, anak tidak nyaman, dia berhak untuk menolak," imbuhnya.
Awasi Anak
Foto: Istockphoto/Coldsnowstorm
4. Awasi aktivitas di dunia maya
Anak usia SD hingga SMP mulai banyak mengakses gadget. Orang tua perlu mengajarkan privasi baik dari segi fisik, lingkungan juga privasi di dunia maya. Orang tua bisa memulai dari memberitahu anak informasi apa saja yang boleh dan tidak boleh dicantumkan di media sosial.
"Nomor telepon, alamat, itu enggak usah dijelaskan di biodata. Anak dijelaskan bahwa untuk menghindari orang yang bermaksud jahat dan melacak keberadaan kita," jelas Kantiana.
Kemudian tidak ada salahnya menerapkan private mode (mode privat). Ini akan melindungi anak dari orang-orang tak dikenal yang berusaha mengakses akun, melacak informasi, mengambil unggahan lau hal-hal lain yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Anak perlu tahu bahwa dengan mode ini, ia bisa memfilter siapa saja yang bisa berinteraksi dengannya.
5. Kerjasama dengan sekolah
Saat anak di luar rumah, orang tua akan mempercayakan anak pada sekolah. Perlu kerjasama yang baik antara orang tua dan sekolah untuk memaksimalkan perlindungan buat anak.
Kantiana menyarankan untuk menginfokan sekolah bahwa yang mengantar dan menjemput anak ke sekolah ayah atau ibunya. Jika yang menjemput orang lain, orang tua wajib memberitahu pihak sekolah. Langkah ini akan menghindarkan anak dari interaksi dengan orang asing yang tidak ia kenal.
"Di area sekolah, sampai batas mana anak boleh bermain. Kemudian kalau ada apa-apa, orang tua punya kontak yang bisa dihubungi," imbuhnya.