HARI PANGAN SEDUNIA

Asal-usul Mitos 'Makan Tak Habis Ayam Akan Mati'

tst | CNN Indonesia
Sabtu, 16 Oct 2021 15:49 WIB
Sosiolog Universitas Indonesia menyebut bahwa mitos digunakan orang zaman dahulu untuk menyampaikan pesan tertentu menggunakan metafora. Sosiolog Universitas Indonesia menyebut bahwa mitos digunakan orang zaman dahulu untuk menyampaikan pesan tertentu menggunakan metafora. (Foto: Thinkstock/M-image)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebagian masyarakat Indonesia mempercayai berbagai mitos yang telah berkembang turun-temurun. Mitos-mitos ini seolah lestari di masyarakat dan tetap dipegang teguh meskipun perkembangan zaman semakin modern.

Salah satu mitos yang masih lestari di masyarakat adalah kepercayaan terkait makanan. Sebagian masyarakat percaya jika makanan tidak dihabiskan maka ayam akan mati.

Rasanya kepercayaan ini tepat dibahas berbarengan dengan hari pangan sedunia yang dirayakan setiap tahunnya di 16 Oktober, tepat hari ini.


Mitos-mitos ini bisa berkembang di masyarakat tentu tak muncul begitu saja. Sosiolog Universitas Indonesia, Ricardo mengatakan kepercayaan yang berkembangan di masyarakat merupakan bentuk dari pengetahuan yang ada di masyarakat pada suatu masa.

Kepercayaan tersebut juga menjadi bentuk sosialisasi dan juga teknik edukasi para orang tua kepada generasi penerus mereka.

"Saat mendidik anak-anak, khususnya di masa belum ada media elektronik dan juga listrik masih terbatas, orang memberikan ilustrasi pendidikan dengan mengambil metafora dari kejadian yang ada di alam termasuk hewan dan tumbuhan," kata Ricardo saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (15/10).

Tak jarang kepercayaan yang semula sebagai bentuk pembelajaran bagi anak-anak, justru berkembang dan dipercaya oleh masyarakat dari berbagai kalangan.

Bahkan, muncul istilah 'pamali' yang kerap disangkutkan juga dengan hal-hal mistis.

"Mitos tentang makan tidak habis ayam akan mati umumnya berkembang di pedesaan yang penduduknya bertani dan memiliki ayam," kata dia.

Mitos ini erat dengan ekonomi masyarakat. Sebab ayam memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena bisa sebagai alat tukar dengan barang lain atau uang. Mitos yang kemudian berkembang menjadi aturan ini sebenarnya dibuat agar anak-anak bisa menghargai nilai ekonomi suatu makanan.

"Sebenarnya orang tua dulu belum bisa membahasakan bahwa makanan diperoleh secara bersusah payah sehingga makanan itu harus habis sehingga harus dipertimbangkan secara ekonomis," kata dia.

(tst/fjr)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER