Jakarta, CNN Indonesia -- Jelang penghujung kisah cinta Hong Du-sik dan Yoon Hye-jin, penonton Hometown Cha Cha Cha malah dibikin 'mulas'. Ada konflik yang berfokus pada Du-sik alias Hong Banjang. Ia ternyata menyimpan luka dari masa lalu dan belum berani terbuka pada Hye-jin.
Sedari episode awal-awal, penonton diberikan petunjuk mengenai trauma Hong Banjang serta sesi konsultasinya dengan tenaga profesional. Bahkan sempat di satu sesi disebutkan bahwa proses pemulihan menunjukkan perkembangan positif.
Namun ternyata tokoh pria yang diperankan Kim Seon-ho ini belum benar-benar pulih. Mengapa proses pemulihan trauma bisa memakan waktu lama?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut psikolog klinis Nuzulia Rahma Tristinarum, ada beberapa hal yang menyebabkan proses pemulihan trauma bisa memakan waktu lama.
"Luka yang disimpan terlalu dalam, mengabaikan perasaan atau emosi sendiri sejak awal sehingga tanpa disadari luka itu terus ada atau tidak hilang dan justru semakin lama semakin mengganggu, juga ketidaktahuan bagaimana melepaskan diri dari luka," kata Rahma via pesan singkat kepada CNNIndonesia.com, Senin (18/10).
Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi proses pemulihan trauma sebagai berikut.
1. Kesadaran diri atau awareness
Rahma berkata, kesadaran diri atau sadar adalah proses pertama dari pemulihan (healing). Orang sadar bahwa ada sesuatu yang tidak pas atau tidak tepat yang sedang dialaminya.
"Tanpa kesadaran diri, seseorang tidak merasa perlu untuk pulih dan berubah ke arah hidup lebih baik," imbuhnya.
2. Kemauan diri mencari cara untuk pulih
Dari kesadaran bahwa ada sesuatu yang tidak beres dan perlu dipulihkan, kemudian perlu tindak lanjut dengan mencari cara untuk pulih, mencari dukungan dan mencari bantuan.
Seringkali orang enggan mencari bantuan tenaga profesional dengan berbagai alasan termasuk ada ketakutan mendapat cap 'gila'.
3. Kemauan untuk berproses
Merawat dan memulihkan luka secara mental atau psikologis berbeda dengan merawat luka secara fisik. Rahma berkata, healing bukan sesuatu yang instan. Kadang tidak cukup sekali atau dua kali berkonsultasi, belum ditambah terapi-terapi yang perlu dijalani.
"Terkadang seseorang berhenti di tengah jalan sebelum dia benar-benar pulih karena lelah dengan prosesnya," katanya.
4. Dukungan orang terdekat
Seorang yang dalam proses healing memerlukan dukungan dari orang sekitar terutama orang terdekat semisal pasangan maupun keluarga inti.
Dalam kasus Hong Banjang, Hye-jin jadi orang terdekat yang mempengaruhinya untuk healing, di samping para warga Gongjin.
5. Akses pada ahlinya
Tidak semua orang beruntung memiliki akses ke tenaga profesional termasuk psikolog, psikiater maupun konselor. Hong Banjang saja harus ke Seoul untuk bisa berkonsultasi sebab Gonjing diceritakan sebagai desa pesisir yang serba terbatas untuk urusan fasilitas kesehatan. Saat akses sulit, tentu healing makin sulit dilakukan.
6. Jadi pasangan yang supportif
Sebagai pasangan, Hye-jin diharapkan bisa mendukung proses healing Hong Banjang. Namun karena Hong Banjang sendiri belum mau terbuka, respons Hye-jin mungkin mewakili respons semua orang saat pasangannya seperti menyembunyikan sesuatu.
Padahal dalam suatu hubungan, perlu keterbukaan dan kejujuran untuk membangun kepercayaan.
Bagaimana ya agar bisa jadi pasangan yang suportif demi pemulihan trauma si dia?
Simak jawabannya di halaman berikut.
Do dan don'ts saat seseorang menjalani proses pemulihan dari trauma.
Simak yang dapat dan sebaiknya tidak dilakukan saat mendampingi pasangan yang berjuang dengan trauma. (Arsip tvN via Twitter @CJnDrama)
Rahma memberikan beberapa 'do' dan 'don'ts' saat pasangan Anda sedang menjalani proses pemulihan dari trauma. Simak penjelasannya sebagai berikut.
Do's
1. Mendengarkan pasangan tanpa memberikan penilaian
2. Memeluk dan memberikan sentuhan sayang pada pasangan, hal ini secara psikologis akan meningkatkan rasa dicintai. Pelukan, misalnya, akan menghilangkan stres.
3. Bertanya pada pasangan apa yang bisa dibantu atau dilakukan buat dia.
4. Mencari bantuan ahli untuk membantu pemulihan pasangan dan menemani pasangan dalam setiap proses konseling juga terapinya.
Don'ts
1. Memberikan penilaian misal, menyebut pasangan kurang bersyukur, kurang iman atau kurang ibadah.
2. Menganggap tingkah pasangan 'lebay' atau berlebihan.
3. Mengabaikan saat pasangan ingin menceritakan perasaannya.
5. Marah-marah dan menganggap kondisi pasangan mempersulit kehidupan mereka.
Apa saya benar-benar sudah pulih?
Mencapai kata 'pulih' memang bukan hal mudah. Proses healing sudah berjalan, berbagai terapi maupun latihan sudah dikerjakan. Kemudian hidup rasanya mulus dan baik-baik saja.
Kendati demikian, Rahma menyebut pulih tidak selalu berarti saat hidup terasa baik-baik saja, pekerjaan maupun hubungan lancar. Lupa dengan dengan peristiwa yang memicu trauma pun bukan berarti pulih.
"Pulih itu bukan berarti lupa pada peristiwanya. Peristiwanya bisa tetap diingat, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana perasaan kita pada peristiwa tersebut. Jika sudah pulih, salah satu indikatornya adalah kita bisa mengingat peristiwa yang membuat trauma itu namun perasaan kita terhadap trauma tersebut sudah berbeda," jelasnya.
"Ada skala atau prosentase rasa sakit yang berkurang dari sebelumnya. Walaupun bisa jadi belum hilang 100% namun ada perasaan lebih menerima dan lebih tenang."