Waspada Terbuai Review, Ada 1 Juta Ulasan Palsu di Tripadvisor
CNN Indonesia
Rabu, 03 Nov 2021 17:05 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Sepanjang tahun lalu, Tripadvisor telah menghapus sekitar 1 juta ulasan palsu. Waspada terbuai review yang terlalu manis atau yang sarat kritik. (iStockphoto/Natalie_magic)
Jakarta, CNN Indonesia --
Banyak orang yang mengandalkan ulasan wisata sebelum melakukan pemesanan hotel atau tiket wisata.
Ulasan wisata memang bisa dijadikan salah satu pertimbangan, tapi wisatawan juga perlu waspada dengan ulasan wisata yang rasanya terlalu manis atau mungkin terlalu kejam.
Dan dalam kasus ulasan wisata di Tripadvisor, setidaknya ada 1 juta ulasan palsu yang diterima sepanjang tahun lalu, menurut keterangan resmi perwakilan perusahaan tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untungnya, sebagian besar ulasan palsu bisa diciduk, sebelum benar-benar terbit di internet dan membingungkan wisatawan.
Dalam Laporan Transparansi Ulasan Tripadvisor tahun 2021, perusahaan itu mengungkapkan bahwa dari lebih dari 26 juta ulasan yang dikirimkan ke situsnya setidaknya ada 1 juta ulasan palsu, atau sekitar 3,6 persen dari semua ulasan.
Dari ulasan palsu yang dikirimkan, sekitar 67,1 persen bisa terdeteksi lalu dihapus sebelum muncul di TripAdvisor.
Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa pada tahun 2020, Tripadvisor melarang 34.605 properti berpromosi karena aktivitas penipuan, serta 20.299 lainnya karena tidak mengikuti aturan berpromosi yang ditetapkan.
Investigasi perusahaan juga mendeteksi kemunculan 65 situs ulasan berbayar baru, dan memblokir penerbitan ulasan berbayar dari total 372 situs ulasan berbayar.
Pelanggaran terhadap pedoman unggahan terkait COVID-19 juga mendorong Tripadvisor untuk menghapus 46.145 ulasan.
"Laporan tersebut menyoroti langkah-langkah penting yang diambil Tripadvisor untuk melindungi wisatawan, pengunjung, dan bisnis selama pandemi COVID-19, dengan pengenalan standar komunitas baru yang dirancang untuk mencegah penyebaran misinformasi COVID-19 dan melindungi bisnis yang telah menjaga keamanan pelanggan," kata laporan itu, seperti yang dikutip dari Travel and Leisure pada Rabu (3/11).
Secara keseluruhan, Tripadvisor menghapus atau menolak lebih dari 2 juta pengiriman ulasan - sekitar 8,6 persen dari total - karena dianggap menipu atau melanggar pedoman komunitas.
Upaya "bersih-bersih" ini dilakukan baik secara manual atau oleh "sistem analisis tinjauan lanjutan" perusahaan, yang mencakup proses dua langkah, sebelum ditinjau langsung oleh staf.
"Dua tahun lalu, kami adalah platform ulasan besar pertama yang menerbitkan laporan transparansi yang merinci 'apa, mengapa, dan bagaimana' di balik upaya kami untuk melindungi wisatawan dari ulasan palsu," kata Becky Foley, kepala Trust and Safety di Tripadvisor.
"Saat itu kami mengatakan bahwa industri kami harus bekerja sama untuk memerangi ulasan palsu. Platform ulasan lain telah mengikuti jejak kami, berbagi lebih banyak informasi tentang upaya mereka sendiri untuk memoderasi ulasan, tetapi masih banyak lagi yang dapat dicapai melalui kolaborasi."
Karena tidak semua ulasan palsu dapat dideteksi melalui upaya Tripadvisor, Laporan Transparansi Ulasan tahunan juga menyertakan tips bagi pengguna untuk membantu mereka menemukan yang palsu.
Menurut infografis yang disertakan dengan laporan tersebut, ulasan dengan kata kunci "terbaru", "dialami sendiri", "relevan", "sopan dan tidak memihak)" lebih cenderung asli.
Berikut ini beberapa cara agar tak terjebak ulasan palsu:
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
Berikut ini beberapa cara agar tak terjebak ulasan palsu:
1. Baca dari yang terburuk
Situs ulasan wisata biasanya memiliki sistem membaca ulasan dari yang terbaik sampai yang terbaik.
Biasakan membaca ulasan paling buruk terlebih dahulu, baru kemudian membaca ulasan paling terbaik, agar mengetahui masalah umum di sana yang dialami tamu sebelum kita.
Jawaban profesional dari pemilik bisnis atas ulasan yang diberikan juga bisa jadi pertimbangan baik atau buruknya layanan yang bakal diberikan.
Setelah membaca ulasan terburuk jangan lupa baca ulasan terbaiknya. Bandingan jumlah antara ulasan baik dan buruk.
Jika ulasan buruk ditulis berulang dan terjadi di minggu atau bulan yang berdekatan, bisa jadi ulasan itu benar adanya.
Sebaliknya, jika ulasan buruk ditulis berulang dan terjadi di waktu yang tak berdekatan, bisa jadi juga ulasan itu ditulis oleh pesaing bisnisnya.
Hal yang sama juga bisa diamati dari ulasan baik.
Kalau ulasan yang ditulis bertema sama dan ungkapannya membosankan, ada kemungkinan pemilik bisnis melakukan kecurangan, contohnya memberikan makanan atau minuman gratis agar tamu mau menuliskan ulasan baik.
3. Kurang Rinci
Situs Inc mengungkap bahwa sebagian besar ulasan palsu menulis segala sesuatunya kurang rinci dan kurang personal.
Contohnya jika akun A menulis tentang indahnya bangunan hotel tanpa menulis kondisi kamar secara rinci, turis boleh berpikir dua kali sebelum memesan kamar di hotel itu.
Tak ada yang lebih mencurigakan dari membaca ulasan buruk dengan kalimat terlalu kejam dan ulasan baik dengan kalimat terlalu manis.
Jangan terbawa emosi saat membaca ulasan dramatis seperti itu. Lebih baik fokus membaca ulasan yang berkalimat sederhana dan sesuai dengan yang dicari.
5. Akun Palsu
Forum pengguna di TripAdvisor juga sering membicarakan tentang ulasan palsu.
Para pengguna dalam forum tersebut mengingatkan agar selalu waspada dengan akun-akun palsu yang sengaja dibuat untuk memberi dan menambah jumlah ulasan baik.
Akun palsu biasanya jarang mengunggah ulasan di tempat lain. Misalnya, ada akun pengguna bernama A yang selalu mengunggah ulasan baik di jaringan hotel 123, bisa jadi akun A adalah akun palsu.
Kalau sudah terlalu bingung membaca ulasan, sebaiknya mengingatkan diri bahwa sebenarnya tak ada yang sempurna di dunia ini, terutama soal hotel atau restoran.
Bisa juga berpegang pada pedoman "ada uang, ada barang" dengan makna: tempat murah belum tentu memberikan pelayanan maksimal dan tempat mahal haram memberikan pelayanan yang payah.
Tapi pedoman itu kembali lagi pada diri sendiri karena murah, mahal, payah, dan maksimal, adalah hal yang subyektif bagi setiap turis.
Mungkin kamar hotelnya tak besar, tapi apakah lokasi dekat dengan keramaian kota? Atau mungkin makanan yang datang cukup lama, tapi apakah didatangi banyak turis? Hal itu bisa jadi beberapa pertimbangan.
Jika merasa diri bisa menanggulangi kekecewaan-kekecewaan sepele macam itu, percayalah bahwa liburan akan terasa lebih menyenangkan.
Banyak orang yang mengandalkan ulasan wisata sebelum melakukan pemesanan hotel atau tiket wisata.
Ulasan wisata memang bisa dijadikan salah satu pertimbangan, tapi wisatawan juga perlu waspada dengan ulasan wisata yang rasanya terlalu manis atau mungkin terlalu kejam.
Dan dalam kasus ulasan wisata di Tripadvisor, setidaknya ada 1 juta ulasan palsu yang diterima sepanjang tahun lalu, menurut keterangan resmi perwakilan perusahaan tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untungnya, sebagian besar ulasan palsu bisa diciduk, sebelum benar-benar terbit di internet dan membingungkan wisatawan.
Dalam Laporan Transparansi Ulasan Tripadvisor tahun 2021, perusahaan itu mengungkapkan bahwa dari lebih dari 26 juta ulasan yang dikirimkan ke situsnya setidaknya ada 1 juta ulasan palsu, atau sekitar 3,6 persen dari semua ulasan.
Dari ulasan palsu yang dikirimkan, sekitar 67,1 persen bisa terdeteksi lalu dihapus sebelum muncul di TripAdvisor.
Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa pada tahun 2020, Tripadvisor melarang 34.605 properti berpromosi karena aktivitas penipuan, serta 20.299 lainnya karena tidak mengikuti aturan berpromosi yang ditetapkan.
Investigasi perusahaan juga mendeteksi kemunculan 65 situs ulasan berbayar baru, dan memblokir penerbitan ulasan berbayar dari total 372 situs ulasan berbayar.
Pelanggaran terhadap pedoman unggahan terkait COVID-19 juga mendorong Tripadvisor untuk menghapus 46.145 ulasan.
"Laporan tersebut menyoroti langkah-langkah penting yang diambil Tripadvisor untuk melindungi wisatawan, pengunjung, dan bisnis selama pandemi COVID-19, dengan pengenalan standar komunitas baru yang dirancang untuk mencegah penyebaran misinformasi COVID-19 dan melindungi bisnis yang telah menjaga keamanan pelanggan," kata laporan itu, seperti yang dikutip dari Travel and Leisure pada Rabu (3/11).
Secara keseluruhan, Tripadvisor menghapus atau menolak lebih dari 2 juta pengiriman ulasan - sekitar 8,6 persen dari total - karena dianggap menipu atau melanggar pedoman komunitas.
Upaya "bersih-bersih" ini dilakukan baik secara manual atau oleh "sistem analisis tinjauan lanjutan" perusahaan, yang mencakup proses dua langkah, sebelum ditinjau langsung oleh staf.
"Dua tahun lalu, kami adalah platform ulasan besar pertama yang menerbitkan laporan transparansi yang merinci 'apa, mengapa, dan bagaimana' di balik upaya kami untuk melindungi wisatawan dari ulasan palsu," kata Becky Foley, kepala Trust and Safety di Tripadvisor.
"Saat itu kami mengatakan bahwa industri kami harus bekerja sama untuk memerangi ulasan palsu. Platform ulasan lain telah mengikuti jejak kami, berbagi lebih banyak informasi tentang upaya mereka sendiri untuk memoderasi ulasan, tetapi masih banyak lagi yang dapat dicapai melalui kolaborasi."
Karena tidak semua ulasan palsu dapat dideteksi melalui upaya Tripadvisor, Laporan Transparansi Ulasan tahunan juga menyertakan tips bagi pengguna untuk membantu mereka menemukan yang palsu.
Menurut infografis yang disertakan dengan laporan tersebut, ulasan dengan kata kunci "terbaru", "dialami sendiri", "relevan", "sopan dan tidak memihak)" lebih cenderung asli.
Berikut ini beberapa cara agar tak terjebak ulasan palsu:
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
Ilustrasi. Sepanjang tahun lalu, Tripadvisor telah menghapus sekitar 1 juta ulasan palsu. Waspada terbuai review yang terlalu manis atau yang sarat kritik. (iStockphoto/Natalie_magic)
Berikut ini beberapa cara agar tak terjebak ulasan palsu:
1. Baca dari yang terburuk
Situs ulasan wisata biasanya memiliki sistem membaca ulasan dari yang terbaik sampai yang terbaik.
Biasakan membaca ulasan paling buruk terlebih dahulu, baru kemudian membaca ulasan paling terbaik, agar mengetahui masalah umum di sana yang dialami tamu sebelum kita.
Jawaban profesional dari pemilik bisnis atas ulasan yang diberikan juga bisa jadi pertimbangan baik atau buruknya layanan yang bakal diberikan.
Setelah membaca ulasan terburuk jangan lupa baca ulasan terbaiknya. Bandingan jumlah antara ulasan baik dan buruk.
Jika ulasan buruk ditulis berulang dan terjadi di minggu atau bulan yang berdekatan, bisa jadi ulasan itu benar adanya.
Sebaliknya, jika ulasan buruk ditulis berulang dan terjadi di waktu yang tak berdekatan, bisa jadi juga ulasan itu ditulis oleh pesaing bisnisnya.
Hal yang sama juga bisa diamati dari ulasan baik.
Kalau ulasan yang ditulis bertema sama dan ungkapannya membosankan, ada kemungkinan pemilik bisnis melakukan kecurangan, contohnya memberikan makanan atau minuman gratis agar tamu mau menuliskan ulasan baik.
3. Kurang Rinci
Situs Inc mengungkap bahwa sebagian besar ulasan palsu menulis segala sesuatunya kurang rinci dan kurang personal.
Contohnya jika akun A menulis tentang indahnya bangunan hotel tanpa menulis kondisi kamar secara rinci, turis boleh berpikir dua kali sebelum memesan kamar di hotel itu.
Tak ada yang lebih mencurigakan dari membaca ulasan buruk dengan kalimat terlalu kejam dan ulasan baik dengan kalimat terlalu manis.
Jangan terbawa emosi saat membaca ulasan dramatis seperti itu. Lebih baik fokus membaca ulasan yang berkalimat sederhana dan sesuai dengan yang dicari.
5. Akun Palsu
Forum pengguna di TripAdvisor juga sering membicarakan tentang ulasan palsu.
Para pengguna dalam forum tersebut mengingatkan agar selalu waspada dengan akun-akun palsu yang sengaja dibuat untuk memberi dan menambah jumlah ulasan baik.
Akun palsu biasanya jarang mengunggah ulasan di tempat lain. Misalnya, ada akun pengguna bernama A yang selalu mengunggah ulasan baik di jaringan hotel 123, bisa jadi akun A adalah akun palsu.
Kalau sudah terlalu bingung membaca ulasan, sebaiknya mengingatkan diri bahwa sebenarnya tak ada yang sempurna di dunia ini, terutama soal hotel atau restoran.
Bisa juga berpegang pada pedoman "ada uang, ada barang" dengan makna: tempat murah belum tentu memberikan pelayanan maksimal dan tempat mahal haram memberikan pelayanan yang payah.
Tapi pedoman itu kembali lagi pada diri sendiri karena murah, mahal, payah, dan maksimal, adalah hal yang subyektif bagi setiap turis.
Mungkin kamar hotelnya tak besar, tapi apakah lokasi dekat dengan keramaian kota? Atau mungkin makanan yang datang cukup lama, tapi apakah didatangi banyak turis? Hal itu bisa jadi beberapa pertimbangan.
Jika merasa diri bisa menanggulangi kekecewaan-kekecewaan sepele macam itu, percayalah bahwa liburan akan terasa lebih menyenangkan.