Neraka di Rumah Tangga: 'Saya Takut Kakak Pulang Tinggal Nama'
CNN Indonesia
Kamis, 25 Nov 2021 17:47 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Daya hidup kakak saya nyaris pudar akibat kekerasan domestik semenjak menikah atau kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). (CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani)
Jakarta, CNN Indonesia --
Belakangan saya merasa hidup tak ada artinya lagi. Bayangkan, saya mampu bantu teman, bantu hewan yang terluka, tapi tidak dengan kakak saya sendiri.
Daya hidup kakak nyaris pudar akibat kekerasan domestik semenjak menikah atau kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Ida - bukan nama sebenarnya - adalah kakak saya satu-satunya. Buat sebagian keluarga suku Batak, memiliki anak laki-laki jadi suatu keutamaan dan kebanggaan, kendati kami berdua terlahir sebagai perempuan, cinta papa dan mama tak pernah kurang buat kami. Mereka bukan orang tua yang suka mengekang atau mengatur anak-anaknya. Buat mereka, yang penting anak bahagia dengan pilihannya, termasuk pasangan hidup.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah lima tahun berpacaran, Kak Ida dan Kak Kris -bukan nama sebenarnya- memutuskan menikah. Sebelumnya, kami tidak ada obrolan mengenai rencana pernikahan. Sampai saat saya tahu, rencana pernikahan sudah matang dibicarakan berikut tanggalnya.
Hanya saja, jelang pernikahan, saya mencium gelagat-gelagat tidak beres. Mulai dari Kak Ida yang diperlakukan tidak semestinya, seperti disuruh turun dari mobil hanya karena cekcok dengan calon suami, hingga sikap keluarga calon besan yang membikin saya jengkel.
Pada H-2 bulan jelang pernikahan, Kak Ida cekcok dengan calon suaminya. Pertengkaran membuat Kak Ida diusir dan diperintah untuk turun dari mobil. Cekcok wajar saja jelang pernikahan, tapi apakah sampai harus diturunkan dari mobil?
Saat pernikahan semakin dekat, gelagat keluarga Kak Kris semakin tidak beres. Mereka menilai keluarga kami sombong karena bergaya tidak sesuai dengan apa yang kami punya. Belum pernah bertemu pun, saya sudah dicap sombong.
Pada akhirnya, pernikahan tetap terjadi. Dari sini 'neraka' yang sebenarnya dimulai.
Ilustrasi KDRT. (iStockphoto/iweta0077)
Neraka rumah tangga
Setelah sah jadi istri, Kak Ida tinggal bersama mertua dan iparnya. Sedangkan Kak Kris dinas ke luar negeri. Saya yang terbiasa dengannya sejak orok harus beradaptasi dan kembali fokus dengan studi.
Namun rasanya aneh, kok dia tidak pernah mengunjungi kami? Sudah hampir sebulan lho!
Kala itu, mama cuma menghibur saya dengan berkata biasanya orang yang baru menikah itu perlu adaptasi apalagi tinggal bersama mertua.
Baru pada April lalu, saya tahu dari orang tua kalau kondisi Kak Ida tidak baik-baik saja.
Dia diperlakukan bak asisten rumah tangga, didera dengan kata-kata kasar, hingga dilarang bergaul. Suami Kak Ida tak menafkahi istrinya, apalagi membela istrinya. Dia bahkan tak pernah ada di rumah. Suami yang seharusnya jadi tempat berlindung istri, malah justru tak pernah ada di sisinya. Sekalinya di rumah, dia tak pernah bertanya kondisi kakak, seolah semua baik-baik saja. Padahal dia pasti tahu apa yang terjadi.
Bak sudah jatuh tertimpa tangga, mertua kak Ida melarangnya bercerai dengan Kak Kris, apapun kondisinya.
Untuk menjamin Kak Ida tak kabur dari rumah mertuanya dan bertindak macam-macam, mereka memaksa kakak untuk tanda tangan surat perjanjian. Pun ada video yang memperlihatkan Kak Ida menangis saat dipaksa tanda tangan surat perjanjian. Surat perjanjian itu berisi jika dia berani menemui orang tua kami, anak yang dikandungnya (saat itu) akan diambil paksa. Ini artinya, Kak Ida tak akan bisa menemui anaknya sendiri, yang sudah dikandung 9 bulan dan dilahirkan dengan taruhan nyawanya sendiri.
Saya tak habis pikir, tapi saya berusaha mencerna cerita papa dan mama.
Hanya saja, saya ingin mendengar langsung dari mulut Kak Ida. Dia membenarkan. 'Iya, tapi doain aja aku', begitu dia bilang.
Baca cerita selanjutnya di halaman berikut.
Kami tidak diam. Orang tua kami terus menghubungi keluarga Kak Kris dengan harapan ada musyawarah antarkeluarga untuk mencari mufakat. Namun panggilan terus ditolak. Saya pun mencoba untuk kontak Kak Kris, tapi hasilnya nihil.
Saya melapor ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan Komnas Perempuan. Komnas Perempuan menindaklanjuti lewat tim gerak cepat. Namun tim terkendala dalam gerak sebab kakak saya sendiri maju-mundur. Dia kadang ingin maju, tapi tiba-tiba kemudian ingin mundur dan pasrah saja.
Bayang-bayang ancaman itu begitu nyata. Ancaman perceraian sehingga mengubah statusnya jadi janda, belum ancaman bahwa sang mertua akan menjelekkan nama orang tua kami di depan komunitas-komunitas. Dia juga pasti khawatir akan keselamatan anak dalam kandungannya.
Sumpah! Rasanya saya ingin seret dia keluar dari rumah itu. Kalau memungkinkan dijemput paksa. Namun ini jelas tidak bisa dilakukan. Dia adalah korban kekerasan domestik tetapi kadang tidak merasa sebagai korban dan menolak ditolong.
Saat ada kesempatan bertemu langsung, saya bilang ke dia bahwa apa yang dia alami adalah kekerasan, dia korban.
"Enggak perlu malu Kak, buat orang lain kamu tidak berharga tapi kamu berharga buat saya," kata itu yang terus saya ulangi kepadanya.
Suatu ketika ia menemui orang tua untuk minta lampu darurat (emergency lamp). Katanya, lampu kamar sudah mati tiga bulan dan dia tidak bisa mengganti lampu karena perut makin besar. Saya syok.
Hati saya teriris. Dia dalam kondisi hamil, dia kerja dan tidak kurang secara finansial, tapi harus bertahan di kamar lantai 2 rumah yang gelap!
Sulit membayangkan apa yang dirasakan papa dan mama. Mereka pasti hancur.
Ilustrasi KDRT. (iStockphoto/Mixmike)
'Pulang Kak'
Kak Ida melahirkan minggu lalu. Itu pun papa tahu karena aktif kontak dengan rumah sakit tempat dia cek kandungan. Keluarga kami baru berkunjung pada dua hari setelah bayi lahir. Saat itu pun, kami tidak berkesempatan menggendong si bayi.
Mertuanya bilang, 'Kalau bukan gara-gara ini (cucu), enggak taulah gimana dunianya.' Berarti tidak masalah kalau kakak saya meninggal di meja operasi?
Saya melihat Kak Ida terdiam layaknya orang yang ketakutan. Sebagai adik, saya merasa tak bisa berbuat apa-apa.
Saya berpikir, apa akan terus menunggu sampai kakak saya pulang nama? Apa yang terjadi padanya seperti mengantarkannya pada dua pilihan, gila atau mati.
Sikapnya yang maju mundur itu kami coba pahami. Kami tidak bisa menekan dia terus karena dia berada di posisi tidak menguntungkan. Namun sekeras apapun kami berupaya menolong, dia sendiri harus mau ditolong.
"Kalau aku pulang jadi janda, apa kamu enggak malu?" kata dia. Saya bilang dengan tegas: "Enggak dan enggak akan pernah".
Saya cuma ingin dia pulang, pulang ke rumah dan itu memang tempat teraman buat dia. Saya ingin dia pulang tanpa memikirkan konsekuensi jadi janda, mengabaikan 'cap' gagal membina rumah tangga dari masyarakat.
Apalah artinya semua konsekuensi itu jika nyawa taruhannya?
Mau sampai kapan dia kuat? Saya ingin dia memikirkan perasaan kami yang hancur melihat dia sekarang. Saya takut terlambat. Terbayang hari di mana kakak sudah tiada atau dipukuli sampai habis napas kemudian dibuang di jalan tanpa ada dari kami tahu.
Semoga Kak Ida terketuk hatinya, mau berkomitmen untuk dibantu.
Pulanglah kak, apa pun kondisi kakak, kakak berharga buat kami...
Jakarta, CNN Indonesia --
Belakangan saya merasa hidup tak ada artinya lagi. Bayangkan, saya mampu bantu teman, bantu hewan yang terluka, tapi tidak dengan kakak saya sendiri.
Daya hidup kakak nyaris pudar akibat kekerasan domestik semenjak menikah atau kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Ida - bukan nama sebenarnya - adalah kakak saya satu-satunya. Buat sebagian keluarga suku Batak, memiliki anak laki-laki jadi suatu keutamaan dan kebanggaan, kendati kami berdua terlahir sebagai perempuan, cinta papa dan mama tak pernah kurang buat kami. Mereka bukan orang tua yang suka mengekang atau mengatur anak-anaknya. Buat mereka, yang penting anak bahagia dengan pilihannya, termasuk pasangan hidup.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah lima tahun berpacaran, Kak Ida dan Kak Kris -bukan nama sebenarnya- memutuskan menikah. Sebelumnya, kami tidak ada obrolan mengenai rencana pernikahan. Sampai saat saya tahu, rencana pernikahan sudah matang dibicarakan berikut tanggalnya.
Hanya saja, jelang pernikahan, saya mencium gelagat-gelagat tidak beres. Mulai dari Kak Ida yang diperlakukan tidak semestinya, seperti disuruh turun dari mobil hanya karena cekcok dengan calon suami, hingga sikap keluarga calon besan yang membikin saya jengkel.
Pada H-2 bulan jelang pernikahan, Kak Ida cekcok dengan calon suaminya. Pertengkaran membuat Kak Ida diusir dan diperintah untuk turun dari mobil. Cekcok wajar saja jelang pernikahan, tapi apakah sampai harus diturunkan dari mobil?
Saat pernikahan semakin dekat, gelagat keluarga Kak Kris semakin tidak beres. Mereka menilai keluarga kami sombong karena bergaya tidak sesuai dengan apa yang kami punya. Belum pernah bertemu pun, saya sudah dicap sombong.
Pada akhirnya, pernikahan tetap terjadi. Dari sini 'neraka' yang sebenarnya dimulai.
Ilustrasi KDRT. (iStockphoto/iweta0077)
Neraka rumah tangga
Setelah sah jadi istri, Kak Ida tinggal bersama mertua dan iparnya. Sedangkan Kak Kris dinas ke luar negeri. Saya yang terbiasa dengannya sejak orok harus beradaptasi dan kembali fokus dengan studi.
Namun rasanya aneh, kok dia tidak pernah mengunjungi kami? Sudah hampir sebulan lho!
Kala itu, mama cuma menghibur saya dengan berkata biasanya orang yang baru menikah itu perlu adaptasi apalagi tinggal bersama mertua.
Baru pada April lalu, saya tahu dari orang tua kalau kondisi Kak Ida tidak baik-baik saja.
Dia diperlakukan bak asisten rumah tangga, didera dengan kata-kata kasar, hingga dilarang bergaul. Suami Kak Ida tak menafkahi istrinya, apalagi membela istrinya. Dia bahkan tak pernah ada di rumah. Suami yang seharusnya jadi tempat berlindung istri, malah justru tak pernah ada di sisinya. Sekalinya di rumah, dia tak pernah bertanya kondisi kakak, seolah semua baik-baik saja. Padahal dia pasti tahu apa yang terjadi.
Bak sudah jatuh tertimpa tangga, mertua kak Ida melarangnya bercerai dengan Kak Kris, apapun kondisinya.
Untuk menjamin Kak Ida tak kabur dari rumah mertuanya dan bertindak macam-macam, mereka memaksa kakak untuk tanda tangan surat perjanjian. Pun ada video yang memperlihatkan Kak Ida menangis saat dipaksa tanda tangan surat perjanjian. Surat perjanjian itu berisi jika dia berani menemui orang tua kami, anak yang dikandungnya (saat itu) akan diambil paksa. Ini artinya, Kak Ida tak akan bisa menemui anaknya sendiri, yang sudah dikandung 9 bulan dan dilahirkan dengan taruhan nyawanya sendiri.
Saya tak habis pikir, tapi saya berusaha mencerna cerita papa dan mama.
Hanya saja, saya ingin mendengar langsung dari mulut Kak Ida. Dia membenarkan. 'Iya, tapi doain aja aku', begitu dia bilang.
Baca cerita selanjutnya di halaman berikut.
Pulang, Kak...
Daya hidup kakak saya nyaris pudar akibat kekerasan domestik semenjak menikah atau kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). (CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani)
Kami tidak diam. Orang tua kami terus menghubungi keluarga Kak Kris dengan harapan ada musyawarah antarkeluarga untuk mencari mufakat. Namun panggilan terus ditolak. Saya pun mencoba untuk kontak Kak Kris, tapi hasilnya nihil.
Saya melapor ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan Komnas Perempuan. Komnas Perempuan menindaklanjuti lewat tim gerak cepat. Namun tim terkendala dalam gerak sebab kakak saya sendiri maju-mundur. Dia kadang ingin maju, tapi tiba-tiba kemudian ingin mundur dan pasrah saja.
Bayang-bayang ancaman itu begitu nyata. Ancaman perceraian sehingga mengubah statusnya jadi janda, belum ancaman bahwa sang mertua akan menjelekkan nama orang tua kami di depan komunitas-komunitas. Dia juga pasti khawatir akan keselamatan anak dalam kandungannya.
Sumpah! Rasanya saya ingin seret dia keluar dari rumah itu. Kalau memungkinkan dijemput paksa. Namun ini jelas tidak bisa dilakukan. Dia adalah korban kekerasan domestik tetapi kadang tidak merasa sebagai korban dan menolak ditolong.
Saat ada kesempatan bertemu langsung, saya bilang ke dia bahwa apa yang dia alami adalah kekerasan, dia korban.
"Enggak perlu malu Kak, buat orang lain kamu tidak berharga tapi kamu berharga buat saya," kata itu yang terus saya ulangi kepadanya.
Suatu ketika ia menemui orang tua untuk minta lampu darurat (emergency lamp). Katanya, lampu kamar sudah mati tiga bulan dan dia tidak bisa mengganti lampu karena perut makin besar. Saya syok.
Hati saya teriris. Dia dalam kondisi hamil, dia kerja dan tidak kurang secara finansial, tapi harus bertahan di kamar lantai 2 rumah yang gelap!
Sulit membayangkan apa yang dirasakan papa dan mama. Mereka pasti hancur.
Ilustrasi KDRT. (iStockphoto/Mixmike)
'Pulang Kak'
Kak Ida melahirkan minggu lalu. Itu pun papa tahu karena aktif kontak dengan rumah sakit tempat dia cek kandungan. Keluarga kami baru berkunjung pada dua hari setelah bayi lahir. Saat itu pun, kami tidak berkesempatan menggendong si bayi.
Mertuanya bilang, 'Kalau bukan gara-gara ini (cucu), enggak taulah gimana dunianya.' Berarti tidak masalah kalau kakak saya meninggal di meja operasi?
Saya melihat Kak Ida terdiam layaknya orang yang ketakutan. Sebagai adik, saya merasa tak bisa berbuat apa-apa.
Saya berpikir, apa akan terus menunggu sampai kakak saya pulang nama? Apa yang terjadi padanya seperti mengantarkannya pada dua pilihan, gila atau mati.
Sikapnya yang maju mundur itu kami coba pahami. Kami tidak bisa menekan dia terus karena dia berada di posisi tidak menguntungkan. Namun sekeras apapun kami berupaya menolong, dia sendiri harus mau ditolong.
"Kalau aku pulang jadi janda, apa kamu enggak malu?" kata dia. Saya bilang dengan tegas: "Enggak dan enggak akan pernah".
Saya cuma ingin dia pulang, pulang ke rumah dan itu memang tempat teraman buat dia. Saya ingin dia pulang tanpa memikirkan konsekuensi jadi janda, mengabaikan 'cap' gagal membina rumah tangga dari masyarakat.
Apalah artinya semua konsekuensi itu jika nyawa taruhannya?
Mau sampai kapan dia kuat? Saya ingin dia memikirkan perasaan kami yang hancur melihat dia sekarang. Saya takut terlambat. Terbayang hari di mana kakak sudah tiada atau dipukuli sampai habis napas kemudian dibuang di jalan tanpa ada dari kami tahu.
Semoga Kak Ida terketuk hatinya, mau berkomitmen untuk dibantu.
Pulanglah kak, apa pun kondisi kakak, kakak berharga buat kami...