FAQ HIV/AIDS: 6 Pertanyaan yang Masih Sering Dipertanyakan
CNN Indonesia
Rabu, 01 Des 2021 15:52 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ada beragam pertanyaan tentang HIV yang masih sering diajukan. Berikut beberapa FAQ soal HIV yang masih sering dipertanyakan. (iStockphoto/Vasyl Dolmatov)
4. Apakah bisa yang tertular HIV menularkannya pada anak?
Saat ini, banyak ODHIV/ODHA hidup seperti orang-orang pada umumnya bahkan berkeluarga dan memiliki anak dengan negatif HIV.
Sandra menjelaskan saat virus di tubuh ibu dinyatakan tak terdeteksi (viral load undetected), ibu tidak akan menularkan ke anak.
"[ODHIV/ODHA] harus rutin ARV. Kondisi viral load undetected itu enggak permanen, harus ada upaya mempertahankan. Kalau ARV terputus dalam jangka waktu lama, viral load bisa naik apalagi ditambah stres, tidak menjaga stamina tubuh," kata Sandra Suryadana, konsultan medis sekaligus inisiator @doktertanpastigma.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
5. HIV/AIDS terjadi karena apa?
Wiendra Waworuntu dari Kemenkes RI mengungkapkan hingga Juni 2017 dilaporkan ada lebih dari 255 ribu kasus kejadian HIV di Indonesia. Sebanyak 72,4 persen kejadian HIV di Indonesia disebabkan oleh hubungan seksual yang tidak terproteksi.
"Selain seks berisiko, perhatian lebih juga perlu ditujukan pada penyakit menular seksual. Mereka yang terkena penyakit menular seksual, punya risiko 3 - 5 kali lipat lebih besar terkena AIDS," ucapnya.
Selain itu, Virus penyebab HIV menyebar lewat cairan tubuh, seperti darah, air mani, cairan pra-ejakulasi, dan cairan vagina. Selain seks bebas yang tak terproteksi, jarum suntik yang tak steril juga jadi sumber penyebaran HIV/AIDS.
6. Apa saja gejalanya?
Mengenali gejala sejak awal dapat membantu memastikan pengobatan yang tepat untuk mengendalikan perkembangan virus.
HIV menyerang sistem imun tubuh yang berfungsi untuk melawan berbagai infeksi. Jika tak ditangani, HIV akan menggerogoti sel T yang bertugas untuk membantu fungsi sistem imun. Akibatnya, tubuh penderita akan sangat rentan terhadap infeksi.
Infeksi HIV tak selalu menimbulkan gejala yang nampak. Gejala dapat bervariasi tergantung pada tahapan penularan.
Di fase pertama seringkali mirip dengan flu. gejala HIV fase pertama umumnya meliputi: 1. Sakit kepala 2. Demam 3. Kelelahan 4. Pembengkakan kelenjar getah bening 5. Sakit tenggorokan 6. Sariawan 7. Ruam 8. Nyeri otot dan sendi 9. Bisul di mulut 10. Bisul pada alat kelamin 11. Keringat malam 12. Diare
Hari AIDS Sedunia bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat pada bahaya penyakit AIDS karena oleh virus HIV. Pada tahun ini, hari AIDS menyerukan akses kesehatan yang merata untuk orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Laman resmi World Health Organization (WHO), pada 2020 saja, sekitar 37, 7 juta orang di seluruh dunia hidup dengan HIV, sekitar 680 ribu orang meninggal akibat HIV dan 1,5 juta orang dinyatakan terinfeksi HIV di tahun yang sama.
Ada beragam pertanyaan tentang HIV yang masih sering diajukan. Berikut beberapa FAQ soal HIV yang masih sering dipertanyakan:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Apakah obatnya sudah ditemukan?
Sampai saat ini obat yang dipakai oleh ODHA adalah obat antiretroviral (ARV). Obat ARV harus dikonsumsi setiap hari untuk menekan virus di dalam tubuh dan menjaga kekebalan tubuh ODHA.
ARV tak ubahnya 'obat sakti' bagi ODHA. ARV punya dua peran di antaranya menghambat perkembangan dan aktivitas virus.
"Jadi virus dibuat ngumpet atau tidur saja," kata Adyana Esti, tenaga medis Klinik Angsamerah, Jakarta. Virus yang tak aktif dan beredar secara otomatis bakal menurunkan potensi penularan.
Namun, terapi ARV ini harus sesuai dengan petunjuk dokter. Konsumsi sembarangan, kata Esti, menyebabkan timbulnya resistensi terhadap terapi ARV itu sendiri.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat hingga Maret 2021 lalu, jumlah orang dengan HIV mencapai 427.201 orang dan jumlah orang dengan AIDS mencapai 131.417 orang.
3. Bagaimana pencegahan HIV?
HIV/AIDS masuk dalam jajaran penyakit paling 'ditakutkan' di dunia. Pasalnya, penyakit akibat infeksi virus HIV ini merusak sistem kekebalan tubuh.
AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome sendiri merupakan stadium akhir dari infeksi HIV. Pada tahap tersebut, kekebalan tubuh sudah hilang sepenuhnya, sehingga sama sekali tak bisa melawan infeksi.
Berikut beberapa cara yang direkomendasikan Kemenkes RI untuk pencegahan penyakit mematikan HIV/AIDS.
1. Hindari perilaku berisiko, seperti hubungan seksual berisiko atau menggunakan narkoba jarum suntik. 2. Bila sudah melakukan perilaku berisiko tersebut, segera lakukan tes HIV. 3. Bila tes HIV negatif, lakukan perilaku aman untuk mencegah tertular HIV. 4. Bila tes HIV positif, jalani hubungan seksual yang aman, menggunakan kondom, serta menghindari penggunaan jarum suntik bergantian adalah pilihan terbaik. 5. Minum obat ARV sesuai dengan petunjuk dokter agar hidup tetap produktif.
Ada beragam pertanyaan tentang HIV yang masih sering diajukan. Berikut beberapa FAQ soal HIV yang masih sering dipertanyakan. (iSstockphoto/burakkarademir)
4. Apakah bisa yang tertular HIV menularkannya pada anak?
Saat ini, banyak ODHIV/ODHA hidup seperti orang-orang pada umumnya bahkan berkeluarga dan memiliki anak dengan negatif HIV.
Sandra menjelaskan saat virus di tubuh ibu dinyatakan tak terdeteksi (viral load undetected), ibu tidak akan menularkan ke anak.
"[ODHIV/ODHA] harus rutin ARV. Kondisi viral load undetected itu enggak permanen, harus ada upaya mempertahankan. Kalau ARV terputus dalam jangka waktu lama, viral load bisa naik apalagi ditambah stres, tidak menjaga stamina tubuh," kata Sandra Suryadana, konsultan medis sekaligus inisiator @doktertanpastigma.
5. HIV/AIDS terjadi karena apa?
Wiendra Waworuntu dari Kemenkes RI mengungkapkan hingga Juni 2017 dilaporkan ada lebih dari 255 ribu kasus kejadian HIV di Indonesia. Sebanyak 72,4 persen kejadian HIV di Indonesia disebabkan oleh hubungan seksual yang tidak terproteksi.
"Selain seks berisiko, perhatian lebih juga perlu ditujukan pada penyakit menular seksual. Mereka yang terkena penyakit menular seksual, punya risiko 3 - 5 kali lipat lebih besar terkena AIDS," ucapnya.
Selain itu, Virus penyebab HIV menyebar lewat cairan tubuh, seperti darah, air mani, cairan pra-ejakulasi, dan cairan vagina. Selain seks bebas yang tak terproteksi, jarum suntik yang tak steril juga jadi sumber penyebaran HIV/AIDS.
6. Apa saja gejalanya?
Mengenali gejala sejak awal dapat membantu memastikan pengobatan yang tepat untuk mengendalikan perkembangan virus.
HIV menyerang sistem imun tubuh yang berfungsi untuk melawan berbagai infeksi. Jika tak ditangani, HIV akan menggerogoti sel T yang bertugas untuk membantu fungsi sistem imun. Akibatnya, tubuh penderita akan sangat rentan terhadap infeksi.
Infeksi HIV tak selalu menimbulkan gejala yang nampak. Gejala dapat bervariasi tergantung pada tahapan penularan.
Di fase pertama seringkali mirip dengan flu. gejala HIV fase pertama umumnya meliputi: 1. Sakit kepala 2. Demam 3. Kelelahan 4. Pembengkakan kelenjar getah bening 5. Sakit tenggorokan 6. Sariawan 7. Ruam 8. Nyeri otot dan sendi 9. Bisul di mulut 10. Bisul pada alat kelamin 11. Keringat malam 12. Diare