Sharenting: Merekam Tumbuh Kembang, Menggadaikan Privasi Anak?
Anak yang perlahan menjadi 'konten'
Psikolog Arnold Lukito mengatakan, sharenting sebenarnya bukan fenomena yang sepenuhnya salah. Dia memahami bahwa sebagian besar orang tua melakukannya karena rasa sayang.
"Banyak orang tua melakukannya karena sayang, bangga, ingin mendokumentasikan perkembangan anak, atau ingin berbagi kebahagiaan," kata Arnold pada CNNIndonesia.com.
Namun, menurutnya, persoalan muncul ketika tujuan itu mulai bergeser. Misalnya, ketika anak bergeser dari subjek yang sedang bertumbuh menjadi 'konten'. Di sini boundaries atau batasan memang sangat penting diterapkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yang mengkhawatirkan, anak-anak masa kini tumbuh di dunia yang sangat berbeda dengan generasi orang tuanya. Jika dulu masa kecil perlahan memudar bersama waktu, kini internet membuat hampir semua jejak itu tetap hidup.
"Masa kecil yang terlalu sering ditampilkan bisa membuat anak terbiasa melihat dirinya dari sudut pandang penonton. Dalam jangka panjang, ini bisa memengaruhi self-image anak. 'Siapa aku' bisa bergeser menjadi 'Aku terlihat seperti apa di mata orang lain?'," jelas Arnold.
Jejak digital yang tak pernah benar-benar hilang
Mungkin banyak orang tua berpikir, 'Ah, itu cuma foto anak sedang makan' atau 'Ini kan hanya video lucu saat dia menangis'. Masalahnya, internet tidak mengenal kata 'hanya'.
Sekali sebuah foto atau video diunggah ke ruang digital, jejaknya bisa bertahan jauh lebih lama dibanding ingatan manusia. Ia bisa diunduh, disimpan, dibagikan ulang, bahkan muncul kembali bertahun-tahun kemudian, ketika si anak sudah tumbuh menjadi remaja atau orang dewasa.
Di situlah letak persoalannya.
Anak-anak yang lahir hari ini adalah generasi pertama yang sebagian besar perjalanan hidupnya sudah terdokumentasi bahkan sebelum mereka bisa membaca, menulis, atau memahami apa itu media sosial.
Arnold mengatakan, jejak digital yang dibangun orang tua sejak anak lahir bukan sekadar kumpulan foto. Tanpa disadari, orang tua juga sedang membentuk narasi tentang siapa anak itu di mata publik.
"Saat orang tua mem-posting konten anak, mereka bukan cuma membagikan momen hari ini, tetapi juga ikut menulis arsip identitas anak untuk masa depannya," kata Arnold.
Menurutnya, dampak psikologis dari sharenting bisa muncul dalam berbagai bentuk. Yang pertama adalah hilangnya kontrol atas identitas diri.
Ketika beranjak dewasa, seseorang mulai menentukan bagaimana ia ingin dikenal, cerita mana yang ingin ia bagikan, dan bagian hidup mana yang ingin tetap menjadi ranah pribadi. Namun, kesempatan itu bisa berkurang ketika hampir seluruh masa kecilnya sudah lebih dulu dipublikasikan oleh orang tua.
"Kalau sejak kecil identitas digitalnya sudah 'dibuatkan' oleh orang tua, anak bisa merasa tidak punya kendali atas narasi tentang dirinya," ujarnya.
Bagi orang tua, foto anak sedang mandi atau menangis mungkin tampak menggemaskan. Bagi remaja berusia 15 tahun, foto yang sama bisa terasa sangat memalukan.
Arnold mengatakan, banyak unggahan yang awalnya dianggap lucu justru berpotensi memicu rasa malu, marah, bahkan konflik antara anak dan orang tua ketika mereka tumbuh dewasa.
Yang sering kali luput dipikirkan adalah, rasa malu itu tidak berhenti pada hubungan anak dan orang tua. Di lingkungan sekolah, jejak digital juga bisa menjadi bahan ejekan.
Cerita tentang nilai pelajaran, kebiasaan masa kecil, kondisi kesehatan, atau video-video yang dianggap lucu dapat berubah menjadi amunisi untuk melakukan cyberbullying.
"Jejak digital bisa digunakan teman untuk mengejek, menjadi bahan cyberbullying, atau membentuk persepsi tertentu tentang anak," ujar Arnold.
Padahal, pada masa remaja, penerimaan dari teman sebaya merupakan salah satu aspek yang sangat memengaruhi perkembangan harga diri seseorang.
Baca kelanjutannya di sini...
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]

