HARI ANAK NASIONAL

Sharenting: Merekam Tumbuh Kembang, Menggadaikan Privasi Anak?

Tiara Sutari | CNN Indonesia
Kamis, 23 Jul 2026 15:45 WIB
Ilustrasi. Sharenting, jadi salah satu jejak digital yang diciptakan orang tua untuk anak mereka. (istockphoto/Drazen_)
Jakarta, CNN Indonesia --

Suara tawa Bintang terdengar riuh di sebuah video yang diunggah ke Instagram. Di unggahan lain, bocah itu tampak mengayuh sepeda kecilnya, sesekali berpose saat liburan bersama keluarga. Deretan foto dan video itu tersusun rapi, menjadi semacam album digital yang bisa diakses kapan saja.

Namun, album itu tidak tersimpan di rak rumah atau hard disk keluarga. Semua momen tersebut hidup di media sosial.

Bagi Adyanti Putri, ibu dari Bintang, akun Instagram itu memang dibuat untuk menyimpan kenangan.

"Awalnya buat berkenalan dengan teman-teman push bike karena rata-rata mereka punya akun Instagram juga," kata Adyanti sambil tertawa saat berbincang dengan CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

"Tapi semakin ke sini tujuannya untuk menyimpan memori penting, seperti aktivitas dan foto-foto liburan, biar Bintang bisa lihat lagi nanti kalau sudah besar," lanjutnya.

Di era digital, cara orang tua mendokumentasikan tumbuh kembang anak memang berubah drastis. Jika dulu kenangan disimpan dalam album foto yang hanya dibuka saat acara keluarga, kini setiap langkah pertama, ulang tahun, prestasi sekolah, hingga tingkah lucu anak bisa disaksikan ribuan bahkan jutaan orang hanya lewat satu kali unggahan.

Tak sedikit pula orang tua yang membuat akun media sosial khusus atas nama anak, bahkan sejak mereka masih bayi. Fenomena ini kemudian dikenal dengan istilah sharenting, gabungan dari kata sharing dan parenting. Istilah tersebut merujuk pada kebiasaan orang tua membagikan kehidupan anak di media sosial sebagai bagian dari aktivitas mengasuh.

Di balik niat yang tampak sederhana, sharenting ternyata memunculkan pertanyaan yang jauh lebih besar, sejauh mana orang tua berhak membangun identitas digital anak yang bahkan belum mampu berbicara, apalagi memberi persetujuan?

Antara kenangan dan kekhawatiran

Bagi Adyanti, media sosial bukan sekadar tempat berbagi cerita. Dia menganggap akun anaknya sebagai ruang menyimpan memori yang suatu hari bisa dikenang bersama. Meski demikian, rasa khawatir tentu tetap ada.

"Ada kekhawatiran pasti ya. Untungnya sejauh ini masih berjalan baik-baik saja. Akunnya cuma aku yang pegang dan masih pakai data orang tua semua," ujarnya.

Karena itu, dia menetapkan sejumlah batasan. Pengikut akun dipilih satu per satu. Akun yang dianggap mencurigakan langsung diblokir. Dia juga sengaja tidak pernah mengunggah informasi yang bisa mengungkap rutinitas anak, seperti jam sekolah, jadwal les, atau lokasi yang dikunjungi secara langsung.

"Kalau aktivitas yang berulang seperti masuk sekolah jam berapa, latihan renang hari apa atau pulang ke rumah jam berapa, itu enggak pernah di-posting," katanya.

Bahkan, Adyanti sudah memikirkan masa depan akun tersebut. Menurutnya, ketika Bintang sudah cukup dewasa, seluruh kendali akun akan diserahkan kepada sang anak.

"Kalau nanti dia mau lanjut, ya silakan. Tapi kalau maunya ditutup, ya akan aku tutup. Senyamannya anak saja," ujarnya.

Cara Adyanti mungkin mewakili banyak orang tua masa kini. Mereka ingin mengabadikan masa kecil anak, tetapi tetap berusaha menjaga batas-batas privasi.

Berbeda dengan Adyanti, Riska Rahman memilih jalan yang nyaris berlawanan. Selama ini, dia hampir tidak pernah memperlihatkan wajah anaknya di media sosial.

Keputusan itu diambil bukan karena ingin terlihat berbeda, melainkan karena ia merasa risiko yang mengintai jauh lebih besar dibanding manfaatnya.

"Kami sadar kalau share wajah dan data anak di media sosial kemungkinan besar bisa disalahgunakan orang lain. Bisa hal sederhana seperti dipakai jadi foto profil atau stiker, sampai kejahatan siber," kata Riska.

Selain persoalan privasi, dia juga memiliki alasan religius. Menurutnya, tidak semua kebahagiaan harus diumumkan kepada publik.

"Karena kami melihat lebih banyak mudaratnya, lebih baik jadi memori pribadi saja atau dibagikan ke keluarga terdekat," ujarnya.

Kalaupun harus mengunggah foto keluarga, Riska punya aturan sendiri. Wajah anak diambil dari belakang, dari samping, atau ditutupi emoji. Bahkan kepada teman-teman dekat, dia meminta agar wajah anaknya ikut disamarkan jika foto tersebut hendak dipublikasikan. Yang paling menjadi perhatian Riska adalah soal consent.

"Anak kami belum punya pengetahuan dan kemampuan untuk memberikan izin apakah foto atau videonya boleh dibagikan ke publik," katanya.

Simak cerita selengkapnya di halaman berikutnya..

Anal yang Perlahan Jadi 'Konten' dan Dampaknya


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :