Cegah Stunting Tak Cukup dengan Nutrisi, Sanitasi Juga Penting
Stunting masih menjadi persoalan kesehatan yang perlu dicegah sejak dini. Upaya pencegahannya pun tidak cukup hanya dengan memastikan anak mendapat asupan nutrisi yang baik.
Kesehatan ibu selama kehamilan, pola asuh, pemantauan tumbuh kembang, perilaku hidup bersih dan sehat, hingga kondisi lingkungan tempat tinggal turut berperan dalam mencegah stunting.
Pendekatan tersebut menjadi dasar Program Pencegahan Stunting dan Sanitasi berbasis masyarakat yang diluncurkan di Desa Kedungkeris, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.
Program yang berjalan pada 2026-2028 ini memadukan dukungan nutrisi dan kesehatan ibu, edukasi masyarakat, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan kader, serta penguatan fasilitas kesehatan dan sanitasi.
Direktur Yayasan Cita Sehat, Ali Mujianto, mengatakan pendekatan berbasis masyarakat penting agar intervensi pencegahan stunting dapat diberikan secara tepat sasaran. Yayasan Cita Sehat akan bekerja sama dengan bidan desa, konselor laktasi, dan kader Posyandu untuk memberikan pendampingan secara langsung kepada keluarga yang dinilai rentan.
Program tersebut memiliki tiga pilar utama, yakni nutrisi dan kesehatan; edukasi masyarakat dan peningkatan kapasitas; serta peningkatan fasilitas kesehatan dan sanitasi. Sejumlah kegiatan yang dirancang mencakup pendampingan selama kehamilan dan menyusui, dukungan nutrisi, edukasi tumbuh kembang anak, pelatihan bagi kader desa, serta edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Aspek lingkungan juga menjadi perhatian. Program ini mencakup dukungan bertahap untuk penyediaan toilet yang layak, fasilitas kesehatan desa, dan jaringan air minum hingga 2028.
Pada tahap awal 2026, program tersebut diproyeksikan memberikan manfaat langsung kepada 275 orang. Mereka terdiri atas ibu hamil dan menyusui, calon ibu, keluarga rentan, kader Pos Kesehatan Desa (Poskesdes), serta petugas lapangan keluarga berencana.
Dalam peluncuran program di Poskesdes Kedungkeris, sebanyak tujuh paket peralatan pemantauan tumbuh kembang anak juga diserahkan untuk masing-masing Posyandu di Desa Kedungkeris. Dukungan nutrisi diberikan kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan calon ibu.
Director & General Manager Herbalife Indonesia, Oktrianto Wahyu Jatmiko, mengatakan pencegahan stunting membutuhkan intervensi yang dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.
"Pencegahan stunting membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, upaya Herbalife tidak hanya berfokus pada nutrisi, tetapi juga mencakup edukasi perubahan perilaku, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan setempat, serta perbaikan lingkungan dan sanitasi," ujar Oktrianto dalam keterangannya.
Menurut dia, kolaborasi dengan pemerintah daerah, tenaga kesehatan, masyarakat, dan Yayasan Cita Sehat diharapkan dapat membuat program lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Sementara itu, Kepala Desa Kedungkeris Rusdi Martono mengapresiasi dukungan berbagai pihak dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting di wilayah tersebut.
"Bangunan ini bukan sekadar simbol, tetapi juga menjadi fasilitas dan sumber daya tambahan untuk memperkuat semangat serta upaya kita dalam mencegah stunting di Desa Kedungkeris," ujarnya.
Poskesdes Kedungkeris sendiri telah diresmikan pada Agustus 2026. Fasilitas tersebut sebelumnya merupakan Posyandu yang dibangun Herbalife di Sendowo Kidul dan kemudian dialihfungsikan menjadi Poskesdes atas permintaan otoritas kesehatan setempat karena dinilai telah memenuhi standar yang dipersyaratkan.
Melalui program tiga tahun ini, pencegahan stunting di Kedungkeris diarahkan tidak hanya pada pemenuhan kebutuhan nutrisi, tetapi juga pada penguatan pengetahuan masyarakat, layanan kesehatan, serta lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.
Dengan pendekatan tersebut, keluarga diharapkan dapat lebih siap memenuhi kebutuhan kesehatan ibu dan anak sejak masa kehamilan hingga periode awal kehidupan anak.
(tis/tis)