7 Cara Menerapkan Shitsuke, Mindful Parenting Ala Jepang

CNN Indonesia
Jumat, 25 Sep 2026 09:00 WIB
Ilustrasi. Ingin meniru gaya parenting orang tua di Jepang? Anda bisa coba menerapkan Shitsuke agar anak jadi disiplin dan mandiri. (Getty Images/ZeynepKaya)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ada banyak gaya parenting yang bisa ditiru dan diterapkan secara universal. Namun budaya negara tertentu dalam mendidik anak juga menarik untuk diperhatikan, salah satunya Jepang melalui Shitsuke.

Shitsuke itu sendiri merupakan istilah yang dikenal luas di Jepang untuk mendeskripsikan pengasuhan, etiket, dan pembentukan kebiasaan baik.

Seorang penulis bernama Nobuko Uchida, seperti dikutip dari Times of India, mendefinisikan Shitsuke sebagai 'instruksi dan praktik' yang membantu anak-anak beralih dari aturan yang dipaksakan secara eksternal menjadi rutinitas internal dan kompetensi sosial.

Tujuan mindful parenting ini, yaitu mempersiapkan anak terlebih dahulu, kemudian menghilangkan 'benang pengikat' kendali orang dewasa agar anak bisa mengelola diri sendiri.

Lalu bagaimana cara menerapkan gaya parenting ala Jepang ini? Berikut ini beberapa panduannya:

1. Mencontohkan perilaku yang diinginkan

Cara utama anak belajar, yakni melalui pengamatan. Itulah mengapa orang tua secara sadar perlu mencontohkan perilaku yang ingin dilakukan anak.

Misalnya, berperilaku tenang saat mengelola emosi, karena anak-anak akan meniru reaksi orang tua ketika berada di posisi yang sama.

2. Beri aturan jelas dan konsisten

Orang tua Jepang memandang batasan yang jelas merupakan sumber keamanan dan struktur. Pengasuhan dilakukan secara konsisten dengan aturan yang tidak ambigu.

Hal ini membuat anak-anak jadi merasa aman dan mengurangi rasa cemas mereka. Ketimbang membentuk anak jadi pemberontak, pola pengasuhan ini justru mendorong kerja sama orang tua dan anak.

3. Mengajarkan keterampilan sosial ketimbang mengoreksi perilaku

Ketika anak melakukan tindakan yang tak diinginkan, orang tua tak langsung menghukumnya, tetapi mengidentifikasi kekurangan dari keterampilan sosial dari perilaku tersebut.

Misalnya, mengidentifikasi anak yang kurang kesabaran atau tak suka berbagi dengan temannya. Ketimbang menghukum, orang tua melihatnya sebagai peluang anak untuk belajar dari kesalahannya sendiri.

4. Mengajarkan kebersihan

Penulis buku The Japanese Way of Parenting, Lisa Katayama, juga mengungkapkan sejumlah gaya parenting ala Jepang. Salah satunya mengajarkan anak untuk bertanggung jawab atas kotoran atau sampahnya sendiri.

"Mengajari anak-anak bahwa mereka bertanggung jawab atas kesejahteraan lingkungan mereka merupakan pelajaran hidup yang layak untuk diusahakan dalam jangka pendek," ujar Katayama, seperti dilansir The Star.

Menurutnya, tujuannya bukan untuk membuat rumah jadi bersih, tetapi membuat anak memahami peran mereka sebagai peserta aktif dalam membuat sistem rumah tangga jadi berfungsi.

5. Latih anak memikirkan perasaan orang lain

Ilustrasi. Melatih anak memikirkan perasaan orang lain merupakan salah satu gaya parenting ala Jepang. (Istockphoto/Fizkes)

Kesadaran kolektif merupakan salah satu nilai yang dijunjung orang Jepang, yakni mempertimbangkan bagaimana tindakan kita bisa memengaruhi orang-orang di sekitar.

Cara menerapkannya, dengan mengajak anak berdiskusi ketika sedang mengalami konflik dengan temannya. Anda bisa menanyakan, "Menurutmu, bagaimana perasaan temanmu?"

"Seiring waktu, kebiasaan mengambil perspektif ini membangun empati yang tulus, bukan hanya kemampuan untuk meminta maaf, tetapi untuk benar-benar memahami apa yang dialami orang lain," tutur Katayama.

6. Melakukan satu hal dalam satu waktu

Kunci dari melakukan mindful parenting, yakni melakukan satu hal dalam satu waktu. Nyatanya, banyak orang tua yang cenderung mengasuh anaknya dengan terburu-buru.

Tak hanya melelahkan bagi orang tua, cara ini juga bisa mengganggu anak yang masih belajar fokus dan mengatur diri sendiri.

Adapun konsep melakukan satu hal dalam satu waktu dengan penuh perhatian merupakan dasar dari Buddhisme Zen dan sangat terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari di Jepang.

7. 'Menyapa' makanan sebelum makan

Jika Anda sering menonton film Jepang, mungkin sudah tak asing lagi melihat seseorang mengucapkan "Itadakimasu" sebelum makan. Ini merupakan ungkapan rasa terima kasih atas makanan yang sudah disajikan.

Ini sama halnya dengan memanjatkan doa sebelum makan. Namun pelajaran yang bisa dipetik oleh anak, yakni membangun apresiasi terhadap sesuatu yang mudah dianggap remeh, seperti makanan.

(rti)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK