Obesitas pada Anak, Kenali Risiko dan Penyebabnya

CNN Indonesia
Jumat, 09 Okt 2026 09:00 WIB
Ilustrasi. Obesitas juga bisa terjadi pada anak. (iStockphoto/kwanchaichaiudom)
Jakarta, CNN Indonesia --

Anak mulai terlihat lebih berisi, sementara baju dan celananya semakin cepat terasa sempit. Kondisi seperti ini mungkin terlihat biasa dalam masa pertumbuhan. Namun, kenaikan berat badan yang berlebihan sejak masa kanak-kanak dapat membawa sejumlah persoalan kesehatan yang tidak selalu terlihat dari luar.

Mengutip Mayo Clinic, obesitas pada anak dipengaruhi berbagai faktor. Bukan hanya pola makan dan aktivitas fisik, tetapi juga tidur, stres, faktor genetik dan hormon, riwayat keluarga, serta lingkungan tempat anak tumbuh.

Lantas, apa saja risiko yang perlu diwaspadai?

Obesitas pada anak dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2, kondisi yang berkaitan dengan kemampuan tubuh dalam menggunakan gula darah. Risiko tersebut dapat semakin tinggi ketika kelebihan berat badan disertai gaya hidup yang kurang aktif.

Tekanan darah dan kadar kolesterol juga dapat meningkat. Jika berlangsung dalam jangka panjang, tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi dapat berkontribusi terhadap penumpukan plak di pembuluh darah.

Masalah tersebut bukan sesuatu yang baru perlu dipikirkan ketika anak beranjak dewasa. Kebiasaan dan kondisi kesehatan yang terbentuk sejak kecil dapat memengaruhi perjalanan kesehatan anak hingga kemudian hari.

Sendi anak juga bisa ikut terbebani

Kelebihan berat badan juga memberikan tekanan tambahan pada tubuh. Pinggul dan lutut, misalnya, harus menopang beban yang lebih besar. Kondisi ini dapat membuat anak mengalami nyeri hingga cedera pada pinggul, lutut, atau punggung.

Keluhan tersebut bisa membuat anak semakin enggan bergerak. Aktivitas fisik yang seharusnya membantu menjaga kesehatan justru menjadi lebih sulit dilakukan.

Tak hanya itu, gangguan tidur dan pernapasan juga dapat muncul. Mayo Clinic menyebut asma lebih sering ditemukan pada anak dengan berat badan berlebih. Anak dalam kondisi tersebut juga lebih berisiko mengalami obstructive sleep apnea atau apnea tidur obstruktif, yaitu kondisi ketika napas berhenti dan kembali berulang kali selama tidur.

Gangguan tidur seperti ini tentu dapat memengaruhi keseharian anak, termasuk energi dan aktivitas mereka.

Kenapa anak bisa mengalami obesitas?

Obesitas pada anak tidak muncul karena satu penyebab. Ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko anak mengalami kelebihan berat badan.

1. Pola makan

Anak yang sering mengonsumsi makanan tinggi gula tambahan, lemak jenuh, dan natrium lebih berisiko mengalami kenaikan berat badan. Makanan cepat saji, makanan ringan, kue, permen, makanan penutup, hingga minuman manis seperti soda, jus buah, dan minuman olahraga termasuk jenis yang perlu dibatasi.

2. Kurang bergerak dan terlalu banyak screen time

Aktivitas fisik yang rendah juga dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan. Anak yang terlalu banyak menghabiskan waktu di depan televisi, bermain gim, atau menggunakan media sosial cenderung lebih banyak berada dalam kondisi tidak aktif.

Mayo Clinic menyarankan waktu layar untuk hiburan bagi anak usia 2 tahun ke atas dibatasi maksimal dua jam sehari, di luar kebutuhan sekolah. Sementara itu, anak di bawah usia 2 tahun dianjurkan tidak mendapatkan waktu layar.

3. Stres dan kurang tidur

Kondisi emosional anak juga perlu diperhatikan. Stres pribadi maupun stres dalam keluarga dapat memengaruhi tubuh, termasuk hormon seperti kortisol. Kadar kortisol yang tinggi dapat berkaitan dengan meningkatnya rasa lapar dan keinginan mengonsumsi makanan tinggi lemak serta gula.

Selain stres, tidur juga menjadi salah satu faktor yang dapat berperan terhadap obesitas pada anak. Karena itu, ketika berat badan anak meningkat, orang tua sebaiknya tidak hanya memperhatikan pola makan, tetapi juga kondisi emosional, pola tidur, dan rutinitas sehari-hari.

Apa yang bisa dilakukan?

Tidak semua hal yang berkaitan dengan obesitas pada anak dapat dikendalikan orang tua. Riwayat keluarga, perubahan pada gen tertentu, dan kondisi yang berkaitan dengan hormon dapat membuat sebagian anak memiliki risiko lebih tinggi mengalami obesitas.

Lingkungan tempat anak tumbuh juga ikut berpengaruh. Tidak semua keluarga memiliki akses yang sama terhadap makanan segar, supermarket, ruang terbuka, atau tempat yang aman untuk bermain dan beraktivitas.

Pada kondisi tertentu, makanan yang paling mudah diperoleh justru makanan olahan yang dapat disimpan lebih lama. Meski begitu, ada kebiasaan sehari-hari yang tetap bisa dibangun bersama di rumah. Keluarga dapat menerapkan pola makan seimbang dan melakukan aktivitas fisik bersama.

Orang tua bisa mulai dengan menyediakan pilihan makanan yang lebih beragam, mengajak anak aktif bergerak, membatasi waktu layar untuk hiburan, dan memastikan anak mendapatkan waktu tidur yang cukup. Yang tidak kalah penting, perubahan kebiasaan tersebut sebaiknya tidak membuat anak merasa sedang dihukum karena berat badannya.

Obesitas memang dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, tetapi kesehatan anak tidak bisa dinilai hanya dari angka di timbangan. Kondisi emosional, kebiasaan sehari-hari, faktor biologis, dan lingkungan juga perlu diperhatikan.

(anm/tis)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK