Survei 2026: Gen Z Rela Ubah Prioritas demi Bisa Traveling
Traveling kini tak lagi sekadar aktivitas untuk mengisi waktu libur. Bagi generasi Z (Gen Z), bepergian semakin menjadi bagian dari gaya hidup yang diprioritaskan, bahkan masuk dalam pertimbangan saat menentukan pengeluaran hingga pilihan pekerjaan.
Survei American Express Travel 2026 menemukan, sebanyak 74 persen responden dari kalangan milenial dan Gen Z menganggap traveling sebagai pengeluaran yang tidak bisa ditawar (non-negotiable). Angka ini menunjukkan bahwa perjalanan memiliki peran penting dalam cara generasi muda mengatur waktu dan keuangan.
Survei yang sama juga menemukan 40 persen responden global berencana mengeluarkan lebih banyak uang untuk traveling pada 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. Prioritas tersebut bahkan memengaruhi keputusan karier. Sebanyak 64 persen responden milenial dan Gen Z mengaku bersedia menerima pekerjaan dengan tunjangan lebih sedikit jika pekerjaan itu menawarkan fleksibilitas lebih besar untuk bepergian.
Meski demikian, keinginan untuk traveling bukan berarti generasi muda mengabaikan anggaran. Mereka tetap mempertimbangkan harga, pengalaman yang ditawarkan, kenyamanan, hingga fleksibilitas dalam menyusun rencana perjalanan.
Traveling untuk mencari pengalaman
Bagi Gen Z, memilih destinasi perjalanan tidak selalu berawal dari keinginan mengunjungi tempat tertentu. Pengalaman yang ingin dirasakan selama perjalanan juga menjadi pertimbangan penting.
Sebagian orang bepergian untuk menghabiskan waktu bersama teman, menikmati budaya lokal, menghadiri konser, mencoba kuliner baru, atau sekadar keluar dari rutinitas sehari-hari.
Perkembangan platform digital turut memengaruhi cara generasi muda merencanakan perjalanan. Konten destinasi, ulasan wisatawan, rekomendasi kreator, hingga media sosial membantu mereka membayangkan pengalaman yang bisa didapatkan sebelum memutuskan untuk memesan tiket dan akomodasi.
Ketertarikan terhadap suatu tempat atau acara bahkan dapat muncul jauh sebelum seseorang mulai membandingkan harga penerbangan dan penginapan. Salah satu contohnya adalah concert tourism, yakni perjalanan yang dilakukan untuk menghadiri konser atau acara musik. Ketertarikan terhadap seorang musisi dapat mendorong penggemar mengunjungi kota atau negara lain sekaligus menjelajahi destinasi di sekitarnya.
Tren ini memperlihatkan bahwa pengalaman menjadi salah satu alasan penting generasi muda melakukan perjalanan, bukan semata-mata tujuan wisata itu sendiri.
Traveling jadi cara melepas stres
Selain mencari pengalaman baru, traveling juga dikaitkan dengan kebutuhan untuk beristirahat dan memulihkan diri dari tekanan sehari-hari. McKinsey menemukan bahwa 40 persen konsumen Gen Z di Amerika Serikat merasa hampir selalu mengalami stres. Angka ini lebih tinggi dibandingkan konsumen secara keseluruhan, yakni 23 persen.
Sementara itu, studi Klook bersama Global Wellness Institute (GWI) terhadap lebih dari 7.000 responden di 14 pasar menemukan bahwa 64 persen wisatawan muda memandang perjalanan sebagai reset button atau kesempatan untuk menjauh dari rutinitas dan membangun kembali rasa percaya diri. Temuan tersebut menggambarkan bagaimana traveling dapat memiliki nilai emosional bagi generasi muda.
Perjalanan tidak hanya menjadi kesempatan untuk melihat tempat baru, tetapi juga ruang untuk beristirahat sejenak dari tuntutan pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.
Laporan TGM Europe Travel Insights 2026 juga menemukan bahwa 50 persen wisatawan berusia 18-24 tahun memilih relaksasi atau liburan ke pantai sebagai gambaran utama perjalanan musim panas mereka. Data tersebut berasal dari survei terhadap 255 responden dalam kelompok usia tersebut.
Preferensi ini tidak berarti Gen Z kehilangan minat terhadap petualangan. Relaksasi bisa hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari menikmati suasana pantai, mencoba kuliner lokal, mengikuti aktivitas luar ruang, hingga menghabiskan waktu bersama teman.
Dengan demikian, perjalanan yang menyenangkan bagi generasi muda tidak selalu harus dipenuhi agenda wisata. Kesempatan untuk mengubah suasana, beristirahat, dan kembali menjalani rutinitas dengan perasaan lebih segar juga menjadi bagian dari pengalaman yang dicari.
Harga dan fleksibilitas tetap jadi pertimbangan
Meski traveling semakin diprioritaskan, Gen Z tetap cermat dalam mengatur anggaran. Mereka tidak selalu mencari perjalanan dengan biaya paling murah, tetapi mempertimbangkan apakah pengeluaran yang dilakukan sepadan dengan pengalaman yang diperoleh.
Menurut TGM Europe Travel Insights 2026, sebanyak 38 persen wisatawan berusia 18-24 tahun memperkirakan akan menghabiskan 500-1.000 euro per orang untuk perjalanan utama mereka pada musim panas. Besarnya anggaran perjalanan dapat berbeda-beda, bergantung pada destinasi, durasi, akomodasi, transportasi, serta aktivitas yang ingin dilakukan.
Sebagian wisatawan mungkin memilih penginapan yang lebih terjangkau agar memiliki anggaran lebih besar untuk mencoba berbagai aktivitas. Ada pula yang memilih perjalanan lebih singkat dengan pengalaman yang dianggap lebih bernilai.
Karena itu, pertimbangan harga tidak selalu berarti memilih opsi termurah. Gen Z juga perlu menilai manfaat yang diperoleh, kemudahan perjalanan, serta pengeluaran tambahan yang mungkin muncul.
Fleksibilitas turut menjadi faktor penting. Kemudahan membandingkan pilihan, membaca ulasan, dan menyesuaikan rencana berdasarkan harga maupun ketersediaan membantu wisatawan mengambil keputusan.
Bagi generasi muda, fleksibilitas untuk bepergian juga dapat memengaruhi pilihan pekerjaan. Survei American Express Travel 2026 mencatat 64 persen responden milenial dan Gen Z bersedia menerima pekerjaan dengan tunjangan lebih sedikit jika pekerjaan itu memberikan keleluasaan lebih besar untuk traveling.
Temuan ini memperlihatkan bahwa perjalanan bukan hanya berkaitan dengan cara menghabiskan uang, tetapi juga dengan bagaimana generasi muda ingin mengatur waktu dan menjalani kehidupan.
Selain menentukan destinasi dan anggaran, proses pemesanan juga menjadi bagian penting dalam pengalaman traveling. Kemudahan pembayaran dapat memengaruhi keputusan akhir setelah calon wisatawan membandingkan rute, jadwal, dan harga tiket.
Di Indonesia, kebiasaan menggunakan pembayaran digital terus berkembang. Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 6,11 miliar transaksi pada Agustus 2026, tumbuh 40,36 persen secara tahunan.
Pada periode yang sama, transaksi melalui mobile banking tumbuh 47,08 persen, sedangkan transaksi QRIS meningkat 67,22 persen secara tahunan. Perkembangan tersebut turut membentuk ekspektasi konsumen saat memesan perjalanan secara daring. Wisatawan semakin terbiasa dengan transaksi digital yang praktis, termasuk ketika membayar tiket pesawat.
"Setiap pasar memiliki kebiasaan pembayaran yang berbeda, meskipun tujuan perjalanan yang dicari bisa saja sama," ujar Chief of Partnership Airpaz Wesley Wijaya.
Menurut Wesley, metode pembayaran yang familier dapat mempermudah konsumen menyelesaikan pemesanan perjalanan.
"Menyediakan metode pembayaran yang familier membantu membuat langkah akhir saat booking terasa lebih simpel, karena sudah terbiasa dilakukan pada transaksi sehari-hari," katanya.
Airpaz, platform pemesanan perjalanan yang berdiri sejak 2011, menyediakan lebih dari 100 metode pembayaran, 61 mata uang, dan 38 bahasa. Di Indonesia, pilihan pembayarannya mencakup QRIS serta layanan perbankan seperti BCA, Mandiri, BNI, BRI, dan CIMB Niaga. Platform tersebut juga menawarkan akses ke lebih dari 450 maskapai dan 600 ribu rute penerbangan di seluruh dunia, termasuk rute domestik dan internasional.
Meningkatnya minat Gen Z terhadap traveling menunjukkan bahwa perjalanan semakin erat kaitannya dengan cara generasi muda mengatur keuangan, mencari pengalaman, dan menjaga keseimbangan hidup. Mereka ingin bepergian, tetapi tetap menginginkan pilihan yang sesuai dengan anggaran dan kebutuhan.
Kemudahan dalam merencanakan hingga menyelesaikan pemesanan pun menjadi bagian dari pengalaman perjalanan yang dipertimbangkan. Bagi generasi ini, perjalanan bukan hanya tentang pergi ke suatu tempat. Traveling juga menjadi kesempatan untuk menikmati pengalaman baru, menjauh sejenak dari rutinitas, dan memberikan ruang bagi diri sendiri di tengah kesibukan sehari-hari.
(tis/tis)