Veda Ega Makan Walang Goreng, Seberapa Bergizi Belalang?
Pembalap muda Indonesia Veda Ega Pratama punya cara tersendiri untuk merayakan keberhasilannya finis di posisi kedua Moto3 Malaysia. Alih-alih menyantap makanan mewah, ia justru menikmati walang atau belalang goreng, camilan khas Gunungkidul, daerah asalnya.
Momen itu terjadi setelah balapan, saat para pembalap berada di area parc ferme. Veda terlihat membawa kotak transparan berisi walang goreng. Ia bahkan sempat menunjukkan makanan tersebut kepada Maximo Quiles, sang pemenang balapan, yang tampak terkejut melihat isi kotak itu.
Belalang goreng mungkin terdengar tidak biasa bagi sebagian orang. Padahal, serangga ini bukan sekadar camilan khas daerah. Sejumlah penelitian menemukan bahwa belalang juga berpotensi menjadi sumber protein. Lantas, apa saja kandungan gizinya?
Kandungan protein tinggi
Belalang bukan sekadar camilan unik. Serangga ini juga berpotensi menjadi sumber protein alternatif.
Melansir jurnal Annals of Animal Science, kandungan protein kasar (crude protein) pada belalang berkisar 16,6 hingga 77,3 persen berdasarkan bobot kering.
Rentang yang cukup lebar ini dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari spesies, habitat, makanan, tahap pertumbuhan, hingga cara pengolahannya.
Perlu diingat, angka tersebut dihitung berdasarkan bobot kering, sehingga tidak bisa langsung dibandingkan dengan kandungan protein daging segar yang masih mengandung banyak air. Kandungan protein belalang juga berbeda-beda, bergantung pada jenisnya.
Protein sendiri dibutuhkan tubuh untuk membangun dan memperbaiki jaringan, serta membantu pembentukan enzim dan hormon. Protein dalam belalang juga tersusun atas berbagai asam amino, termasuk asam amino esensial seperti lisin, leusin, treonin, metionin, triptofan, dan valin.
Asam amino esensial merupakan jenis asam amino yang tidak dapat diproduksi tubuh dalam jumlah cukup. Karena itu, kebutuhan tersebut perlu dipenuhi melalui makanan.
Kandungan gizi belalang tidak berhenti pada protein. Masih dengan penelitian yang sama, ditemukan adanya lemak, serat kasar, kitin, dan mineral.
Kitin merupakan komponen penyusun rangka luar atau eksoskeleton serangga. Sementara itu, lemak dapat menjadi sumber energi sekaligus membantu penyerapan vitamin yang larut dalam lemak.
Belalang juga mengandung karotenoid, yaitu kelompok pigmen alami yang memiliki aktivitas antioksidan. Beberapa jenis karotenoid bahkan dapat menjadi prekursor vitamin A.
Meski begitu, temuan kandungan karotenoid tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa mengonsumsi belalang memberikan manfaat kesehatan tertentu pada manusia.
Tetap perhatikan keamanan saat mengonsumsi belalang
Meski berpotensi menjadi sumber protein, belalang tetap perlu dikonsumsi dengan memperhatikan keamanan pangan.
Salah satu hal yang perlu diwaspadai adalah risiko alergi. Protein pada serangga dapat memicu reaksi alergi pada sebagian orang. Mereka yang memiliki alergi terhadap udang, kepiting, atau tungau debu juga perlu berhati-hati karena ada kemungkinan reaktivitas silang dengan protein serangga.
Selain itu, belalang yang ditangkap langsung dari alam berisiko terpapar pestisida, logam berat, atau mikroorganisme. Risikonya bergantung pada habitat dan cara penanganannya.
Karena itu, penting untuk memastikan belalang berasal dari sumber yang aman, sudah dibersihkan, dan dimasak dengan benar sebelum dikonsumsi.
Walang goreng yang disantap Veda Ega memang merupakan camilan khas daerah asalnya. Belalang juga memiliki potensi sebagai sumber protein dan mengandung sejumlah zat gizi lain. Meski demikian, kandungan gizinya bisa berbeda-beda menurut spesies dan berubah selama proses pengolahan.
Jadi, selain memperhatikan nilai gizinya, cara memperoleh dan mengolah belalang juga tidak boleh diabaikan.
(anm/asr)