Dalam novel bergenre thriller ini, Akmal mengajak pembaca menyelami kisah pembunuhan yang banyak berlatarkan luar negeri.
Buku ini masih mengisahkan pengalaman reporter majalah Dimensi, Wikan Larasati yang ditugaskan liputan lanjutan terkait tewasnya sang diva Melanie Capricia (MC) di kawasan dekat Masjid Yavuz Sultan Selim, Mannheim. Adelia Sukmono, manajer MC, juga ditemukan meninggal di daerah wisata Lindenhof, Zürich, pada hari yang sama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak seperti novel Indonesia lain yang “malu-malu” menyuguhkan drama pembunuhan, Akmal terbilang berani. Ia menyusun alur cerita dengan karakter-karakter yang kuat dan tak ragu berbuat keji demi memuluskan kepentingan. Persekongkolan tersembunyi, pistol, semua tersaji bagai film laga Hollywood di novel ini.
Dihubungi CNN Indonesia, Kamis (4/9) Akmal bercerita novelnya memang banyak terinspirasi kondisi nyata di Indonesia, baik itu di bidang jurnalistik, politik, maupun hiburan. Namun, Akmal menegaskan, semua cerita dan tokoh yang ada di buku hanya imajinasinya.
Akmal butuh waktu enam bulan untuk merampungkan novel keduanya. “Waktu menulis hanya dua minggu. Karena ini novel thriller, saya perlu waktu cukup lama untuk riset supaya jalan ceritanya tidak mudah ditebak pembaca,” ujarnya pada CNN Indonesia.
Diakui Akmal, pengalamannya sebagai wartawan cukup memudahkan saat menggarap novel yang berlatarkan Jerman, Swiss, dan Turki ini. Alumnus Sosiologi Universitas Indonesia ini mengaku sudah pernah mengunjungi tempat-tempat itu, sehingga paham situasinya.
Setelah Rahasia Imperia diluncurkan, Akmal langsung menggarap buku ketiga. Saat ini, ia sudah mulai mengerjakan Coda Imperia. “Target saya tahun 2015 selesai. Coda Imperia akan menjadi akhir dari trilogi ini,” katanya.
Minim novel thriller
Akmal yang pernah bekerja sebagai wartawan Gatra dan Tempo, bertekad membuat novel thriller berciri khas Indonesia. Sebab, menurutnya saat ini novel thriller bikinan penulis Indonesia masih jarang muncul.
“Sekarang lebih banyak novel yang mengangkat kisah from zero to hero. Misalnya cerita tentang anak tidak mampu yang kemudian bisa mengenyam pendidikan di luar negeri,” tuturnya menjabarkan. Karena alasan itulah, Akmal yang sebelumnya menulis Sang Pencerah dan Nagabonar Jadi Dua ini meniatkan diri membuat novel thriller.