FESTIVAL FILM DOKUMENTER

Film Forward, Mendekatkan Suguhan Amerika ke Indonesia

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Selasa, 09/09/2014 09:32 WIB
Industri perfilman Indonesia yang mulai bergairah, mendapat perhatian asing. Pekan ini, Indonesia kedatangan beberapa sineas dari Amerika untuk memutar filmnya secara gratis di Jakarta, Yogyakarta, Denpasar, Banjarmasin, dan Palangkaraya. Doug Blush dan Srdan Golubovic, sineas dari Amerika.
Jakarta, CNN Indonesia -- Industri perfilman Indonesia yang mulai bergairah, mendapat perhatian asing. Pekan ini, Indonesia kedatangan beberapa sineas dari Amerika untuk memutar filmnya secara gratis di Jakarta, Yogyakarta, Denpasar, Banjarmasin, dan Palangkaraya. Mereka adalah Srdan Golubovic dan Doug Blush, sutradara kenamaan Amerika.

Terdapat empat film yang akan diputar selama 8 sampai 12 September 2014, yakni Circles (disutradarai Srdan Golubovic), If You Build It (disutradarai Patrick Creadon dan diedit Doug Blush), The Rocket (disutradarai Kim Mordaunt), dan Twenty Feet from Stardom (disutradarai Morgan Neville dan diedit Doug Blush).

Dua di antaranya, Circles dan The Rocket merupakan film narasi. Sedang If You Build It dan Twenty Feet from Stardom merupakan film dokumenter. Yang disebut terakhir, sukses membawa pulang Piala Oscar tahun ini.


Bukan hanya menonton, para peminat film juga bisa berdiskusi langsung dengan Golubovic maupun Blush di setiap sesi. Keduanya terbuka menerima pertanyaan soal film yang diputar maupun serba-serbi perfilman. Apalagi, empat film itu dipilih karena sarat akan nilai moral, sosial, dan pesan kemanusiaan yang universal.

Golubovic dan Blush, mengaku sangat bersemangat menanti tiap diskusi. Apalagi, ini kali pertama mereka ke Indonesia.

“Saya suka berbincang tentang nilai-nilai film. Saya suka bagaimana orang-orang di dunia berpikir tentang seni, kekuatan, nilai moral, dan aspek sosial," kata Golubovic dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Senin (8/9).

"Dari setiap diskusi, saya juga belajar. Pernah saya berdiskusi di Meksiko, itu sangat inspiratif dan menyentuh,” ucapnya melanjutkan.

Pemutaran film dan pembangunan dialog itu terselenggara atas kerja sama Sundance Institute dan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia. Ini pertama kalinya acara bertajuk Film Forward: Advancing Cultural Dialogue itu dilakukan di Indonesia. Sebelumnya, acara serupa pernah dilakukan di enam negara, dengan pilihan film yang berbeda-beda. Setidaknya lebih dari 10 ribu orang menonton dan ikut berdiskusi.

Dikatakan Meredith Lavitt, Direktur Film Forward, Indonesia dipilih karena banyak kesamaan dengan kisah-kisah dalam film yang akan diputar. “Ada kesamaan tentang budaya, batas-batas, dan lain-lain. Itu yang menghubungkan film-film ini dengan komunitas lokal di Indonesia,” ujar Meredith menerangkan.

Dengan begitu, keempat film punya kemampuan membangun dialog yang hidup dan menarik antara pembuatnya dan masyarakat di Indonesia. Pihaknya memilih kota-kota Indonesia juga tak sembarangan. Tidak hanya mencakup semangat perfilman yang mulai bergejolak di Jakarta, Yogyakarta, dan Bali, Sundance Institute dan Kedutaan Besar AS juga merangkul masyarakat kecil di Banjarmasin dan Palangkaraya.

“Justru karena mereka terpencil, itu jadi alasan. Melalui film, kedutaan ingin menjangkau mereka yang jarang mendapat kesempatan. Ini tentang membawa sesuatu yang universal ke lokal. Film-film ini tentang konflik, memaafkan, dan kepahlawanan. Bagus untuk diperbincangkan,” kata Holly Zardus, Assistant Cultural Affairs Officer Kedubes AS.

Lavitt sepakat soal itu. Menurutnya, tujuan Film Forward bukan hanya menyasar mereka yang punya akses mudah ke dunia perfilman seperti di kota-kota besar. “Tujuan kami juga memberi kesempatan pada semua orang. Apalagi mereka yang selama ini kurang punya akses ke sana,” tuturnya menambahkan.
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK