Tren Biro Jodoh

Keliling Dunia Memburu Cinta

Karina Armandani, CNN Indonesia | Kamis, 09/10/2014 16:22 WIB
Keliling Dunia Memburu Cinta Ilustrasi (Thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia -- ‘Krisis’ menemukan pasangan hidup tidak hanya terjadi di Indonesia. Negara-negara maju seperti Eropa, Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan juga mengalami fenomena itu.

Jepang bahkan punya sebutan khusus untuk para lajang. Sosiolog Yamada Masahiro menyebut lajang yang tetap tinggal di rumah orang tua mereka, sebagai parasaito shinguru. Artinya: parasit, makhluk yang cuma bisa menumpang dan merepotkan orang.

Di tengah ‘krisis’ itu, Jepang punya beberapa upaya mencari cinta. Negeri Sakura itu menawarkan kafe-kafe atau restoran pengusir kesepian. Kini, tak perlu minder jika harus makan sendirian.


Moomin Café, salah satu tempat makan di Jepang, menyediakan pasangan agar pengunjung tak merasa sendiri. Mengutip CNN, mereka yang datang sendiri akan langsung mendapat teman baru.

Bentuknya bukan manusia, melainkan boneka binatang lucu. Boneka itu akan menemani selama pengunjung berada di kafe. Ia bisa diajak bercanda, menemani baca buku, atau minum dan makan.

Kafe-kafe hewan juga makin populer di Jepang. Sembari menyesap kopi atau teh dan menikmati camilan atau makan siang, pengunjung bisa berinteraksi dengan hewan, sehingga tak kesepian.

Sejauh ini, sudah ada kafe kucing, burung hantu, reptil, bahkan hewan pengerat seperti tikus.

Tawaran kafe Soineya lain lagi. Seperti diberitakan Japan Today, layanan ekstremnya adalah tidur siang bersama wanita cantik. Pria yang datang bisa merasakan pelukan hangat dengan merogoh kocek sekitar 3 sampai 50 ribu yen. Jumlah itu setara dengan sekitar Rp 340 ribu sampai Rp 5 juta.

Tarifnya bervariasi, tergantung lama waktu menemani dan jenis interaksi. Memilih wanita, bertatapan mata dengan wanita, bahkan tidur di pangkuan wanita, tentunya punya tarif khusus.

Lain Jepang, lain lagi Korea Selatan. Beberapa kafe dan restoran di Negeri Ginseng itu didesain sedemikian rupa sehingga pengunjung tak merasa kesepian. Restoran Ichimen misalnya, menyediakan sekat tersendiri sehingga tiap pengunjung merasa seperti punya bilik khusus.

Saat menyantap makanan, pengunjung tak perlu menengok ke kanan dan ke kiri, sebab tertutup bilik seperti telepon umum. Untuk mencuci tangan pun, disediakan di dalam bilik.

Eropa dan Amerika punya cara berbeda untuk mengatasi ‘krisis’ menemukan pasangan. Mereka bisa segera percaya pada situs-situs perjodohan online. Itu bahkan sudah lama populer di sana.

Situs seperti Muddy Matches, Match Million, atau Match.com sudah banyak digunakan di Eropa, juga Amerika. Sebagai bukti, ada beberapa film yang kisahnya didapat dari cerita biro jodoh online.

Mencari pasangan lewat biro jodoh online, sepertinya sudah menjadi budaya bagi mereka. Masyarakat Eropa dan Amerika suka obrolan menyenangkan dari dunia maya ke dunia nyata.

Itulah yang kemudian disontek Indonesia. Jasa biro jodoh mulai bermunculan. Heart Inc, Perfect Match Jakarta, OK Cupid, sampai aplikasi Tinder menawarkan jasa mencarikan pasangan.

Tinder sendiri baru belakangan populer di Tanah Air. Mengutip Telegraph, itu mempertemukan orang-orang dari berbagai tempat untuk berkenalan. Berbeda dengan Facebook, Twitter, atau Path, Tinder membuat penggunanya bisa saling berkirim pesan, asal saling menyukai profil masing-masing.