Film Soal Hukum

Denyut Keadilan di Tubuh Perfilman

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Jumat, 10/10/2014 14:20 WIB
Denyut Keadilan di Tubuh Perfilman Julia Roberts, pemeran Erin Brockovitch (CNN Indonesia/ Reuters Photo/ Mario Anzuoni)
Jakarta, CNN Indonesia -- Banyak kasus hukum di dunia nyata yang mencuri perhatian sineas. Ada yang tak tuntas, ada pula yang menjadi fenomenal dan akhirnya menemukan jalan keluar. Sebagian kisah itu diangkat ke layar lebar. Sebagian lagi, menjadi inspirasi sineas untuk menggarap film dengan cerita yang mirip.

Meski terkesan berat dan serius, peminat film-film bertema hukum ternyata tak sedikit. Terbukti, Michael Clayton, Erin Brockovich, atau The Pelican Brief mendapat sambutan meriah. Sekali beredar di pasar film, keuntungan yang diraih cukup besar. Berikut film soal hukum yang fenomenal.

Michael Clayton (2007)

Kehidupan Michael Clayton (George Clooney) benar-benar terdesak. Ia terlilit utang, rumah tangganya hancur berantakan. Di tengah kebingungan itu, Clayton yang berperan sebagai pemberes segala masalah diminta firma hukumnya mendampingi UNorth, sebuah perusahaan besar dunia.

Di satu sisi, Clayton berhadapan dengan Arthur Edens (Tom Wilkinson), kawan dekatnya yang percaya UNorth telah mengakibatkan ratusan nyawa melayang. Di sisi lain, ada pula Karen (Tilda Swinton), wanita ambisius yang berani melakukan apapun, termasuk menyelamatkan UNorth.

Situasi Clayton makin terdesak saat Arthur terbunuh, dan ia diiming-iming uang untuk membebaskan UNorth. Itu bisa digunakan menutup utangnya. Namun, insting keadilan Clayton masih berjalan.

Aksi Clayton dalam film garapan sutradara Tony Gilroy itupun menjadi rujukan wajib bagi pelaku, pengamat, maupun mahasiswa hukum. Sebab, apa yang menimpa Clayton sangat lazim terjadi di dunia hukum. Sangat mudah menyogok firma hukum, demi memenangkan sebuah kasus.

Film itu mengesankan kritikus. Skenarionya disebut tajam dan mengena. Bahkan ada yang menamainya film terbaik tahun itu. Michael Clayton dibuat dengan bujet US$ 25 juta atau sekitar Rp 304 miliar dan untung hampir US$ 93 juta atau sekitar Rp 1,1 triliun.

Legally Blonde (2001)

Gadis pirang identik dengan otak dangkal. Paradigma itu membuat Elle Woods (Reese Witherspoon) bersikeras masuk Universitas Harvard, bahkan belajar Hukum. Itu sekolah hukum terbaik di dunia. Semua demi mendapatkan cinta pria pujaannya, Warner Huntington III (Matthew Davis).

Namun ternyata, Woods jadi keasyikan berkutat dengan hukum. Dari perjuangan menjadi mahasiswa hukum di film pertama, sampai keuletannya memperjuangkan hak-hak hewan di film sekuelnya. Ia berhasil membuktikan, menjadi pelaku hukum di Amerika juga bisa cantik dan gaya.

Film garapan sutradara Robert Luketic itu memang tidak semata berkisah tentang persoalan hukum. Ia lebih mengedepankan kehidupan wanita lajang Amerika yang tak lepas dari fesyen dan asmara. Namun, cerita itu menjadi lebih menarik karena dibumbui dengan lebih serius, yakni soal hukum.

Erin Brockovich (2000)

Perjuangan Erin Brockovich melawan perusahaan energi Pacific Gas and Electric Company (PG&E) menarik perhatian sutradara Steven Soderbergh. Kisah Brockovich pun difilmkan, dengan Julia Roberts sebagai pemeran utama. Brockovich berhadapan dengan PG&E karena kebetulan.

Ia baru di dunia hukum. Brockovich bergabung ke sebuah firma karena rasa iba dari pengacaranya, Ed Masry (Albert Finney). Baru berkiprah, ia sudah harus menghadapi kasus real estate. PG&E membeli rumah dari seorang pesakitan, Donna Jensen. Brockovich mendapat fakta, ternyata Jensen sakit keras karena kandungan bahan kimia berbahaya di bawah rumahnya, dan itu akibat PG&E.

Film itu terbilang sukses. Dibuat dengan bujet US$ 51 juta atau sekitar Rp 621 miliar, selama tayang secara global Erin Brockovich mendapat keuntungan sekitar US$ 257 juta, setara dengan Rp 3 triliun. Film itu juga mendapat pujian dari para kritikus. Ia bahkan sempat merajai box office.

Beberapa penghargaan pernah diterima film itu. Lewat The Pelican Brief, Julia Roberts didapuk sebagai Aktris Terbaik di Academy Awards, Golden Globe, Screen Actor’s Guil Award, dan BAFTA. The Pelican Brief juga dinominasikan sebagai Film Terbaik dan Sutradara Terbaik.

Time to Kill (1996)

Bukan hanya kali ini novel John Grisham diangkat ke layar lebar. Novel berjudul sama itu pertama diterbitkan tahun 1989, dan diadaptasi ke dalam film oleh sutradara Joel Schumacher. Film itu mengisahkan pemerkosaan seorang gadis muda, yang akhirnya berujung pada kasus pembunuhan.

Ayah sang gadis (Samuel L Jackson) yang khawatir pemerkosa putrinya bakal melenggang bebas, membunuh mereka di pengadilan. Ganti ia yang menjadi tersangka. Ia diadili karena membunuh, dan terancam hukuman mati. Pengacara Jake Brigance (Matthew McConaughey) membelanya.

Masalahnya, pembunuh itu berkulit hitam, sedang pengacaraya berkulit putih. Ancaman demi ancaman pun diterima Brigance. Saat tiba waktunya pembelaan, Brigance menceritakan dengan runut pemerkosaan sampai pembunuhan itu. Ditambah kata, “Bayangkan jika dia kulit putih.”

Kata itu seakan menyadarkan dan menjadi kunci film, bahwa kadang hukum tidak adil. Hukum juga masih mengenal kasta maupun warna kulit. Film yang dibuat dengan bujet US$ 40 juta atau Rp 487 miliar itu pun sukses besar. Pendapatan kotornya mencapai US$ 152 juta atau Rp 1,85 triliun.

Film itu juga disukseskan penampilan Sandra Bullock, Kevin Spacey, Oliver Platt, Ashley Judd, Kiefer Sutherland, Donald Sutherland, dan Patrick McGoohan.

The Pelican Brief (1993)

Lagi-lagi novel John Grisham menginspirasi sineas. Kali ini mengisahkan ketidaksengajaan mahasiswi hukum, Darby Shaw (Julia Roberts) menyusun teori soal pembunuhan hakim oleh profesional. Teori itu ia bagikan pada dosen sekaligus kekasihnya, yang meneruskan pada seorang anggota FBI.

Nahas, keduanya juga terbunuh. Shaw beruntung karena selalu lolos. Ia akhirnya menghubungi reporter politik, Gray Grantham (Denzel Washington). Keduanya berjuang menguak pembunuhan, yang ternyata berhubungan dengan seorang taipan minyak bernama Victor Mattiece.

Mattiece ingin mengebor di tanah rawa Louisiana. Sayangnya, itu merupakan habitat utama spesies pelican yang terancam punah. Pengadilan atas Mattiece pu bergulir, sampai ke Mahkamah Agung. Ia membunuh dua hakim yang kemungkinan besar menjadi penghalangnya untuk memenangi kasus.

The Pelican Brief amat menarik, dan meraup keuntungan cukup besar. Dari bujet produksi US$ 45 juta atau sekitar Rp 548 miliar, pendapatan kotornya sebesar US$ 195 juta atau sekitar Rp 2,3 triliun.