Orisinalitas Film Perang

Fury, Kisah 'Monster' yang Manusiawi

Yohannie Linggasari, CNN Indonesia | Selasa, 21/10/2014 17:50 WIB
Fury, Kisah 'Monster' yang Manusiawi Brad Pitt, pemeran Wardaddy,
Jakarta, CNN Indonesia -- Perang bisa mengubah manusia menjadi monster. Kenyataan ini kerap kali diusung sebagai tema besar film-film perang. Namun tidak demikian halnya dengan Fury. Dalam film perang arahan sutradara David Ayer ini, “monster-monster” tetap dihadirkan, namun dengan sentuhan yang sangat manusiawi.

Fury mengisahkan penggalan peristiwa jelang berakhirnya Perang Dunia II. Berlatar April 1945, saat pasukan Amerika Serikat (AS) melawan pasukan Schutzstaffel (SS) Jerman di Jerman. Fury sendiri merupakan nama tank jenis Sherman yang digunakan pasukan Amerika untuk menjalankan misi mereka.

Brad Pitt berperan sebagai Don “Wardaddy” Collier, kepala kru tank Amerika yang terdiri dari Boyd “Bible” Swan (Shia LaBeouf), Trini “Gordo” Garcia (Michael Pena), serta Grady “Coon-Ass” Travis (Jon Bernthal). Belakangan, Norman “Machine” Ellison (Logan Lerman) pun bergabung.


Sosok “monster” yang manusiawi hadir lewat karakter Machine, si  pendatang baru yang bertugas mengemudikan tank. Di antara yang lain, ia paling "suci" hatinya, sangat religius, penuh belas kasihan dan agak penakut. Hidupnya yang semula lurus-lurus saja sebagai juru ketik lantas berubah gara-gara perang.
 
Batinnya bergejolak ketika ia terpaksa membunuh tentara SS. Sungguh pilihan yang tak mudah baginya: membunuh atau dibunuh. Keraguan Norman sempat membuat Wardaddy murka. Sang kepala kru tank pun memaksa Norman “memberi pelajaran” bagi prajurit SS demi menyelamatkan pasukan Amerika.

Sebuah kalimat yang sangat mengena dilontarkan oleh Wardaddy kepada Norman, "Ideologi penuh kedamaian. Sejarah penuh kekerasan." Kejadian itu membekas di hati Norman. Dalam misi selanjutnya, ia sudah berani menembaki lawan. Ia penuh emosi mengutuk, "Mati kau, Nazi!"

Wardaddy digambarkan tegas, cerdas, dan bertangan dingin. Beberapa kali ia terlihat emosional, tetapi tak ia tunjukkan pada "anak-anaknya.” Sisi kemanusiaan Wardaddy muncul saat menemukan dua perempuan Jerman—Irma dan Emma—yang ketakutan dan bersembunyi di sebuah rumah.

Monster Wardaddy yang semula kasar dan berapi-api, ternyata bisa juga humoris. Ia memberikan telur kepada si perempuan dan memintanya untuk memasak telur yang kemudian mereka makan bersama. Monster Machine pun “melunak” saat bermain piano mengiringi Emma. Ada romansa di sela kecamuk perang.

Fury adalah potret kekejaman perang berikut dampak pasca perang. Membunuh bukan lagi pilihan, melainkan satu-satunya cara untuk bertahan hidup. Namun film ini tak melulu memborbardir penonton dengan kehadiran “monster-monster” keji, melainkan manusia-manusia yang pada hakikatnya dianugerahi sifat baik.