Orisinalitas Film Perang

'Amunisi' David Ayer dalam Menggarap Fury

Vega Probo, CNN Indonesia | Selasa, 21/10/2014 18:20 WIB
'Amunisi' David Ayer dalam Menggarap Fury David Ayer, sutradara dan penulis naskah Fury. (GettyImages/Vince Bucci)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berapa waktu yang dibutuhkan David Ayer untuk menuntaskan naskah film Fury? Dua minggu saja. “Risetnya sendiri sudah sangat lama,” kata sutradara merangkap penulis naskah berusia 46 tahun. “Jadi ya, dua minggu ditambah dua tahun.”

Dua tahun, Ayer bersama tim meriset sejarah dan perang. Naskah Fury pun semakin mumpuni, karena bidang militer tidak asing bagi Ayer. Kedua kakek dan pamannya adalah mantan pejuang. Ayer sendiri pernah berdinas di Angkatan Laut AS selama tiga tahun.
 
“Namun mereka tak pernah menuturkan kisah perang kepada saya,” curhat Ayer di laman Indie Wire. Dari hasil risetnya, Ayer paham, betapa kebrutalan perang sungguh mengerikan: orang-orang saling bunuh untuk bisa bertahan hidup. 

Dari hasil risetnya juga, Ayer menemukan fakta menarik tentang tank. Nyaris belum pernah ada film perang yang menampilkan tank klasik dan mengisahkan peristiwa jelang Perang Dunia II berakhir. Ayer pun memantapkan diri menggarap film perang dengan fokus tank.


“Saya tidak ingin bikin film seperti yang orang lain pernah bikin. Saya tidak ingin meniru apa pun. Saya ingin menampilkan penggalan kehidupan kru tank di Jerman,” kata sineas yang pengalaman membantu menulis naskah film U-571 tentang Perang Dunia II.

Demi menghasilkan gambar indah dengan warna tak biasa, Ayer menggunakan film dan lensa anamorphic yang old school. “Hasilnya sangat khas ‘70-an,” kata Ayer yang mengaku puas dengan bidikan sinematografer Roman Vasyanov yang sangat cinematic dan terkomposisi.
 
Soal keterlibatan Brad Pitt, Ayer mengaku semula tidak mudah. “Begitu membaca naskahnya, Pitt langsung setuju bergabung. Klop, saya ingin bekerja sama dengan dia, sebaliknya pun begitu.” Di mata Ayer, Pitt adalah aktor yang sempurna untuk memerankan karakter Wardaddy.

“Ia melakoni semua perannya, termasuk berkubang di lumpur, kedinginan dan kehujanan—sama seperti pemeran lain. Tidak ada perlakuan khusus bintang,” kata Ayer yang memfavoritkan film perang Apocalypse Now. “Itulah hebatnya dia. Superstar, tapi di sisi lain he’s just a bro.”

Justru yang membuat Ayer ketar-ketir adalah properti “jadul” dari tank sampai piring makan. “Tim produksi pun mengakui, pembuatan model interior tank Fury adalah pekerjaan paling kompleks, karena semua fiturnya harus berfungsi, dari senjata sampai radio transmisi.”

Soal properti piring, yang digunakan dalam adegan makan malam, jumlahnya tak seberapa, tapi pecah melulu. “Terpaksa dilem, mengingat tidak ada cadangan,” kata Ayer yang terlibat di hampir segala aspek, dari memotong rambut pemeran sampai mengecat bodi tank.

Ayer menyimpulkan, pengalamannya menggarap Fury sebagai “mengerikan, berat tapi menyenangkan.” Berat, syuting dilakukan di Inggris selama Desember yang dingin. Sekaligus senang, menyajikan film perang yang tak menyoal menang atau kalah, tetapi bertahan untuk tetap hidup.